SWEET STORY IN “VELOVEIA”
“Aku nggak mau di atur – atur kayak gini. Aku tahu kamu tuh kakak kelas aku, Brave. Tapi bukan berarti kamu tuh berhak untuk ngatur – ngatur aku.”, omel Georgia. Itulah kata – kata yang selalu di ucapkan oleh Georgia kepada Brave, kakak kelasnya sekaligus sahabatnya itu, ketika Brave menegur Georgia.
Georgia adalah seorang siswi kelas 2 SMA. Sedangkan Brave adalah siswa kelas 3 SMA. Persahabatan mereka dimulai beberapa tahun lalu saat Brave pindah dari New York ke sebuah SMP, tempat di mana Georgia bersekolah yang pada saat itu Georgia pun baru kelas 1 SMP. Brave masuk ke sekolah itu dengan tampangnya yang cool. Awalnya dia di idolakan oleh banyak wanita. Karena dia adalah seorang bule blasteran America-Spanyol-Indonesia. Banyak wanita di SMP itu yang tergila – gila padanya. Terutama siswi sekelasnya yaitu kelas 2a.
Namun, semua berubah drastis ketika mereka mengetahui bahwa ternyata Brave tidak tahu bahasa Indonesia. Tidak ada yang mau berteman dengannya karena omongan yang di katakan Brave tidak di mengerti oleh mereka. Mereka hanya mengerti sebagian yang di katakan oleh Brave. Kadang kala, mereka salah mengerti dengan apa yang di katakan oleh Brave. Akan tetapi, Brave sangat beruntung karena ia mempunyai adik kelas yang juga blasteran Amerika-Indonesia yang juga pandai berbahasa Inggris. Dia adalah Georgia. Cewek yang di mata semua siswa di SMP itu paling keren, paling cantik, dan paling perfect (menurut teman-temannya). Akan tetapi, Georgia mempunyai satu kelemahan, yaitu otaknya pas-pasan.
Brave kemudian berteman dengan Georgia. Setiap hari, mereka berdua makan bersama di kantin. Dan ketika istirahat, mereka selalu bercerita tentang kehidupan mereka berdua, tentang kelebihan dan kekurangan mereka berdua. Georgia mengajarkan bahasa Indonesia kepada Brave. Kemudian mereka bersahabat sampai saat ini. Sampai mereka kelas 2 dan 3 SMA.
***
Setiap hari, Brave menjemput Georgia dengan mobil Jaguar-nya untuk kesekolah bersama. Ketika pulang sekolah, Brave dan Georgia selalu pergi ke rumah pohon mereka yang mereka buat dan mereka design khusus untuk mereka berdua. Rumah pohon itu di cat warna hitam dan putih. Hitam adalah warna kesukaan Brave, dan putih adalah warna kesukaan Georgia. Mereka menamai rumah pohon itu Veloveia (di baca Velevia) yang berarti “Brave love Georgia”.
Hari demi hari mereka jalani bersama. Akan tetapi, ada rasa lain yang mulai muncul di hati Georgia. Georgia ternyata mencintai Brave. Akan tetapi, Brave hanya menganggapnya sebagai sahabat. Padahal, Georgia sangat mencintai Brave. Georgia selalu memberikan perhatiannya yang penuh untuk Brave.
Ketika akan ke sekolah, tiba – tiba dada Georgia terasa sakit. “Emm, Brave mungkin kamu saja yang kesekolah.”, kata Georgia.
“Memangnya ada apa denganmu? Apakah kamu sakit?”, Brave balik bertanya kepada Georgia.
“Oh, no problem. Aku hanya kurang enak badan saja. Dadaku terasa agak sakit”, jawab Georgia sambil menahan rasa sakit di dadanya.
“Ya sudah. Kamu istirahat dulu di rumah. Biar aku saja yang kesekolah. Cepat sembuh yah”.
Georgia kemudian masuk ke dalam rumahnya. Sementara itu, Brave berangkat ke sekolah sendirian tanpa Georgia. Karena khawatir akan kesehatan dirinya, Georgia memeriksakan dirinya ke dokter.
“Dok, bagaimana keadaan saya?”, tanya Georgia dengan lemas.
“Anda baik – baik saja. Akan tetapi anda harus meminum obat – obatan yang tertulis di resep yang saya berikan ini”, kata dokter sambil memberikan sebuah resep untuk Georgia.
“Oh, baiklah Dokter. Terima kasih”.
“Nak Georgia, 3 hari lagi jangan lupa kembali ke sini. Saya akan memberikan hasil tes saya terhadap paru – paru kamu”, pintah dokter.
“Oh, baik Dokter. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih, Dokter”.
“Yah, sama – sama.”
Siang itu, Brave dan Georgia pergi ke rumah pohon bersama.
“Brave, kamu tahu nggak. Tadi itu aku ke rumah sakit.”
“Rumah Sakit? Ngapain?”
“Aku pergi memeriksa kesehatanku. Soalnya kan tadi pagi dadaku terasa sakit.”
“Lalu kata dokter apa?”
“Kata dokter aku tidak apa – apa. Tapi aku di berikan resep obat – obatan oleh dokter.”
“Lalu udah di ambil obatnya?”
“Udah.”
“Udah di minum?”
“Udah tadi sepulang dari rumah sakit aku langsung makan dan minum obatnya.”
“Oh, baguslah. Biar kamu itu cepat sembuh. Dan kita bisa jalani persahabatan kita sama – sama lagi.”
“Ia, kamu benar. Oh ia, tadi kata dokter tiga hari lagi aku harus balik ke rumah sakit.”
“Ngapain?”
“Katanya untuk ngambil hasil test dokter terhadap paru – paru aku. Kamu temenin aku, yah?”
“Ia, pasti. Aku pasti nemenin kamu. Kamu kan sahabat tersayang aku. Aku sayang banget sama kamu, Georgia. Heheheh, sebagai sahabat!”
“Ia, aku juga sayang banget sama kamu sebagai sahabat aku.”
“Tapi aku juga sayang banget sama kamu lebih dari sahabat.”, sambung Georgia dalam hati.
3 hari kemudian...
Georgia kembali ke rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan dokter terhadap paru – parunya. Kali ini, Georgia di temani Brave untuk mengambil hasil tes itu. Ketika tiba di rumah sakit, Dokter memberikan hasil tes itu kepada Georgia. Georgia kemudian membuka hasil tes itu.
“Hah? Apa – apaan nih?”, kata Georgia yang kaget melihat hasil test itu.
“Coba aku lihat?”, kata Brave sambil mengambil hasil test itu dari tangan Georgia.
“Aku nggak mau, aku nggak mau.”, teriak Gerogia.
“Hah? Georgia kamu, kamu...”
Ternyata Georgia menderita penyakit astma. Georgia dan Brave pun kaget. Air mata mulai berlinang di pipi Georgia.
“Aku tak percaya ini terjadi padaku. Mengapa semua ini harus terjadi padaku? Apa salahku?”, teriak Georgia. Brave pun memeluk Georgia dengan erat dan menghapus air mata Georgia.
Untuk menghibur Georgia, Brave mengajak Georgia pergi ke rumah pohon Veloveia. Di rumah pohon itu, Georgia menangis. Ia tak kuasa menahan tangis. Kemudian Brave memeluknya sambil menghiburnya.
“Aku tahu apa yang kamu rasakan, George. Aku pun akan merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan bila aku berada di posisimu saat ini. Akan tetapi, kamu tak boleh bersedih. Jalani saja hidup ini.”, hibur Brave.
“Tapi kenapa semuanya ini terjadi padaku? Kenapa harus aku yang sakit astma? Kenapa nggak orang lain saja yang merasakan ini?”, bentak Georgia.
“Aku tahu, aku tahu. Aku pun dulu pernah merasakan hal yang sama sepertimu ketika tak ada yang mau berteman denganku. Namun aku sangat berterima kasih kepadamu, George. Karena kamu datang di saat yang tepat. Kamu datang di saat aku tak mempunyai teman”, kata Brave sambil memeluk erat Georgia.
“Oleh sebab itu, aku ingin membantumu saat ini. Aku ingin meringankan kesedihanmu dengan menghiburmu setiap saat. Aku tak akan meninggalkan kamu. Aku akan ada untukmu setiap waktu.”, sambung Brave.
“Makasih Brave. Kamu memang sahabatku yang paling baik.”, kata Georgia sambil tersenyum kepada Brave.
2 Tahun Kemudian…
Brave sudah setahun kuliah, sementara Georgia baru saja lulus SMA. Mereka berdua kemudian janjian untuk bertemu di rumah pohon Veloveia. Kali ini, Brave tiba lebih awal di Veloveia. Tak lama kemudian Georgia pun datang.
“Ada apa kamu manggil aku ke sini?”, tanya Georgia.
“Ada yang ingin aku katakan sama kamu.”, jawab Brave dengan muka yang sedikit murung.
“Ada apa, Brave? Apa yang ingin kamu katakan padaku?”, tanya Georgia penasaran.
“Aku akan ke Spanyol. Aku akan ke Barcelona, ke rumah nenekku sekaligus menjadi pembalap di sana. Karena pembalap adalah cita-citaku sejak kecil.”, jawab Brave.
“Aaaa… apa ? Kamu akan pergi? Berarti kamu akan ninggalin aku disini sendiri?”, sambung Georgia.
“Aku nggak ninggalin kamu. Aku..aku hanya….”.
“Aku nggak mau jauh dari kamu. Aku pasti bakal terpenjara dengan sepiku disini kalo kamu nggak ada disini denganku. Aku mohon jangan pergi.”, potong Georgia sambil menangis.
“Maafkan aku, George. Aku nggak bisa. Aku harus ke Barcelona. Aku ingin menjadi pembalap Spanyol dan juga menengok nenekku. Dan kamu nggak bisa melarang aku!”, bentak Brave. Brave kemudian pergi.
Namun Georgia memeluknya dari belakang dan berkata, “Aku cinta kamu. Aku sayang sama kamu. Aku nggak mau lagi memendam perasaan ini lama – lama. Kamu nggak boleh pergi. Kamu lupa sama janji kamu ke aku 2 tahun lalu di Veloveia? Kamu janji ke aku bahwa kamu nggak akan ninggalin aku. Kamu janji ke aku bahwa kamu akan selalu ada untukku setiap waktu.”, kata Georgia sambil menangis dan memeluk Brave dari belakang.
“Kaa…kaaa…kamu cinta sama aku? Tapi kita itu bersahabat, George. Tidak lebih dari itu. Dan tidak akan pernah lebih dari itu!”, bentak Brave sambil melepaskan tangan Georgia yang memeluknya.
“Tapi aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku…”,
“Sekarang aku harus pergi. Kamu nggak usah sedih. Hapus saja air matamu itu.”, potong Brave.
Brave kemudian memberikan sebuah kaset kepada Georgia. Dan kemudian ia pergi. Setelah kepergiannya itu, Brave sudah tak terlihat lagi. Ia telah pergi ke Barcelona, Spanyol.
Sebenarnya Brave juga mempunyai perasaan yang sama kepada Georgia. Namun ia tidak mau mengatakannya kepada Georgia karena ia tidak mau Georgia tambah sedih, karena orang yang sangat ia sayangi yang juga menyayanginya tega pergi meninggalkannya.
Georgia kemudian berlari pulang kerumahnya dan memutar kaset yang di berikan oleh Brave sebelum ia pergi. Ternyata di dalam kaset itu, ada video Brave dan Georgia sedang bernyanyi sebuah lagu. Namun awal lagu itu tidak lengkap karena tidak sempat di rekam. Mereka bernyanyi secara berbalas – balasan.
Brave:
Tetes air mata basahi pipimu di saat kita kan berpisah
Terucapkan janji padamu kasihku takkan kulupakan dirimu
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku, aku akan datang….
Georgia dan Brave:
Mungkinkah kita kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan ku peluk erat bayangmu tuk melepaskan semua kerinduanku
Georgia:
Kau ku sayang selalu ku damba selamanya di dalam hatiku
Kemudian di akhir video itu terekam suara yaitu, “Aku sayang Brave!”, “Aku juga sayang Georgia!”
Setahun kemudian….
Brave yang berada di Barcelona sangat rindu kepada Georgia. Hari – harinya di sana hanya membalap dan membalap. Karena merasa rindu kepada Georgia, Brave memutuskan untuk pulang ke Indonesia, untuk bertemu dengan Georgia. Brave ternyata masih mencintai Georgia.
Ketika Brave tiba di Indonesia, ia langsung pergi ke rumah Georgia. Namun anehnya, ia tidak mendapati Georgia di rumahnya. Rumah Georgia terlihat sepi. Yang ada hanya satpam yang menjaga dan mengawasi rumah itu.
“Pak, saya boleh bertanya? Kenapa rumah ini terlihat sepi dan kosong?”, tanya Brave kepada satpam itu.
“Maaf tuan. Rumah ini memang sudah kosong sejak 4 bulan yang lalu.”, jawab satpam itu.
“Memangnya kenapa di kosongkan, Pak?”, Brave bertanya balik kepada Satpam rumah itu.
“Oh, pemilik rumah ini pindah karena kejadian 4 bulan yang lalu.”, sambung Satpam.
“Kejadian 4 bulan lalu? Kejadian apa itu Pak?”, Brave penasaran.
“Ia tuan, kejadian 4 bulan yang lalu. Anak perempuan pemilik rumah ini meninggal karena serangan astma”, jawab satpam.
“Hah? Anak perempuan? Serangan astma? Kalau boleh tahu, siapa nama anak itu?”, Brave tambah penasaran.
“Oh. Kalau tidak salah namanya Georgia. kasihan anak itu. Dia di temukan tergeletak di rumah pohon di dekat taman sudah tidak sadarkan diri. Ternyata dia sudah meninggal.”, penjelasan Satpam kepada Brave.
Mendengar semua itu, Brave langsung berlari menuju rumah pohon mereka, Veloveia.
Sesampainya di Veloveia, Brave langsung naik ke atas, ke dalam rumah. Kemudian ia melihat ada tulisan tertulis dengan besar di dinding rumah pohon itu. “AKU CINTA KAMU BRAVE! Aku akan tetap nunggu kamu di sini sampai ajal datang menjemputku. AKU SAYANG KAMU!”. Kemudian Brave mendapatkan sebuah surat di atas meja yang berisi:
Dear Brave,
Brave, aku cinta kamu. Aku sayang kamu. Tapi kamu melarang aku untuk mencintaimu. Karena menurut kamu kita hanya boleh bersahabat. Nggak boleh lebih dari itu. Aku tahu aku salah. Oleh sebab itu aku minta maaf. Brave, jika pada saat kamu membaca surat ini, aku udah nggak ada, aku ingin nitipin cintaku padamu, yah. Thanks yah, Brave. Makasih kamu udah jadi sahabat aku. Walaupun nggak lebih dari itu. Aku tetap sayang kamu.
Salam Sayang,
Georgia
***
Brave sangat menyesal karena ia belum sempat mengatakan pada Georgia bahwa dia juga mencintai Georgia.
Kemudian Brave pergi ke rumah Alice, sahabatnya Georgia. Brave berharap akan mendapatkan keterangan tentang kematiannya Georgia.
“Lice, Georgia pernah curhat atau cerita sesuatu tentang aku nggak?”, tanya Brave dengan sedikit logat bule-nya.
“Pernah. Malahan dia cerita tentang kamu ke aku setiap hari.”
“Kenapa bisa setiap hari?”
“Ya ia. Kan tiap pulang sekolah dia selalu datang ke rumahku. Dan selalu yang dia bicarakan hanyalah kamu.”
“Tentang aku? Selalu tentang aku? Apa katanya?”
“Katanya dia sayang banget sama kamu, tapi kamu nggak pernah menghargai perasaan dia ke kamu, Brave. Kamu melarang dia untuk mencintai kamu, padahal dia itu udah sayang banget sama kamu.”
“Aku juga sebenarnya sayang banget sama Georgia.”
“Kamu juga suka dan sayang sama Georgia? Kenapa kamu nggak bilang ke dia, Brave?”
“Aku...aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Aku takut nantinya hatinya Georgia tambah sakit.”
“Tambah sakit? Malahan kalo kamu jujur dengan perasaan kamu ke Georgia, dia akan lebih senang. Kenapa kamu nggak jujur tentang perasaan kamu ke Georgia sebelum kamu pergi ke Spanyol?”
“Ia, aku tahu. Tapi situasinya beda, Lice. Georgia jujur tentang perasaannya waktu aku akan ke Spanyol. Aku ingin mengatakan hal yang sama tentang perasaanku terhadap Georgia saat itu juga. Tapi...”
“Tapi apa? Kalo kamu jujur sejak awal, pasti semuanya nggak bakalan kayak gini. Bego luh. Payah. Kenapa sih?”
“Aku cuman nggak mau nantinya Georgia berpikir bahwa orang yang menyayanginya tegah meninggalkan dia saat orang itu tahu bahwa Georgia mencintainya.”
“Oh, gitu yah? Maaf ya, Brave. Aku nggak tahu situasinya kayak apa. Maaf yah?
“Lalu, emangnya Georgia meninggal karena apa? Astmanya kambuh?”
“Ia, astmanya kambuh. Tapi pasti nggak bakalan kambuh kalo kamu nggak pergi ke Spanyol!”
“Maksud kamu?”
“Semenjak kepergian kamu ke Spanyol, Georgia jadi murung terus setia hari dan jarang tersenyum. Seminggu setelah kamu pergi, dia juga nyusul kamu ke Spanyol. Tapi, yang dia dapatkan hanyalah...”
“Hanya apa? Jangan buat aku penasaran, Lice.”
“Georgia lihat kamu lagi pelukan sama seorang wanita. Saat itu juga, dia langsung memutuskan untuk mengambil pesawat untuk balik ke Jakarta secepat mungkin.”
“Seorang wanita?”
“Ia! Seorang wanita. Siapa wanita itu?”
“Wanita? Oh... Ia aku ingat. Dia itu kakak aku. Kakak aku di Spanyol. Dia baru saja menikah sebulan yang lalu, dan sekarang lagi honeymoon di Miami.”
“Melihat hal itu, hati Georgia tambah sakit. Dan dia sudah nggak pernah tersenyum lagi. Selepas kamu pergi, aku udah nggak pernah lihat dia senyum lagi. Puas loh?”
“Kenapa jadi aku yang salah?”
“Seneng kamu udah capai cita – cita kamu dengan mengorbankan nyawa orang yang sangat mencintai kamu yang jelas – jelas juga kamu cintai? Bahagia yah?”
“Aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi semuanya terjadi begitu saja. Kamu mengerti kan?”
“Aku ngerti. Tapi aku masih nggak rela kamu korbankan perasaan dan nyawa sahabat aku demi balapan kamu itu. Nggak rela, tahu nggak!”
“Aku minta maaf.”
“Aku udah maafin kamu.”
“Makasih. Tapi...”
“Tapi apa?”
“Apa mungkin Georgia juga udah maafin aku?”
“Nggak tahu. Tapi sebelum dia pergi, dia sempat bilang kalo dia bakal bawa semua rasa sakitnya bersamanya. Dan dia juga bilang kalo dia sayang banget sama kamu. Katanya, biarlah sakit hati yang dia bawa, dan rasa cintanya yang dia tinggalkan untuk kamu, Brave.”
“Bisa nggak kamu antar aku ke makamnya Georgia?”
“Bisa, bisa.”
***
“Gerogia, aku sayang banget sama kamu. Aku akan jaga cinta kita untuk kita berdua. Aku nggak bakalan lupain kamu. Kalaupun aku nyusul kamu nanti, yang bakalan aku cari di sana itu kamu, Georgia.
Maafin aku atas semuanya yang terjadi yang udah mengorbankan perasaan kamu, bahkan nyawa kamu. Aku sayang kamu.
Aku akan jaga cinta kita berdua. Cinta kamu dan cinta aku. Demi kamu, aku, dan VELOVEIA”
Selasa, 12 April 2011
Cinta Yang Tertunda (created by Severian Sualang)
CINTA YANG TERTUNDA
Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bernama Dante dan ia mempunyai seorang sahabat perempuan yang sangat baik yang bernama Vivi. Kemudian pada suatu hari mereka berdua bermain bersama di sebuah taman bermain yang berada di dekat rumah mereka berdua lalu Dante berkata kepada Vivi “Vivi apa kamu perna merasakan cinta?”, kemudian Vivi terdiam saat mendengar itu. Dan pada saat itu mereka-pun kembali kerumah mereka karena telah dipanggil oleh orang tua mereka. 3 tahun telah berlalu dan mereka akan berpisah kakrena Dante akan masuk SD yang berada didekat rumahnya, dan Vivi akan berpinda rumah karena ayahnya kembali ditugaskan ke tempat lain. Kemudian disaat-saat terakhir sebelum Vivi pergi Dante berkata “semoga kita bisa bertemu lagi walaupun di tempat yang lain” kemudian Vivi menjawab “kalau begitu kita telah berjanji jika kita akan bertemu lagi”.
Kemudian janji mereka berdua saling ditepati yaitu mereka berdua bertemu kembali di SMP, saat itu mereka beredua berada dalam kelas yang berbeda. Dan setelah beberapa bulan telah berlalu Dante menanyakan kembali kepada Vivi “Vivi apa kamu perna merasakan cinta?”, dan pada akhirnya Vivi menjawabnya katanya “Ya, tentusaja”. Ternyata pada saat itu Vivi telah mempunyai persaan kepada Dante.
Lalu suatu hari sekolah mereka mengadakan study tour keluar daerah, dam pada saat iti Dante dan Vivi-pun ikut study tour itu. Pada study tour itulah mulai terlihat betapa sukanya Vivi kepada Dante, kemudian mereka telah menghabiskan 3 hari disana dan akhirnya sehari sebeum mereka pulang kembali, Dante mulai tahu bahwa Vivi menyukainya dan pada saat itu Dante menganggap itu biasa saja karena saat itu Dante tidak mempunyai perasaan apapun pada Vivi. Lalu teman-temannya memanggilnya untuk bertemu dengan mereka kemudian mereka berbertanya ke pada Dante beberapa pertanyaan kepadanya, salah satu temannya bertanya “apakan kamu menyukai Vivi?”, dan Dante terdiam dan mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan pertanyaan selanjutnya. Lalu temannya menanyakan lagi “apakah kamu mempunyai perasaat ingin jadian dengan Vivi?”, dan Dante-pun terdiam lagi dan langsung pergi meninggalkan teman-temannya.
Kemudian keesokan harinya Dante dan teman-temannya akan segara kembali ke tempat mereka. Dan setelah sampainya mereka disana Dante teringat kembali kata-kata yang dikatakan oleh teman-temannya tentang Vivi yang menyukainya dan saat Dante ingin mengambil bawaannya, bawaannya itu hampir terlawatkannya olehnya karena memikirkan apayang telah ditanyakan oleh teman-temannya dan akhirnya Dante mengambil bawaannya dan segera bergegas untuk pulang kerumahnya. Dan pada keesokan harinya saat belajar di sekolah Dante terus saja teringat dengan apa yang telah dikatakan oleh teman-temannya kepadanya.
Seminggu kemudian Dante mulai sadar tentang akan apa yang telah dikatakan oleh teman-temannya tentang perasaan Vivi kepadanya, lalu 3 hari kemudian Dante meminta nomor Vivi dari teman-temannya untuk di telophone dan setelah pulang sekolah Dante menelpon kepada Vivi dan Dante bertanya kepada Vivi ” Vivi apakah kamu mau menjadi pacar aku?” kemudian Vivi terdiam untuk sementara dan pada akhirnya Vivi menjawab pertanyaan Dante “Bagaimana ya...... iya deh” kemudian Dante langsung terdiam dan menjadi senang sendiri. Dan kemudian mereka berdua membuat suatu janji yang mungkin akan saling ditepati mereka dan janji mereka yaitu mereka akan tidak saling memutuskan satu samalain. Kemudian keesokan harinya, saat pulang sekolah “Teng-teng-teng” bel pulang pun berbunyi dan saat pulang Dante mengajak Vivi untuk pulang bersama-sama dengannya “Vivi kamu mau ngak pulang bareng aku”dan Vivi-pun menerima ajakannya tersebut “ya....... boleh-boleh saja”dan akhirnya mereka berduapun pulang bersama-sama ke rumah mereka.
Kemudian pada keesokan harinya, Vivi meminjam Hand Phone milik Dante kemudian melihat buku telephone milik Dante dan saat iyu Vivi melihat nomor phone booknyanya yang hanya ditulis Friend Vivi sajah kemudian Vivi langsung merasa kecewa dengan sikap Dante yang telah menulis Vivi di buku telephonenya Friend Vivi. Lalu Vivi langsung bergegas untuk pulang kerumahnya dan saat itu Dante-pun langsung mengejarnya dan langsung meminta maaf kepadanya dan ia tidak akan melakukan iru lagi dan akan mengganti nama phone book Vivi. Setelah itu, beberapa hari kemudian Dante mengajak Vivi untuk pergi ke rumah temannya Dante “Vivi kamu mau ngak ikut ngerjain tugas sama-sama di rumah teman aku? ” lalu Vivi menjawab “boleh sih...... boleh-boleh aja” dan mereka berdua bersama teman-temannya mengerjakan tugas mereka secara bersama-sama.
Setelah itu hubungan mereka berdua terus dan terus berlanjut, dan Dante bertanya sesuatu kepada Vivi “Vivi bagaimana kalau kita berdua tidak saling memanggil nama sendiri tapi...... saling memanggil dengan kata sayang?” kemudian Vivi menjawabnya “kalau kamunya mau ya.... sih aku mau-mau aja”, dan mulai saat itulah mereka sudah tidak saling memanggil nama satu sama lain tapi memanggil sayang. Dan suatu hari Dante mengajak Vivi lagi untuk pergi bersama dengan ke-4 temannya “Sayang kamu maungak ikut jaln-jalan sama aku” lalu Vivi menjawab “Boleh saja”. Kemudian mereka langsung pergi, dan setelah sampainya Dante dan ke-3 temannya ia tidak melihat Vivi dan temannya lalu setelah mereka akan pulang Vivi datang bersama temannya, akhirnya mereka bercerita bersama dan setelah beberapa lama merekanpun pulang dan saat ingin pulang mereka tidak mendapatkan kendaraan jadi terpaksa mereka pulangn dengan berjalan kaki, saat di perjalanan mereka saling bercanda satu samalain dan saat berada diperjalanan Dante dan Vivi mulai memperlambat langka mereka dan setelah dilihat mereka telah bepegangan tangan dan saat mereka berpegangan tangan teman-teman mereka telah meninggalkan mereka walaupun tidak terlalu jauh pasti suda tidak enak rasanya dengan mereka jika tidak dikejar, lalu Dante dan Vivi mengejar teman-teman mereka karena kelihatannya masih belum ada kendaraan mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan dengan kaki seperti biasa saat diperjalanan mereka terus saja bercanda dan setelah hampir mendekati jalan raya teman Vivi melanjutkan perjalanannya sendirian dan Vivi ikut bersama temannya itu dan Dante langsung mengejarnya dan Vivipun pulang bersama-sama dengan temannya itu.
Beberapa hari kemudian Dante pergi ke rumah temannya dan tidak lama kemudian setelah ia sampai di rumah temannya ia mendapatkan telpon dari Vivi “Sayang kamu ada di mana sekarang?” Dante menjawab “Di rumah teman aku” Vivi bertannya lagi “ayo... datang yuk ke kolam sama-sama?” dan Dante teriam sementara lalu Vivi berberkata lagi “kalau sayng nggak mau ke kolam aku juga nggak mau ke kolam!” lalu Dante menjawab “ia deh aku ikuut sayang pergi sama-sama ke kolam”. Dan setelah itu Dante dan ke-2 temannya langsung bergegas untuk pergi ke kolam, sesampainya dikolam mereka langsung melihat teman-teman mereka berenang bersama-sama dan pada saat itu Dante tidak membawa baju gantinya jadi dia tidak ikut mandi bersama dengan teman-temannya. Malam pun telah tiba dan waktunya untuk pulang, kemudian mereka yang telah mandi membersihkan diri mereka lalu mengganti baju mereka. Kemudian Vivi dan teman-temanya telah selesai mengganti baju mereka Dante, Vivi, dan teman-temannya kembali kerumah dan saat perjalanan kembali ke rumah Dante dan Vivi kembali berjalan dengan langka kaki yang mulai melambat dan setelah dilihat oleh teman-teman mereka, mereka ber dua telah berpegangan tangan di depan teman-teman mereka dan mereka menemukan kendaraan mereka untuk pulang dan mereka pun pulang dengan selamt. Lalu Vivi pun mengajak lagi Dante untuk pergi ke kolam bersama-sama lagi tapi Vivi ingin Dante membawa baju renangnya, dan baju ganti sehabis renang kare Vivi ingin mereka berenang bersama-sama dengan teman-teman mereka, kembali terjadi seperti pertama kali ke kolam Vivi dan Dante mulai memperlambat langka mereka dan setelah dilihat mereka telah berpegangan tangan lagi dan waktu mereka ingin pulang kerumah mereka saat di kendaraan telah terjadi konflik kecil antara Vivi dan Dante karena Dante tidak mau duduk bersama dengan Vivi tapi teman-temannya memaksanya untuk duduk di depan bersama-sama dengan Vivi, dan pada akhirnya Dante pun mengalah dan duduk di depan bersama-sama dengan Vivi dan pulang bersama-sama dan akhirnuya tiba di rumah mereka masing-masing
Kemudian libur pun telah tiba dan Dante berpikir bagaimana yang akan terjadi jika ia dan Vivi tidak lagi bertemu karena liburan telah tiba, dan pada saat-saat akan segera menjalakan liburan mereka masing-masing mereka datang lagi ke sekolah untuk terakhir kalinya bertemu sebelum liburan, dan saat terakhir itu di pergunakan oleh Vivi dan Dante dengan sebaik-baik mungkin yaitu dengan berbicara bersama sebelum liburan dimulai. Akhirnya liburan pun telah tiba mereka mulai menjalani hubungan mereka di liburan panjang ini dengan saling menelpon satu samalain dan dengan telepon itulah mereka ber dua berkomunikasi saat liburan dan akhirnya 3 minggu pun telah berlalu dan akhirnya mereka berdua pun bisa bertemu kembali seperti biasanya yaitu bertemu di sekolah dan pada keesokan harinya teman-teman Dante seperti merahasiakan sesuatu dari nya, lalu Dante menjadi penasaran dan ingin mengetahui apa yang telah dirahasiakan oleh teman-temannya kepadanya dan Dante terus menanyakan apa yang telah disembunyikan mereka kepadanya “apa sih yang disembunyiin oleh kalian dari aku?”dan pada akhirnya mereka membongkarnya kepada Dante yang sudah sangat penasaran dan ternyata yang disemembunyikan oleh teman-teman Dante oleh nya adalah kalau Vivi telah jadian dengan orang lain selain dirinya ’’begini Dante sebenarnya Vivi telah berpacaran dengan orang lain selain kamu!”, kemudian Dante langsung terdian setelah mendengan nya dan Dante langsung bertanya kepada teman-teman nya jika yang dikatakan mereka itu tidak benar “yang dikatakan kalian itu ngak benak kan?” lalu teman-temannya menjawabnya “itu memang benar Dante...... kamu kan yang menyuruh kami untuk mengatakannya jadi kamu harus menerimanya”.
Lalu keesokan harinya karena Dante tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh teman-temannya ia menanyakan kepada Vivi kalau di telah berpacaran dengan orang lain selain Dante “Sayang apakah kamu benar-benar sudah punya pacar lain selain aku?” lalu Vivi terdiam sementara dan berkata “siapa yang mengatakan itu ke sayang?” dan Dante kembali bertanya “apakah kamu memang sudah mempunyai pacar lain selain aku?” akhirnya pun Vivi mengakuinya jika dia memang sudah mempunyai “sayang sebenarnay itu benar kalau aku punya pacar selain kamu!” dan pada akhirnya Dante sadar kalau itu memang benar-benar terjadi jika Vivi mempunyai pacar lain selain diri nya sendiri.
Kemudian karena Dante telah mengetahui jika Vivi telah mempunyai pacar lain selain Dante ia meminta maaf kepada Dante atas kesalahannya yang telah diperbuatnya “sayang maafin aku ya...... karena aku sayang jadi seperti ini” kemudian Dante menjawabnya “iya....... ngak apa-apa nanti putusian ajah dia ya?” dan Vivi menjawab “iya.... nanti aku putusin aja dia dan dilang sama dia kalau aku udah punya sayang”. Lalu Dante bertanya kembali ke Vivi “apa sayang udah putusin dia?” dan jawab Vivi “udah sayang, tapi dia ngak mau di putusin sama aku jadi sekarang aku harus bimana ni?” Dante pun teriam dan memutus kan untuk membiarkannya saja. Dan hubungan mereka berdua terus berlanjut terus-menerus dan hubungan mereka mulai terlihat memburuk dengan adanya orang ketiga di antara mereka berdua. Dante mulai sadar dengan mulai pudarnya raaa sayang dan cinta di antara mereka berdua jadi untuk mengatasi-nya Dante selalu mengirimkan pesan singkat yang berisikan kata-kata cinta dan kata-kata manis untuk Vivi.
Dan pada akhirnya hubungan mereka berdua runtuh saat Vivi memutuskan untuk putus dengan Dante kemudian Dante tidak ingin hal itu terjadi jadi Dante hanya mendiamkan dirinya untuk menghindari hal itu terjadi, kemudian kejadian itu kembali terulang dan akhirnya Dante telah merasa kasihan kepada Vivi yang mungkin sudah lelah atau tudak ingin bersama-sama dengan Dante lagi. Dan pada akhirnya mereka berdua saling tidak menepati janji-janji mereka untuk tidak saling memutuskan karena mereka telah saling berpisah satu samalain. Akhirnya mulai saat itu Dante pun mulai menjalani seluruh kegiatan di sekolah dan dirumahnya dengan sendirian yang biasanya ditemani oleh kekasih hatinya yang sekara mungkin dengan orang lain yang mungkin lebih baik dari diri nya saat ini, dan mulai saat itu juga dan detik itu juga Dante dan Vivi sudah tidak berhubungan pacaran lagi. Kemudian Dante melakukan kegiatan belajar sekolah dan ditempat lain mulai terlihat lain entah kenapa mungkinkah efeksamping dari hancurnya hubungan nya dengan Vivi, lalu walaupun dengan terpaksa Dante memang harus melupakan kenangan-kenangan dengan Vivi tapi menurutnya untuk melupakan itu 1.000 tahun pun tidak cukup untuk melupakannya karena itu memang sudah tersimpan di memorinya yang paling dalam, entah bagaiman yang harus dilakukan oleh Dante untuk melupakan kenangannya bersama dengan Vivi dan 2 minggu kemudian Dante merasakan bahwa ia masih ingin bersama-sama dengan Vivi tapi perasaannya itu terhalangi oleh pikap kerasnya Dante yang ingin melupakan segala kenangan dengan Vivi.
Dan akhirnya setelah Dante menunggu dengan sabar, akhirnya Vivi kembali sendirian yang terjadi tepatnya setahun kemudian sejak Dante diputuskan oleh Vivi dan dengan keberanian dan rasa cinta dari Dante untuk sekalilagi Dante bertanya kepada Vivi untuk menjadi pacarnya lagi untuk kedua kalinya, dan Vivi pun menerima cinta dari Dante. Akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih yang sangat bahagia. Merekapun menikah setelah 2 tahun lamanya, merekapun mendapatkan 2 orang anak laki-laki dan perempuan yang Cantik dan ganteng. Mereka hidup bahagia SELAMANYA.
“TAMAT”
Tema = Persahabatan yang mennjadi Percintaan
Tokoh-tokoh
- Dante
- Vivi
- Teman-teman
= pacar Vivi, dan seorang yang sabar, baik hati, dan tidak sombong
= pacar Dante, dan juga seorang yang baik, dan tidak sombong
= teman-teman dari Dante dan Vivi, baik
Alur Cerita Maju
Ammanat Kita tidak bisa menduakan pacar kita
Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bernama Dante dan ia mempunyai seorang sahabat perempuan yang sangat baik yang bernama Vivi. Kemudian pada suatu hari mereka berdua bermain bersama di sebuah taman bermain yang berada di dekat rumah mereka berdua lalu Dante berkata kepada Vivi “Vivi apa kamu perna merasakan cinta?”, kemudian Vivi terdiam saat mendengar itu. Dan pada saat itu mereka-pun kembali kerumah mereka karena telah dipanggil oleh orang tua mereka. 3 tahun telah berlalu dan mereka akan berpisah kakrena Dante akan masuk SD yang berada didekat rumahnya, dan Vivi akan berpinda rumah karena ayahnya kembali ditugaskan ke tempat lain. Kemudian disaat-saat terakhir sebelum Vivi pergi Dante berkata “semoga kita bisa bertemu lagi walaupun di tempat yang lain” kemudian Vivi menjawab “kalau begitu kita telah berjanji jika kita akan bertemu lagi”.
Kemudian janji mereka berdua saling ditepati yaitu mereka berdua bertemu kembali di SMP, saat itu mereka beredua berada dalam kelas yang berbeda. Dan setelah beberapa bulan telah berlalu Dante menanyakan kembali kepada Vivi “Vivi apa kamu perna merasakan cinta?”, dan pada akhirnya Vivi menjawabnya katanya “Ya, tentusaja”. Ternyata pada saat itu Vivi telah mempunyai persaan kepada Dante.
Lalu suatu hari sekolah mereka mengadakan study tour keluar daerah, dam pada saat iti Dante dan Vivi-pun ikut study tour itu. Pada study tour itulah mulai terlihat betapa sukanya Vivi kepada Dante, kemudian mereka telah menghabiskan 3 hari disana dan akhirnya sehari sebeum mereka pulang kembali, Dante mulai tahu bahwa Vivi menyukainya dan pada saat itu Dante menganggap itu biasa saja karena saat itu Dante tidak mempunyai perasaan apapun pada Vivi. Lalu teman-temannya memanggilnya untuk bertemu dengan mereka kemudian mereka berbertanya ke pada Dante beberapa pertanyaan kepadanya, salah satu temannya bertanya “apakan kamu menyukai Vivi?”, dan Dante terdiam dan mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan pertanyaan selanjutnya. Lalu temannya menanyakan lagi “apakah kamu mempunyai perasaat ingin jadian dengan Vivi?”, dan Dante-pun terdiam lagi dan langsung pergi meninggalkan teman-temannya.
Kemudian keesokan harinya Dante dan teman-temannya akan segara kembali ke tempat mereka. Dan setelah sampainya mereka disana Dante teringat kembali kata-kata yang dikatakan oleh teman-temannya tentang Vivi yang menyukainya dan saat Dante ingin mengambil bawaannya, bawaannya itu hampir terlawatkannya olehnya karena memikirkan apayang telah ditanyakan oleh teman-temannya dan akhirnya Dante mengambil bawaannya dan segera bergegas untuk pulang kerumahnya. Dan pada keesokan harinya saat belajar di sekolah Dante terus saja teringat dengan apa yang telah dikatakan oleh teman-temannya kepadanya.
Seminggu kemudian Dante mulai sadar tentang akan apa yang telah dikatakan oleh teman-temannya tentang perasaan Vivi kepadanya, lalu 3 hari kemudian Dante meminta nomor Vivi dari teman-temannya untuk di telophone dan setelah pulang sekolah Dante menelpon kepada Vivi dan Dante bertanya kepada Vivi ” Vivi apakah kamu mau menjadi pacar aku?” kemudian Vivi terdiam untuk sementara dan pada akhirnya Vivi menjawab pertanyaan Dante “Bagaimana ya...... iya deh” kemudian Dante langsung terdiam dan menjadi senang sendiri. Dan kemudian mereka berdua membuat suatu janji yang mungkin akan saling ditepati mereka dan janji mereka yaitu mereka akan tidak saling memutuskan satu samalain. Kemudian keesokan harinya, saat pulang sekolah “Teng-teng-teng” bel pulang pun berbunyi dan saat pulang Dante mengajak Vivi untuk pulang bersama-sama dengannya “Vivi kamu mau ngak pulang bareng aku”dan Vivi-pun menerima ajakannya tersebut “ya....... boleh-boleh saja”dan akhirnya mereka berduapun pulang bersama-sama ke rumah mereka.
Kemudian pada keesokan harinya, Vivi meminjam Hand Phone milik Dante kemudian melihat buku telephone milik Dante dan saat iyu Vivi melihat nomor phone booknyanya yang hanya ditulis Friend Vivi sajah kemudian Vivi langsung merasa kecewa dengan sikap Dante yang telah menulis Vivi di buku telephonenya Friend Vivi. Lalu Vivi langsung bergegas untuk pulang kerumahnya dan saat itu Dante-pun langsung mengejarnya dan langsung meminta maaf kepadanya dan ia tidak akan melakukan iru lagi dan akan mengganti nama phone book Vivi. Setelah itu, beberapa hari kemudian Dante mengajak Vivi untuk pergi ke rumah temannya Dante “Vivi kamu mau ngak ikut ngerjain tugas sama-sama di rumah teman aku? ” lalu Vivi menjawab “boleh sih...... boleh-boleh aja” dan mereka berdua bersama teman-temannya mengerjakan tugas mereka secara bersama-sama.
Setelah itu hubungan mereka berdua terus dan terus berlanjut, dan Dante bertanya sesuatu kepada Vivi “Vivi bagaimana kalau kita berdua tidak saling memanggil nama sendiri tapi...... saling memanggil dengan kata sayang?” kemudian Vivi menjawabnya “kalau kamunya mau ya.... sih aku mau-mau aja”, dan mulai saat itulah mereka sudah tidak saling memanggil nama satu sama lain tapi memanggil sayang. Dan suatu hari Dante mengajak Vivi lagi untuk pergi bersama dengan ke-4 temannya “Sayang kamu maungak ikut jaln-jalan sama aku” lalu Vivi menjawab “Boleh saja”. Kemudian mereka langsung pergi, dan setelah sampainya Dante dan ke-3 temannya ia tidak melihat Vivi dan temannya lalu setelah mereka akan pulang Vivi datang bersama temannya, akhirnya mereka bercerita bersama dan setelah beberapa lama merekanpun pulang dan saat ingin pulang mereka tidak mendapatkan kendaraan jadi terpaksa mereka pulangn dengan berjalan kaki, saat di perjalanan mereka saling bercanda satu samalain dan saat berada diperjalanan Dante dan Vivi mulai memperlambat langka mereka dan setelah dilihat mereka telah bepegangan tangan dan saat mereka berpegangan tangan teman-teman mereka telah meninggalkan mereka walaupun tidak terlalu jauh pasti suda tidak enak rasanya dengan mereka jika tidak dikejar, lalu Dante dan Vivi mengejar teman-teman mereka karena kelihatannya masih belum ada kendaraan mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan dengan kaki seperti biasa saat diperjalanan mereka terus saja bercanda dan setelah hampir mendekati jalan raya teman Vivi melanjutkan perjalanannya sendirian dan Vivi ikut bersama temannya itu dan Dante langsung mengejarnya dan Vivipun pulang bersama-sama dengan temannya itu.
Beberapa hari kemudian Dante pergi ke rumah temannya dan tidak lama kemudian setelah ia sampai di rumah temannya ia mendapatkan telpon dari Vivi “Sayang kamu ada di mana sekarang?” Dante menjawab “Di rumah teman aku” Vivi bertannya lagi “ayo... datang yuk ke kolam sama-sama?” dan Dante teriam sementara lalu Vivi berberkata lagi “kalau sayng nggak mau ke kolam aku juga nggak mau ke kolam!” lalu Dante menjawab “ia deh aku ikuut sayang pergi sama-sama ke kolam”. Dan setelah itu Dante dan ke-2 temannya langsung bergegas untuk pergi ke kolam, sesampainya dikolam mereka langsung melihat teman-teman mereka berenang bersama-sama dan pada saat itu Dante tidak membawa baju gantinya jadi dia tidak ikut mandi bersama dengan teman-temannya. Malam pun telah tiba dan waktunya untuk pulang, kemudian mereka yang telah mandi membersihkan diri mereka lalu mengganti baju mereka. Kemudian Vivi dan teman-temanya telah selesai mengganti baju mereka Dante, Vivi, dan teman-temannya kembali kerumah dan saat perjalanan kembali ke rumah Dante dan Vivi kembali berjalan dengan langka kaki yang mulai melambat dan setelah dilihat oleh teman-teman mereka, mereka ber dua telah berpegangan tangan di depan teman-teman mereka dan mereka menemukan kendaraan mereka untuk pulang dan mereka pun pulang dengan selamt. Lalu Vivi pun mengajak lagi Dante untuk pergi ke kolam bersama-sama lagi tapi Vivi ingin Dante membawa baju renangnya, dan baju ganti sehabis renang kare Vivi ingin mereka berenang bersama-sama dengan teman-teman mereka, kembali terjadi seperti pertama kali ke kolam Vivi dan Dante mulai memperlambat langka mereka dan setelah dilihat mereka telah berpegangan tangan lagi dan waktu mereka ingin pulang kerumah mereka saat di kendaraan telah terjadi konflik kecil antara Vivi dan Dante karena Dante tidak mau duduk bersama dengan Vivi tapi teman-temannya memaksanya untuk duduk di depan bersama-sama dengan Vivi, dan pada akhirnya Dante pun mengalah dan duduk di depan bersama-sama dengan Vivi dan pulang bersama-sama dan akhirnuya tiba di rumah mereka masing-masing
Kemudian libur pun telah tiba dan Dante berpikir bagaimana yang akan terjadi jika ia dan Vivi tidak lagi bertemu karena liburan telah tiba, dan pada saat-saat akan segera menjalakan liburan mereka masing-masing mereka datang lagi ke sekolah untuk terakhir kalinya bertemu sebelum liburan, dan saat terakhir itu di pergunakan oleh Vivi dan Dante dengan sebaik-baik mungkin yaitu dengan berbicara bersama sebelum liburan dimulai. Akhirnya liburan pun telah tiba mereka mulai menjalani hubungan mereka di liburan panjang ini dengan saling menelpon satu samalain dan dengan telepon itulah mereka ber dua berkomunikasi saat liburan dan akhirnya 3 minggu pun telah berlalu dan akhirnya mereka berdua pun bisa bertemu kembali seperti biasanya yaitu bertemu di sekolah dan pada keesokan harinya teman-teman Dante seperti merahasiakan sesuatu dari nya, lalu Dante menjadi penasaran dan ingin mengetahui apa yang telah dirahasiakan oleh teman-temannya kepadanya dan Dante terus menanyakan apa yang telah disembunyikan mereka kepadanya “apa sih yang disembunyiin oleh kalian dari aku?”dan pada akhirnya mereka membongkarnya kepada Dante yang sudah sangat penasaran dan ternyata yang disemembunyikan oleh teman-teman Dante oleh nya adalah kalau Vivi telah jadian dengan orang lain selain dirinya ’’begini Dante sebenarnya Vivi telah berpacaran dengan orang lain selain kamu!”, kemudian Dante langsung terdian setelah mendengan nya dan Dante langsung bertanya kepada teman-teman nya jika yang dikatakan mereka itu tidak benar “yang dikatakan kalian itu ngak benak kan?” lalu teman-temannya menjawabnya “itu memang benar Dante...... kamu kan yang menyuruh kami untuk mengatakannya jadi kamu harus menerimanya”.
Lalu keesokan harinya karena Dante tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh teman-temannya ia menanyakan kepada Vivi kalau di telah berpacaran dengan orang lain selain Dante “Sayang apakah kamu benar-benar sudah punya pacar lain selain aku?” lalu Vivi terdiam sementara dan berkata “siapa yang mengatakan itu ke sayang?” dan Dante kembali bertanya “apakah kamu memang sudah mempunyai pacar lain selain aku?” akhirnya pun Vivi mengakuinya jika dia memang sudah mempunyai “sayang sebenarnay itu benar kalau aku punya pacar selain kamu!” dan pada akhirnya Dante sadar kalau itu memang benar-benar terjadi jika Vivi mempunyai pacar lain selain diri nya sendiri.
Kemudian karena Dante telah mengetahui jika Vivi telah mempunyai pacar lain selain Dante ia meminta maaf kepada Dante atas kesalahannya yang telah diperbuatnya “sayang maafin aku ya...... karena aku sayang jadi seperti ini” kemudian Dante menjawabnya “iya....... ngak apa-apa nanti putusian ajah dia ya?” dan Vivi menjawab “iya.... nanti aku putusin aja dia dan dilang sama dia kalau aku udah punya sayang”. Lalu Dante bertanya kembali ke Vivi “apa sayang udah putusin dia?” dan jawab Vivi “udah sayang, tapi dia ngak mau di putusin sama aku jadi sekarang aku harus bimana ni?” Dante pun teriam dan memutus kan untuk membiarkannya saja. Dan hubungan mereka berdua terus berlanjut terus-menerus dan hubungan mereka mulai terlihat memburuk dengan adanya orang ketiga di antara mereka berdua. Dante mulai sadar dengan mulai pudarnya raaa sayang dan cinta di antara mereka berdua jadi untuk mengatasi-nya Dante selalu mengirimkan pesan singkat yang berisikan kata-kata cinta dan kata-kata manis untuk Vivi.
Dan pada akhirnya hubungan mereka berdua runtuh saat Vivi memutuskan untuk putus dengan Dante kemudian Dante tidak ingin hal itu terjadi jadi Dante hanya mendiamkan dirinya untuk menghindari hal itu terjadi, kemudian kejadian itu kembali terulang dan akhirnya Dante telah merasa kasihan kepada Vivi yang mungkin sudah lelah atau tudak ingin bersama-sama dengan Dante lagi. Dan pada akhirnya mereka berdua saling tidak menepati janji-janji mereka untuk tidak saling memutuskan karena mereka telah saling berpisah satu samalain. Akhirnya mulai saat itu Dante pun mulai menjalani seluruh kegiatan di sekolah dan dirumahnya dengan sendirian yang biasanya ditemani oleh kekasih hatinya yang sekara mungkin dengan orang lain yang mungkin lebih baik dari diri nya saat ini, dan mulai saat itu juga dan detik itu juga Dante dan Vivi sudah tidak berhubungan pacaran lagi. Kemudian Dante melakukan kegiatan belajar sekolah dan ditempat lain mulai terlihat lain entah kenapa mungkinkah efeksamping dari hancurnya hubungan nya dengan Vivi, lalu walaupun dengan terpaksa Dante memang harus melupakan kenangan-kenangan dengan Vivi tapi menurutnya untuk melupakan itu 1.000 tahun pun tidak cukup untuk melupakannya karena itu memang sudah tersimpan di memorinya yang paling dalam, entah bagaiman yang harus dilakukan oleh Dante untuk melupakan kenangannya bersama dengan Vivi dan 2 minggu kemudian Dante merasakan bahwa ia masih ingin bersama-sama dengan Vivi tapi perasaannya itu terhalangi oleh pikap kerasnya Dante yang ingin melupakan segala kenangan dengan Vivi.
Dan akhirnya setelah Dante menunggu dengan sabar, akhirnya Vivi kembali sendirian yang terjadi tepatnya setahun kemudian sejak Dante diputuskan oleh Vivi dan dengan keberanian dan rasa cinta dari Dante untuk sekalilagi Dante bertanya kepada Vivi untuk menjadi pacarnya lagi untuk kedua kalinya, dan Vivi pun menerima cinta dari Dante. Akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih yang sangat bahagia. Merekapun menikah setelah 2 tahun lamanya, merekapun mendapatkan 2 orang anak laki-laki dan perempuan yang Cantik dan ganteng. Mereka hidup bahagia SELAMANYA.
“TAMAT”
Tema = Persahabatan yang mennjadi Percintaan
Tokoh-tokoh
- Dante
- Vivi
- Teman-teman
= pacar Vivi, dan seorang yang sabar, baik hati, dan tidak sombong
= pacar Dante, dan juga seorang yang baik, dan tidak sombong
= teman-teman dari Dante dan Vivi, baik
Alur Cerita Maju
Ammanat Kita tidak bisa menduakan pacar kita
Pengorbanan Cinta (created by Tessa Montolalu)
“Pengorbanan Cinta”
Cerita ini berawal dari saat aku pindah rumah.ke Indonesia. Nama ku Chika aku dari kecil sudah terkena penyakit kanker hati. Walaupun begitu, aku tetap bersyukur dan ceria melewati hari – hari Penyakitku ini tidak dapat membuatku untuk menghentikan cita – citaku sebagai penulis Novel. Aku ingin besar nanti, aku menjadi penulis yang sangat terkenal. Bukan hanya di Negaraku sendiri, tetapi aku ingin karya – karyaku terkenal samapai ke seluruh dunia. Aku ingin membahagiakan kedua orangtuaku yang selalu mendukungku setiap saat. Aku ingin membuktikan pada dunia bahwa, penyakit ku ini tidak bisa menghentikan ku berkarya dan juga berimajinasi. Aku selalu melawan penyakitku ini agar aku selalu terlihat kuat dan tegar kepada setiap orang, seolah – olah aku tidak mempunyai penyakit apapun.
. Pada saat itu aku masih berumur 15 tahun atau kelas 1 SMA.
Pada saat itu aku dan keluargaku masih tinggal di Paris. Tiba - tiba ayahku mengatakan bahwa kita harus pindah ke Indonesia. Alasanya sih, urusan pekerjaan, jadi mau tak mau aku dan sekeluarga ku harus pindah ke Indonesia.
Chika, mama dan papa sudah memutuskan kalo kita harus pindah ke Indonesia.
Emangnya kenapa Pa? Karena papa di tugaskan oleh kantor untuk sementara bekerja di Indonesia. Jadi, kita besok harus bersiap – siap untuk berangkat ke Indonesia. Mengerti Chika? Mengerti Pa,
Akhirnya keesokan harinya, aku dan keluargaku berkemas – kemas untuk berangkat ke Indonesia.
Sesampainya di Indonesia, aku dan keluargaku tinggal disebuah kompleks perumahan. Aku dan keluargaku belum kenal siapapun di kompleks itu. Kami menyewah rumah yang cukup besar, untuk kami sekeluarga tinggal bersama.
Saat Masuk di rumah baru
Papa ku berkata kepada aku dan mamaku. tnilah rumah baru kita. Kita harus tinggal semenrtara dirumah ini. Karena seperti yang kita ketahui bahwa kita tidak mempunyai keluarga di Indonesia. Yah udah,ayo kita membersihkan rumah ini agar kelihatan lebih bagus. Ok ... aku berkata sambil membangkitkan suasana.
Malam harinya, Papaku berkata kepada ku bahwa aku akan mendaftar sekolah di SMA
Rajawali. Chika!! Ia Pa, papa akan mendaftarkan mu di SMA Raj awali. Meskipun kita baru pindah ke Indonesia, kamu harus terbiasa dengan keadaan di Indonesia. Oleh sebab itu, Papa besok akan mendaftarkan mu di sekolah Rajawali, agar kamu mendapatkan teman – teman, dan juga kamu akan mudah terbiasa dengan keadaan di Indonesia. Baik Pa, kataku. Jadi, besok kamu harus bersiap – siap untuk pergi kesekolah.
Keesokan harinya. ....
Keesokan harinya, aku dan papa ku sudah bersiap – siap untuk mengantarku pergi kesekolah. Sesampainya di gerbang sekolah, aku melihat banyak sekali anak – anak yang memandangku aneh. Mungkin karena, mereka baru melihatku disekolah ini, jadi gak aneh kalo mereka menatapku dengan raut wajah yang penuh tanda tanya. Chika, bagaimana menurutmu tentang sekolah ini? Tanya Papaku sambil tersenyum. Yah, bagus sih, semoga aku bisa bersekolah dengan baik disekolah ini. Ok, ayo kita masuk.
Sesampainya di ruang kepala sekolah....
Bu, aku mau mendaftarkan anakku untuk bersekolah di sekolah ini. Karena kemarin aku dan keluargaku baru pindah dari Paris. Kata Papaku. Nama anak bapak siapa? Oh namaya Chika Putri Sari. Nama panggilannya adalah Chika. Baik Pa, silahkan isi formulir ini dan juga biaya – biayanya.
Nah sekarang ibu Reni, akan mengantarkan mu kekelas barumu. Ibu Reni adalah ibu walikelasku di SMA Rajawali. Ibu Reni adalah Ibu yang sangat baik dan juga sangat ramah.
Sesampainya dikelas baruku
Slamat pagi anak – anak .... !!!
Slamat pagi Bu ... !!!
Nah. Sekarang didepan kita telah berdiri teman baru kalian. Baik silahkan memperkenalka diri.
Nama saya, Chika Putri Sari. Biasa di panggil Chika.
Aku berasal dari Paris. Aku harap kalian mau menerimaku untuk menjadi teman kalian.
Ibu harap juga, kalian mau membantu dia disekolah ini. Mengerti anak – anak ...!!!
Mengerti Bu.
Nah Chika, sekarang silahkan kamu duduk disebelah sana. Baik Bu.
Disebelahku ada seorang anak laki – laki yang sangat cuek. Namanya adalah Reyhand biasa di pangil Rey. Rey adalah anak yang cuek dan juga sangat pendiam. Ciri – cirinya adalah Putih, tinggi, mempunyai mata yang sipit dan juga mempunyai lesung pipi yang sangat dalam. Tapi, jangan salah. Rey adalah salah satu siswa yang sangat berprestasi disekolah ini. Dia pernah menjuari lomba membuat puisi tingkat Internasional yang dilaksanakan di U.S (America Serikat).
Hay, namaku Chika.Namamu siapa?
Dia, hanya melihatku dengan tatapan yang sangat menakutkan.
Oke, Kalo kamu gak mau bilang siapa namamu, gak apa – apa kok.Salam kenal yah.
Teng, teng, teng, teng ...!!!
Suara lonceng tanda pulang sekolahpun tibah. Aku berkemas – kemas peralatan belajarku. Setelah selesai berkemas – kemas, aku melihat Rey keluar dari kelas dan menuju disuatu tempat. Ternyata itu adalah Ruang perpustakaan. Aku melihat dia meletakan sesuatu di Rak buku. Dan aku mendengar bahwa dia mengatakan kepada penjaga perpustakaan, bahwa dia tealah menyelesaikan puisi – puisinya.
Pak. Yudi, aku telah menyelesaikan semua puisi – puisiku. Dan semua puisi – puisi ku itu telah aku buat seperti buku kecil. Puisi itu aku letakkan di rak sebelah sana.
Baik Den. Kata Pak Yudi.
Ya sudah, aku pulang duluh ya Pak.
Gawat, Rey kesini lagi,aku sembunyi di mana yah? Ah di sana aja deh.
Aku bersembunyi di belakang tong sampah.
Setelah, Rey keluar dari perpustakaan aku cepat – cepat masuk dan mencari buku yang dimaksud oleh Rey.
Saat aku masuk keperpustakaan
Eh De, mau apa kamu di sini ? Bukannya ini sudah waktunya pulang seklah ?
Engga kok Pa, aku hanya ingin menacari Buku Matematika untuk aku pinujam dan bawah pulang. Karena aku diberi pekerjaan rumah oleh Ibu Reni. Kenalkan Pak?
Yah tentu. Kata Bapak Yudi.
Tapi, aku tidak terlalu mengerti dengan pekerjaan rumah yang diberikan oleh Ibu Reni. Nah, itulah sebabnya aku datang kesini untuk mau mencari buku Matematika.
Eh nomong – ngomong, Bapak baru ngelihat ade disekolah ini?
Namaku adalah Chika. Aku anak baru disekolah ini, aku baru aja pindah dari Paris. Kataku
Oh ... cepat ambil buku yang dimaksud Ade. Karena sebentar lagi Perpustakaan ini akan di tutup.
Tunggu Pak aku ingin bertanya. Aku lihat tadi, ada seorang anak laki – laki yang datang kesini. Emangnya dia ngapain? Oh Den Rey. Rey? Iya namanya Rey. Rey adalah anak yang sangat pintar hampir semua buku mengenai puisi di perpustakaan ini semuanya dia yang membuatnya. Diakan gemar sekali menulis Puisi. Karena kegemaran membuat puisi ini, dia mengikuti berbagai lomba. Dan kebanyakan Lomba yang dia ikuti berbuah manis dengan membawah uang yang berjumblah ratusan bahkan jutaan rupiah. Tapi, uang tersebut tidak digunakan untuk dirinya sendiri tapi, disumbangkan kepantih asuhan bahkan ke anak – anak terlantar yang ada dijalanan. Di sekolah ini juga, dia mendapatkan Beasiswa. Tapi, dia dapatdikatakan anak yang mampu. Bahkan ayahnya saja bekerja diluar negeri. Tapi karna kepandainya meskipun dia adalah anak yang mampu, dia pantas mendapatkan penghargaan atau beasiswa. Oh, begitu yah Pak. Kataku sambil terkagum – kagum. Eh, Chika ayo cepat ambil buku yang kamu maksud. Ia pak, hampir aja kelupaan.
Aku menuju di Rak Buku ...
Mana yah buku itu? Nah ini dia,. Buku yang tadi di taruh oleh Rey. Pak, aku mau pinjam buku ini nanti ak akan kembalikan 4 hari lagi Oke... Katanya tadi mau pinjam buku Matematika, kok sekarang ambil buku yang lain shih!! Tanya Pak Yudi sambil menggaruk kepalanya. Oh iya, aku baru ingat kalo aku udah punya buku Matematika yang sama persis dengan buku Matetmatika yang ada diperpustakaan ini. Jadi aku tidak jadi pinjam buku Matematika. Kebetulan aku ngelihat buku kumpulan puisi karangan Rey, aku ingin membacanya dan melihat seberapa pintarnya dia membuat puisi, sehingga dia dapat berprestasi dan banyak yang mengkaguminya. Ya udah gih sana pulang. Oke ....
Sepanjang perjalanan aku membaca beberapa puisi yang ada di buku itu. Tiba – tiba, kring, kring, kring. Hp ku berbunyi dengan sangat lantang.
Halo, Chika kamu sekarang di mana? Kata papau terdengar panik
Astaga ... !!! Pa, aku gak tau aku ada dimana sekarang. Aku tadi cuma jalan – jalan aja terus. Tanpa aku sadari aku kesasar. Sekarang kamu sebutkan ciri – ciri tempat itu.
Beberapa menit kemudian ...
Tit, tit, tit ... Chika ayo masuk. Ia pa. Kataku sambil kaget. Makanya kamu tuh jangan ngelamun aja. Ayo masuk. Ia Pa.
Sesampainya di rumah
Chika gimana hari pertama kamu masuk sekolah? Apa seruh sekolah baru mu? Kata mama. Yah lumayan sih ma. Oh yah, Chika entar sore, kita diundang makan bareng dirumah tante Mirna. Tante Mirna? Ia, tante Mirna itu adalah tetanga sebelah kita. Tadikan mama beli sayur di luar, Tanta Mirna juga beli sayur.setelah lumayan lama berceritra. Mama berkenalan dan setelah itu mama dan sekeluarga katanya di undang makan bersma dengan keluarga tante Mirna entar sore. Sekalian Mama mau kenalkan kamu kepada anak Tante Mirna. Baik ma Chika ganti baju dulu yah.
Sesampainya di rumah Tante Mirna.
Eh udah sampai. Ayo masuk.. Oh ini yang namanya Chika? Ia tante namaku Chika. Oh iya, katanya kamu sekolahnya di SMP Rajawali benar? Ia tante emangnya kenapa tante? Oh, begini anak tante juga bersekolah di SMP Rajawali. Bener tante? Bener. Tunggu yah tante panggil sebentar. Nah ini anak Tante. Rey?, Chika? Kami berdua terkaget – kaget ketika kita berdua mengetahui bahwa kita tetanggaan.
Oh rupanya udah saling kenal. Giamana gak kenal ma, diakan anak baru itu. Yang duduk disebelahku. Oh rupanya kalian satu tempat duduk. Ia Ma. Kata Rey
Bagus dong!! Kan nanti lebih akrab. Kata tante Mirna
Setelah kelar makan.
Rey, ayo ajak Chika ngobrol di taman. Ia ma, Saat asiknya ngobrol tiba – tiba aku mulai mimisan lagi. Chik, kenapa hidungmu? Emangnya kenapa ada yang aneh? Apa hidungku mancung hahahaha ... Kataku sambil tertawa. Engga, lalu apa dong ? Hidungmu tuh berdarah!!! Berdarah? Emangnya kamu sakit? Tanya Rey kawatir. Engga kok, aku gak apa – apa. engga apa – apa gimana, tuh darahnya makin banyak lagi keluarnya, dan wajahmu kelihatan pucat banget Chik. Tunggu yah sebentar aku ambil tisue dulu. Ia. Kata ku sambil menghapus darah yang keluar dari hidungku. Nih, tisuenya. Kata Rey sambil memberikan tisue untukku. Setelah aku mengambil tisue itu tiba – tiba kepala ku terasa pusing sekali dan akhirnya, Tug, Aku jatuh pingsan. Disitu Rey kelihatan khawatik sekali tentang keadaanku. Ia memanggil mamaku Tante, tante, kenapa Rey Astaga! Pa, chika pingsan pa. Teriak mamaku. Akhirnya, aku langsung dibawah pulang oleh Papa dan mamaku. Karena kejadian itu Rey mulai mendekati aku dan ingin mencari tau banyak tentang diriku.
Bahkan disekolah aku pernah mempergokin Rey sedang mengutak – atik hp ku, saat aku sedang pergi ke toilet.
Rey? Apa – apaan sih loh. Brani – braninya loh mengutak – atik hp gue tanpa sepengetahuan gue. Kataku dengan emosi
Maaf Chika, bukan maksudku ingin cari tau tentang kepribadainmu tapi, aku hanya ingin tau berapa nomor mu.
Apa? Nomor hp ku. Hahahahaha ..... Chika tertawa sampai terbahak – bahak jadi, sekarang ceritanya nih udah ada penggemar rahasia? Udah ada yang ngefens tuh sama aku. Ngefens? Kepedean aja loh. Ih, malu yah, atau gengsi mau ungkapinnya. Ih Chika !! memang kenyataan kok. Buktinya kamukan bisa tanya sama aku berapa nomor Hp ku. Ini malah diam – diam mau cari nomor hp ku. Hahahaha .... Sampai juga tangan loh patah kamu gak bisa mendapatkannya. Akukan hafal nomor Hpku buat apa gue pake acara simpan nomor hpku. Lucu!!!. Kan mungkin aja kamu lupa sama nomor hp mu, lalu kamu simpan deh nomormu di hp mu. He, emangnya aku pikun, atau amnesia? Kan bisa aja. Jawab Rey dengan muka terlihat sedik konyol.
Udah , udah ngaku aja , gak apa – apa kali. Santai aja akukan dulu juga di Paris banyak yang ngefens bahkan ada yang rela antri untuk mendapatkanku. Jadi, buatku itu udah biasa. Ih, sombong banget sih loh pede abis lagi. Biaris, lebih baik kepedean daripada minder. Kayak kamu tuh . Chika? Aku berlari dan Rey mengejar ku. Tiba – tiba langkahku terhenti karena aku mulai merasa pusing. Hidungku juga sudah mulai keluar darah alias mimisan dan akhirnya Pug,. Aku jatuh pingsan lagi. Chika, Chik, bangun Chik, Rey mencoba menyadarkanku. Akhirnya dia menggendongku sehingga sampai ke ruang UKS.
Saat di ruang UKS.
Chik, sebenarnya kamu kenapa sih? Aku gak apa – apa Rey. Jujur aja Chik ini udah kedua kalinya aku ngelihat kamu mimisan bahkan jatuh pingsan. Rey, aku gak apa – apa. Sekarang gih sana kamu masuk kelas, nanti kamu dimarahin Bu reni lagi. Engga, aku mau jagaanmu Chik. Kalo kamu gak mau kekelas aku marah ni. Ia deh Chik. Aku ke kelas dulu yah. Nanti aku balik lagi kesini. Ia gih sana.
Sepejang perjalanan menuju ke kelas Dalam hati Rey, dia bertanya – tanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Chika.
Pulang sekolah ...
Chik, aku anter pulang yah? engga gak apa – apa kok Kamu Pulang aja dulu. Nanti aku akan dijemput sama papaku. Beneran? Ia emangnya mukaku ada tampang pembohong yah? Engga sih. Kalo begitu kamu pulang aja duluan. Oke .... Tapi, nanti kalo kamu udah sampe dirumah kabarkan ku, yah ato telepon aku. Aku udah simpan nomorku di hpmu. Jangan lupa yah. Siap Bos!
Akhirnya Reypun pulang dan meninggalkan Chika sendirian.
Tiba – tiba, teli..t, teli..t.
Suara hpnya Rey
Halo.. Chika kamu udah sampe di rumah?
Maaf Rey, ini bukan Chika tapi ini Tante. Ia kenapa tante Chika,
Chika? Kata rey dengan penuh tanya.
Chika masuk rumah sakit.
Apa? Chika masuk rumah sakit. Sekarang Chikanya di rumah sakit mana Tante?
Sekarang Chika dirawat dirumah sakit Sinar Bakti.
Baik Tante aku akan kesana sekarang juga. Terma kasih atas informasinya Tante.
Sama – sama.
Pada saat itu juga pada detik itu juga, Rey cepat – cepat pergi kerumah sakit.
Rey kamu mau kemana malam – malam gini? Tanya Tante Mirna ibunya Rey. Ma, aku mau kerumah sakit. Apa? Kerumah sakit? Ia Ma, Chika masuk rumah sakit. Emanya dia sakit apa Rey? Aku juga, gak tau Chika sakit apa tapi yang pastinya Chika sekarang keadaannya koma. Ya udah, ayo kita pergi kerumah sakit.
Setibahnya dirumah sakit.
Sus, tau gak diamana pasien yang bernama Chika dirawat? Oh Chika! Ia sus, Chika sekarang dirawat dimana? Chika sekarang dirawat di sana. Mas, terus aja lalu belok kanan dan Chika dirawat di kamar nomor 3. Oh ia, makasih yah Dok. Sama – sama.
Rey dan Tante Mirna, berlari menuju di ruang dimana Chika di rawat. Di situ Rey mlihat Ibunya Chika dan Papanya Chika menangis – menangis tersedu – sedu. Tante sebenarnya ini ada apa? Sebenarnya Chika sakit apa tante, om? Sebenarnya Chika dari kecil telah terserang penyakit yaitu Kanker hati? Apa? Kanker hai? Ia, kenapa tante dan om tidak menceritakan penyakit Chika ini kepada aku dan mama? Mungkin saja kita bisa membantu atau melakukan sesuatu untuk Chika. Chika bilang dia tidak mau kalo Rey atau tante Mirna tau karena dia tidak mau menyusahkan Tante Mirna maupun Rey. Sekarang dia sedang diperiksa oleh dokter tadi, dokter bilang kalo Chika sedang koma. kata Ibuku sambil mengeluarkan air mata.
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan
Dok, gimana kedaan Chika? Bu. Ibu harus bertindak cepat. Karna Chika sekarang juga, harus dioperasi kalo tidak mungkin Chika tidak akan terslamatkan. Tangis ibu ku makin menjadi – jadi. Papa ku juga terlihat putus asah ketika dokter mengatakan kalo aku harus dioperasi secepat mungkin. Tapi, dimana dok, kita harus mencari hati yang cocok untuk Chika? Yah, saranku kalian harus banyak berdoa dan berusaha. Kalo tidak pasti Chika tidak akan terselamatkan. Waktu kalian tinggal 20 menit. Dengan lantang Rey mengatakan Dok, aku mau di test jika hatiku cocok dengan Chika, aku bersedia untuk mendonorkan hatiku untuk Chika. Tapi mama tidak mau mengorbankan kamu. Ia Rey, tante juga gak stuju untuk itu. Kata mamaku sambil menagis. Rey memberi penjelasan kepada mamanya dan juga mamaku. Akhirnya Tante Mirna mau dan juga mamaku mau menerimanya walaupun tidak rela. Bu, apa sudah ada yang bersedia untuk di test? Saya Dok, aku bersedia 100%. Ok, kalo begitu silahkan kamu masuk keruang test.
Beberapa menit kemudian ....
Semuanya syukurlah ternayata, hati Rey cocok. Dan sekarang dia akan dibawah ke ruang operasi. Dok, keslamatan pendonor kira – kira berapa persen akan? Tanya tante Mirna. Kemungkinannya sangat kecil. Apa? ia. Tapi, kalian semua harus banyak berdoa agar supa keduanya bisa diselamatkan. Akhirnya, Rey dibawah keruang operasi.
Beberapa meinit kemudaian ....
Dokter keluar dari ruang operasi. Dok, gimana keadaan Chika? Syukurlah atas doa kalian Chika dapat dislmatkan dan sekarang Chika sudah diruang sebelah sana. Kalo keadaan Rey gimana Dok? Selamatkan dia? Maaf. Rey tidak dapat diselamatkan. Apa? disitulah pecah tangisan – tangisan dari Tante Mirna. Tante Mirna menangis sambil mengatakan ”Rey, Mamakan sudah bilang kalo kamu gak boleh lakukan operasi itu. Kenapa kamu masi nekat lakukan itu? Sekarang mama tidak bisa melakukan apa – apa. ”
Beberapa hari kemudian setelah Rey telah dikuburkan ....
Ma, siapa yang mendonorkan hati untukku? Pokoknya orang itu adalah orang yang sangat berjasa kepada keluarga kami. Siapa namanya Ma? Dia tidak mau memberitaukan namanya. Ngomong – ngomong Rey sama Tante Mirna mana? Kenapa mereka tidak menjengukku. Apa mereka marah padaku? Tidak sayang, Tante Mirna baru aja pulang. Kalo Rey? Kalo Rey, kata mamanya sambil terbata – bata. Kenapa ma, Rey mana? Karena Chika memaksa mamanya untuk mencari tau tentang Rey. Akhirnya, Mamanya memberitaukan semuanya apa yang terjadi dengan Rey. Disitu aku tidak bisa menahan ait mataku. Dan disitulah aku merasa sangat bersaloah kepadanya.
Setelah 2 hari kemudian.....
Aku bermimpi Rey datang kepadaku. Rey mengatakan bahwa dia dari pertama bertemu telah jatuh cinta kepadaku. Sebagai tandanya, dia rela mendonorkan Hatinya untukku. Aku bertkata ” Kenapa sih Rey kamu baru mengatakan sekarang? Aku sebnarnya juga sudah jatuh cinta kepadamu saat pertama bertemu.” Meskipun kita telah berpisah aku harap kamu selalu mengenangku. Pasti. kata ku sambil menangis dan jugadan memegang tangannya dan memeluknya. Baru aku sadari bahwa dia telah mati kenapa aku bisa memegang tangannya dan memeluknya? Dan dia berkata jiwaku memang telah mati tapi hatiku tidak akn pernah mati untukku. Tiba – tiba dia melepaskan tanganku dan menghilang begitu saja. Aku kaget menangis dan memanggil namanya terus – menerus.
Aku terbangun dan aku sadari bahwa hati yang diaberikan untukku adalah lambang dari cintanya untukku.
Beberapa tahun kemudian, aku menjadi penulis novel yang sangat terkenal. Dan karna Rey , novel – novelku terkenal sampai diluar negeri. Meskipun engkau sudah tidak ada tapi hatiku selalu untukmu. I LOVE U SO MUCH ”REYHAND”
Cerita ini berawal dari saat aku pindah rumah.ke Indonesia. Nama ku Chika aku dari kecil sudah terkena penyakit kanker hati. Walaupun begitu, aku tetap bersyukur dan ceria melewati hari – hari Penyakitku ini tidak dapat membuatku untuk menghentikan cita – citaku sebagai penulis Novel. Aku ingin besar nanti, aku menjadi penulis yang sangat terkenal. Bukan hanya di Negaraku sendiri, tetapi aku ingin karya – karyaku terkenal samapai ke seluruh dunia. Aku ingin membahagiakan kedua orangtuaku yang selalu mendukungku setiap saat. Aku ingin membuktikan pada dunia bahwa, penyakit ku ini tidak bisa menghentikan ku berkarya dan juga berimajinasi. Aku selalu melawan penyakitku ini agar aku selalu terlihat kuat dan tegar kepada setiap orang, seolah – olah aku tidak mempunyai penyakit apapun.
. Pada saat itu aku masih berumur 15 tahun atau kelas 1 SMA.
Pada saat itu aku dan keluargaku masih tinggal di Paris. Tiba - tiba ayahku mengatakan bahwa kita harus pindah ke Indonesia. Alasanya sih, urusan pekerjaan, jadi mau tak mau aku dan sekeluarga ku harus pindah ke Indonesia.
Chika, mama dan papa sudah memutuskan kalo kita harus pindah ke Indonesia.
Emangnya kenapa Pa? Karena papa di tugaskan oleh kantor untuk sementara bekerja di Indonesia. Jadi, kita besok harus bersiap – siap untuk berangkat ke Indonesia. Mengerti Chika? Mengerti Pa,
Akhirnya keesokan harinya, aku dan keluargaku berkemas – kemas untuk berangkat ke Indonesia.
Sesampainya di Indonesia, aku dan keluargaku tinggal disebuah kompleks perumahan. Aku dan keluargaku belum kenal siapapun di kompleks itu. Kami menyewah rumah yang cukup besar, untuk kami sekeluarga tinggal bersama.
Saat Masuk di rumah baru
Papa ku berkata kepada aku dan mamaku. tnilah rumah baru kita. Kita harus tinggal semenrtara dirumah ini. Karena seperti yang kita ketahui bahwa kita tidak mempunyai keluarga di Indonesia. Yah udah,ayo kita membersihkan rumah ini agar kelihatan lebih bagus. Ok ... aku berkata sambil membangkitkan suasana.
Malam harinya, Papaku berkata kepada ku bahwa aku akan mendaftar sekolah di SMA
Rajawali. Chika!! Ia Pa, papa akan mendaftarkan mu di SMA Raj awali. Meskipun kita baru pindah ke Indonesia, kamu harus terbiasa dengan keadaan di Indonesia. Oleh sebab itu, Papa besok akan mendaftarkan mu di sekolah Rajawali, agar kamu mendapatkan teman – teman, dan juga kamu akan mudah terbiasa dengan keadaan di Indonesia. Baik Pa, kataku. Jadi, besok kamu harus bersiap – siap untuk pergi kesekolah.
Keesokan harinya. ....
Keesokan harinya, aku dan papa ku sudah bersiap – siap untuk mengantarku pergi kesekolah. Sesampainya di gerbang sekolah, aku melihat banyak sekali anak – anak yang memandangku aneh. Mungkin karena, mereka baru melihatku disekolah ini, jadi gak aneh kalo mereka menatapku dengan raut wajah yang penuh tanda tanya. Chika, bagaimana menurutmu tentang sekolah ini? Tanya Papaku sambil tersenyum. Yah, bagus sih, semoga aku bisa bersekolah dengan baik disekolah ini. Ok, ayo kita masuk.
Sesampainya di ruang kepala sekolah....
Bu, aku mau mendaftarkan anakku untuk bersekolah di sekolah ini. Karena kemarin aku dan keluargaku baru pindah dari Paris. Kata Papaku. Nama anak bapak siapa? Oh namaya Chika Putri Sari. Nama panggilannya adalah Chika. Baik Pa, silahkan isi formulir ini dan juga biaya – biayanya.
Nah sekarang ibu Reni, akan mengantarkan mu kekelas barumu. Ibu Reni adalah ibu walikelasku di SMA Rajawali. Ibu Reni adalah Ibu yang sangat baik dan juga sangat ramah.
Sesampainya dikelas baruku
Slamat pagi anak – anak .... !!!
Slamat pagi Bu ... !!!
Nah. Sekarang didepan kita telah berdiri teman baru kalian. Baik silahkan memperkenalka diri.
Nama saya, Chika Putri Sari. Biasa di panggil Chika.
Aku berasal dari Paris. Aku harap kalian mau menerimaku untuk menjadi teman kalian.
Ibu harap juga, kalian mau membantu dia disekolah ini. Mengerti anak – anak ...!!!
Mengerti Bu.
Nah Chika, sekarang silahkan kamu duduk disebelah sana. Baik Bu.
Disebelahku ada seorang anak laki – laki yang sangat cuek. Namanya adalah Reyhand biasa di pangil Rey. Rey adalah anak yang cuek dan juga sangat pendiam. Ciri – cirinya adalah Putih, tinggi, mempunyai mata yang sipit dan juga mempunyai lesung pipi yang sangat dalam. Tapi, jangan salah. Rey adalah salah satu siswa yang sangat berprestasi disekolah ini. Dia pernah menjuari lomba membuat puisi tingkat Internasional yang dilaksanakan di U.S (America Serikat).
Hay, namaku Chika.Namamu siapa?
Dia, hanya melihatku dengan tatapan yang sangat menakutkan.
Oke, Kalo kamu gak mau bilang siapa namamu, gak apa – apa kok.Salam kenal yah.
Teng, teng, teng, teng ...!!!
Suara lonceng tanda pulang sekolahpun tibah. Aku berkemas – kemas peralatan belajarku. Setelah selesai berkemas – kemas, aku melihat Rey keluar dari kelas dan menuju disuatu tempat. Ternyata itu adalah Ruang perpustakaan. Aku melihat dia meletakan sesuatu di Rak buku. Dan aku mendengar bahwa dia mengatakan kepada penjaga perpustakaan, bahwa dia tealah menyelesaikan puisi – puisinya.
Pak. Yudi, aku telah menyelesaikan semua puisi – puisiku. Dan semua puisi – puisi ku itu telah aku buat seperti buku kecil. Puisi itu aku letakkan di rak sebelah sana.
Baik Den. Kata Pak Yudi.
Ya sudah, aku pulang duluh ya Pak.
Gawat, Rey kesini lagi,aku sembunyi di mana yah? Ah di sana aja deh.
Aku bersembunyi di belakang tong sampah.
Setelah, Rey keluar dari perpustakaan aku cepat – cepat masuk dan mencari buku yang dimaksud oleh Rey.
Saat aku masuk keperpustakaan
Eh De, mau apa kamu di sini ? Bukannya ini sudah waktunya pulang seklah ?
Engga kok Pa, aku hanya ingin menacari Buku Matematika untuk aku pinujam dan bawah pulang. Karena aku diberi pekerjaan rumah oleh Ibu Reni. Kenalkan Pak?
Yah tentu. Kata Bapak Yudi.
Tapi, aku tidak terlalu mengerti dengan pekerjaan rumah yang diberikan oleh Ibu Reni. Nah, itulah sebabnya aku datang kesini untuk mau mencari buku Matematika.
Eh nomong – ngomong, Bapak baru ngelihat ade disekolah ini?
Namaku adalah Chika. Aku anak baru disekolah ini, aku baru aja pindah dari Paris. Kataku
Oh ... cepat ambil buku yang dimaksud Ade. Karena sebentar lagi Perpustakaan ini akan di tutup.
Tunggu Pak aku ingin bertanya. Aku lihat tadi, ada seorang anak laki – laki yang datang kesini. Emangnya dia ngapain? Oh Den Rey. Rey? Iya namanya Rey. Rey adalah anak yang sangat pintar hampir semua buku mengenai puisi di perpustakaan ini semuanya dia yang membuatnya. Diakan gemar sekali menulis Puisi. Karena kegemaran membuat puisi ini, dia mengikuti berbagai lomba. Dan kebanyakan Lomba yang dia ikuti berbuah manis dengan membawah uang yang berjumblah ratusan bahkan jutaan rupiah. Tapi, uang tersebut tidak digunakan untuk dirinya sendiri tapi, disumbangkan kepantih asuhan bahkan ke anak – anak terlantar yang ada dijalanan. Di sekolah ini juga, dia mendapatkan Beasiswa. Tapi, dia dapatdikatakan anak yang mampu. Bahkan ayahnya saja bekerja diluar negeri. Tapi karna kepandainya meskipun dia adalah anak yang mampu, dia pantas mendapatkan penghargaan atau beasiswa. Oh, begitu yah Pak. Kataku sambil terkagum – kagum. Eh, Chika ayo cepat ambil buku yang kamu maksud. Ia pak, hampir aja kelupaan.
Aku menuju di Rak Buku ...
Mana yah buku itu? Nah ini dia,. Buku yang tadi di taruh oleh Rey. Pak, aku mau pinjam buku ini nanti ak akan kembalikan 4 hari lagi Oke... Katanya tadi mau pinjam buku Matematika, kok sekarang ambil buku yang lain shih!! Tanya Pak Yudi sambil menggaruk kepalanya. Oh iya, aku baru ingat kalo aku udah punya buku Matematika yang sama persis dengan buku Matetmatika yang ada diperpustakaan ini. Jadi aku tidak jadi pinjam buku Matematika. Kebetulan aku ngelihat buku kumpulan puisi karangan Rey, aku ingin membacanya dan melihat seberapa pintarnya dia membuat puisi, sehingga dia dapat berprestasi dan banyak yang mengkaguminya. Ya udah gih sana pulang. Oke ....
Sepanjang perjalanan aku membaca beberapa puisi yang ada di buku itu. Tiba – tiba, kring, kring, kring. Hp ku berbunyi dengan sangat lantang.
Halo, Chika kamu sekarang di mana? Kata papau terdengar panik
Astaga ... !!! Pa, aku gak tau aku ada dimana sekarang. Aku tadi cuma jalan – jalan aja terus. Tanpa aku sadari aku kesasar. Sekarang kamu sebutkan ciri – ciri tempat itu.
Beberapa menit kemudian ...
Tit, tit, tit ... Chika ayo masuk. Ia pa. Kataku sambil kaget. Makanya kamu tuh jangan ngelamun aja. Ayo masuk. Ia Pa.
Sesampainya di rumah
Chika gimana hari pertama kamu masuk sekolah? Apa seruh sekolah baru mu? Kata mama. Yah lumayan sih ma. Oh yah, Chika entar sore, kita diundang makan bareng dirumah tante Mirna. Tante Mirna? Ia, tante Mirna itu adalah tetanga sebelah kita. Tadikan mama beli sayur di luar, Tanta Mirna juga beli sayur.setelah lumayan lama berceritra. Mama berkenalan dan setelah itu mama dan sekeluarga katanya di undang makan bersma dengan keluarga tante Mirna entar sore. Sekalian Mama mau kenalkan kamu kepada anak Tante Mirna. Baik ma Chika ganti baju dulu yah.
Sesampainya di rumah Tante Mirna.
Eh udah sampai. Ayo masuk.. Oh ini yang namanya Chika? Ia tante namaku Chika. Oh iya, katanya kamu sekolahnya di SMP Rajawali benar? Ia tante emangnya kenapa tante? Oh, begini anak tante juga bersekolah di SMP Rajawali. Bener tante? Bener. Tunggu yah tante panggil sebentar. Nah ini anak Tante. Rey?, Chika? Kami berdua terkaget – kaget ketika kita berdua mengetahui bahwa kita tetanggaan.
Oh rupanya udah saling kenal. Giamana gak kenal ma, diakan anak baru itu. Yang duduk disebelahku. Oh rupanya kalian satu tempat duduk. Ia Ma. Kata Rey
Bagus dong!! Kan nanti lebih akrab. Kata tante Mirna
Setelah kelar makan.
Rey, ayo ajak Chika ngobrol di taman. Ia ma, Saat asiknya ngobrol tiba – tiba aku mulai mimisan lagi. Chik, kenapa hidungmu? Emangnya kenapa ada yang aneh? Apa hidungku mancung hahahaha ... Kataku sambil tertawa. Engga, lalu apa dong ? Hidungmu tuh berdarah!!! Berdarah? Emangnya kamu sakit? Tanya Rey kawatir. Engga kok, aku gak apa – apa. engga apa – apa gimana, tuh darahnya makin banyak lagi keluarnya, dan wajahmu kelihatan pucat banget Chik. Tunggu yah sebentar aku ambil tisue dulu. Ia. Kata ku sambil menghapus darah yang keluar dari hidungku. Nih, tisuenya. Kata Rey sambil memberikan tisue untukku. Setelah aku mengambil tisue itu tiba – tiba kepala ku terasa pusing sekali dan akhirnya, Tug, Aku jatuh pingsan. Disitu Rey kelihatan khawatik sekali tentang keadaanku. Ia memanggil mamaku Tante, tante, kenapa Rey Astaga! Pa, chika pingsan pa. Teriak mamaku. Akhirnya, aku langsung dibawah pulang oleh Papa dan mamaku. Karena kejadian itu Rey mulai mendekati aku dan ingin mencari tau banyak tentang diriku.
Bahkan disekolah aku pernah mempergokin Rey sedang mengutak – atik hp ku, saat aku sedang pergi ke toilet.
Rey? Apa – apaan sih loh. Brani – braninya loh mengutak – atik hp gue tanpa sepengetahuan gue. Kataku dengan emosi
Maaf Chika, bukan maksudku ingin cari tau tentang kepribadainmu tapi, aku hanya ingin tau berapa nomor mu.
Apa? Nomor hp ku. Hahahahaha ..... Chika tertawa sampai terbahak – bahak jadi, sekarang ceritanya nih udah ada penggemar rahasia? Udah ada yang ngefens tuh sama aku. Ngefens? Kepedean aja loh. Ih, malu yah, atau gengsi mau ungkapinnya. Ih Chika !! memang kenyataan kok. Buktinya kamukan bisa tanya sama aku berapa nomor Hp ku. Ini malah diam – diam mau cari nomor hp ku. Hahahaha .... Sampai juga tangan loh patah kamu gak bisa mendapatkannya. Akukan hafal nomor Hpku buat apa gue pake acara simpan nomor hpku. Lucu!!!. Kan mungkin aja kamu lupa sama nomor hp mu, lalu kamu simpan deh nomormu di hp mu. He, emangnya aku pikun, atau amnesia? Kan bisa aja. Jawab Rey dengan muka terlihat sedik konyol.
Udah , udah ngaku aja , gak apa – apa kali. Santai aja akukan dulu juga di Paris banyak yang ngefens bahkan ada yang rela antri untuk mendapatkanku. Jadi, buatku itu udah biasa. Ih, sombong banget sih loh pede abis lagi. Biaris, lebih baik kepedean daripada minder. Kayak kamu tuh . Chika? Aku berlari dan Rey mengejar ku. Tiba – tiba langkahku terhenti karena aku mulai merasa pusing. Hidungku juga sudah mulai keluar darah alias mimisan dan akhirnya Pug,. Aku jatuh pingsan lagi. Chika, Chik, bangun Chik, Rey mencoba menyadarkanku. Akhirnya dia menggendongku sehingga sampai ke ruang UKS.
Saat di ruang UKS.
Chik, sebenarnya kamu kenapa sih? Aku gak apa – apa Rey. Jujur aja Chik ini udah kedua kalinya aku ngelihat kamu mimisan bahkan jatuh pingsan. Rey, aku gak apa – apa. Sekarang gih sana kamu masuk kelas, nanti kamu dimarahin Bu reni lagi. Engga, aku mau jagaanmu Chik. Kalo kamu gak mau kekelas aku marah ni. Ia deh Chik. Aku ke kelas dulu yah. Nanti aku balik lagi kesini. Ia gih sana.
Sepejang perjalanan menuju ke kelas Dalam hati Rey, dia bertanya – tanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Chika.
Pulang sekolah ...
Chik, aku anter pulang yah? engga gak apa – apa kok Kamu Pulang aja dulu. Nanti aku akan dijemput sama papaku. Beneran? Ia emangnya mukaku ada tampang pembohong yah? Engga sih. Kalo begitu kamu pulang aja duluan. Oke .... Tapi, nanti kalo kamu udah sampe dirumah kabarkan ku, yah ato telepon aku. Aku udah simpan nomorku di hpmu. Jangan lupa yah. Siap Bos!
Akhirnya Reypun pulang dan meninggalkan Chika sendirian.
Tiba – tiba, teli..t, teli..t.
Suara hpnya Rey
Halo.. Chika kamu udah sampe di rumah?
Maaf Rey, ini bukan Chika tapi ini Tante. Ia kenapa tante Chika,
Chika? Kata rey dengan penuh tanya.
Chika masuk rumah sakit.
Apa? Chika masuk rumah sakit. Sekarang Chikanya di rumah sakit mana Tante?
Sekarang Chika dirawat dirumah sakit Sinar Bakti.
Baik Tante aku akan kesana sekarang juga. Terma kasih atas informasinya Tante.
Sama – sama.
Pada saat itu juga pada detik itu juga, Rey cepat – cepat pergi kerumah sakit.
Rey kamu mau kemana malam – malam gini? Tanya Tante Mirna ibunya Rey. Ma, aku mau kerumah sakit. Apa? Kerumah sakit? Ia Ma, Chika masuk rumah sakit. Emanya dia sakit apa Rey? Aku juga, gak tau Chika sakit apa tapi yang pastinya Chika sekarang keadaannya koma. Ya udah, ayo kita pergi kerumah sakit.
Setibahnya dirumah sakit.
Sus, tau gak diamana pasien yang bernama Chika dirawat? Oh Chika! Ia sus, Chika sekarang dirawat dimana? Chika sekarang dirawat di sana. Mas, terus aja lalu belok kanan dan Chika dirawat di kamar nomor 3. Oh ia, makasih yah Dok. Sama – sama.
Rey dan Tante Mirna, berlari menuju di ruang dimana Chika di rawat. Di situ Rey mlihat Ibunya Chika dan Papanya Chika menangis – menangis tersedu – sedu. Tante sebenarnya ini ada apa? Sebenarnya Chika sakit apa tante, om? Sebenarnya Chika dari kecil telah terserang penyakit yaitu Kanker hati? Apa? Kanker hai? Ia, kenapa tante dan om tidak menceritakan penyakit Chika ini kepada aku dan mama? Mungkin saja kita bisa membantu atau melakukan sesuatu untuk Chika. Chika bilang dia tidak mau kalo Rey atau tante Mirna tau karena dia tidak mau menyusahkan Tante Mirna maupun Rey. Sekarang dia sedang diperiksa oleh dokter tadi, dokter bilang kalo Chika sedang koma. kata Ibuku sambil mengeluarkan air mata.
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan
Dok, gimana kedaan Chika? Bu. Ibu harus bertindak cepat. Karna Chika sekarang juga, harus dioperasi kalo tidak mungkin Chika tidak akan terslamatkan. Tangis ibu ku makin menjadi – jadi. Papa ku juga terlihat putus asah ketika dokter mengatakan kalo aku harus dioperasi secepat mungkin. Tapi, dimana dok, kita harus mencari hati yang cocok untuk Chika? Yah, saranku kalian harus banyak berdoa dan berusaha. Kalo tidak pasti Chika tidak akan terselamatkan. Waktu kalian tinggal 20 menit. Dengan lantang Rey mengatakan Dok, aku mau di test jika hatiku cocok dengan Chika, aku bersedia untuk mendonorkan hatiku untuk Chika. Tapi mama tidak mau mengorbankan kamu. Ia Rey, tante juga gak stuju untuk itu. Kata mamaku sambil menagis. Rey memberi penjelasan kepada mamanya dan juga mamaku. Akhirnya Tante Mirna mau dan juga mamaku mau menerimanya walaupun tidak rela. Bu, apa sudah ada yang bersedia untuk di test? Saya Dok, aku bersedia 100%. Ok, kalo begitu silahkan kamu masuk keruang test.
Beberapa menit kemudian ....
Semuanya syukurlah ternayata, hati Rey cocok. Dan sekarang dia akan dibawah ke ruang operasi. Dok, keslamatan pendonor kira – kira berapa persen akan? Tanya tante Mirna. Kemungkinannya sangat kecil. Apa? ia. Tapi, kalian semua harus banyak berdoa agar supa keduanya bisa diselamatkan. Akhirnya, Rey dibawah keruang operasi.
Beberapa meinit kemudaian ....
Dokter keluar dari ruang operasi. Dok, gimana keadaan Chika? Syukurlah atas doa kalian Chika dapat dislmatkan dan sekarang Chika sudah diruang sebelah sana. Kalo keadaan Rey gimana Dok? Selamatkan dia? Maaf. Rey tidak dapat diselamatkan. Apa? disitulah pecah tangisan – tangisan dari Tante Mirna. Tante Mirna menangis sambil mengatakan ”Rey, Mamakan sudah bilang kalo kamu gak boleh lakukan operasi itu. Kenapa kamu masi nekat lakukan itu? Sekarang mama tidak bisa melakukan apa – apa. ”
Beberapa hari kemudian setelah Rey telah dikuburkan ....
Ma, siapa yang mendonorkan hati untukku? Pokoknya orang itu adalah orang yang sangat berjasa kepada keluarga kami. Siapa namanya Ma? Dia tidak mau memberitaukan namanya. Ngomong – ngomong Rey sama Tante Mirna mana? Kenapa mereka tidak menjengukku. Apa mereka marah padaku? Tidak sayang, Tante Mirna baru aja pulang. Kalo Rey? Kalo Rey, kata mamanya sambil terbata – bata. Kenapa ma, Rey mana? Karena Chika memaksa mamanya untuk mencari tau tentang Rey. Akhirnya, Mamanya memberitaukan semuanya apa yang terjadi dengan Rey. Disitu aku tidak bisa menahan ait mataku. Dan disitulah aku merasa sangat bersaloah kepadanya.
Setelah 2 hari kemudian.....
Aku bermimpi Rey datang kepadaku. Rey mengatakan bahwa dia dari pertama bertemu telah jatuh cinta kepadaku. Sebagai tandanya, dia rela mendonorkan Hatinya untukku. Aku bertkata ” Kenapa sih Rey kamu baru mengatakan sekarang? Aku sebnarnya juga sudah jatuh cinta kepadamu saat pertama bertemu.” Meskipun kita telah berpisah aku harap kamu selalu mengenangku. Pasti. kata ku sambil menangis dan jugadan memegang tangannya dan memeluknya. Baru aku sadari bahwa dia telah mati kenapa aku bisa memegang tangannya dan memeluknya? Dan dia berkata jiwaku memang telah mati tapi hatiku tidak akn pernah mati untukku. Tiba – tiba dia melepaskan tanganku dan menghilang begitu saja. Aku kaget menangis dan memanggil namanya terus – menerus.
Aku terbangun dan aku sadari bahwa hati yang diaberikan untukku adalah lambang dari cintanya untukku.
Beberapa tahun kemudian, aku menjadi penulis novel yang sangat terkenal. Dan karna Rey , novel – novelku terkenal sampai diluar negeri. Meskipun engkau sudah tidak ada tapi hatiku selalu untukmu. I LOVE U SO MUCH ”REYHAND”
Miraculous (created by Gabriella Tompodung)
MiraculouS
Putri, andaikan engkau jadi miliku, akan ku jaga dan lindungi dirimu sampai kuharus menutup usiaku. Kan kurelakan semuanya untukmu terutama cintaku padamu dan akan ku ...
“Kringg... kring... kring.. kringg ..” baru saja aku berada di angan-angan langit ketujuh , memimpikan seorang pangeran datang padaku dan menyatakan cinta , tiba-tiba saja jam alaram kuning kusamku membangunkanku dari mimpi indah yang telah lama kuharap-harapkan .
“Keisha... Keisha... !” terdengar suara melengking kuat yang berasal dari kamar sebelah, yang telah kuduga siapa orang tersebut .
“Ia ma.. aku udah bangun kok..” teriaku seraya membalas pertanyaan orang tersebut yang membuatku pusing kepala, yang selalu kudengar tiap harinya dirumah dan dimana saja.
Mama... Mama sebenarnya adalah mama yang dimimpi-mimpikan anak-anak lainnya.Cantik, baik, pandai memasak, dan tahu segalanya. Itu adalah karakternya. Tapi, yang membuatku sangat kesal padanya, yaitu teriakannya yang slalu dicetuskan padaku tiap pagi .
Bangun dari tempat tidur, segera kurapihkan tempat tidur dan tak lupa juga berdoa, kemudian berahli mempersiapkan diri kesekolah. Yah, itu sih udah menjadi kebiasaanku sehari-hari dan ...
“Aaahhh...!!” teriaku suram, karena melihat abangku yang masuk begitu saja dikamarku. Yaah, telah menjadi kebiasaannya juga yang selalu masuk kamarku tanpa mengetok pintu dahulu.
“Brian! Apa-apaan sih! Terus aja begini! Masuk pintu, gak ketok pintu dulu” cetusku sambil memperlihatkan kesinisanku
Kakakku.. Nama lengkapnya Briliant Ethan. Dia memang cocok diberi nama Briliant, karena otaknya sangat Briliant. Baru-baru ini, dia lolos tes masuk universitas kedokteran, dan karena keberhasilannya itu, dia selalu meremehkan aku yang katanya otaku itu sangat pas-pasan.
“Yaudahlah.. kalo udah biasa,ngapain pake marah-marah segala? kamu kan udah tahu kebiasaan aku.. hahaha” balas abangku dengan senyum sinis tanpa rasa bersalahnya itu.
“Auuuu...” ringisku, karena tiba-tiba saja abangku itu merebut sisir kesayanganku yang sementara kupakai untuk merapihkan rambutku.
“Gila luu yaa ! itu sisir kesayangan aku jangan diapakai dong! Rambut luu kan udah kayak pabrik salju! Ketombean tau!” jelasku dengan setengah berteriak , refleks langsung merampas sisir kesayanganku itu kembali ketanganku
“Pinjam bentar doang.. sisir gua patah semua Kei..” paksanya, dan langsung keluar dari kamarku dan membantingkan pintu tanpa rasa terima kasih sedikitpun.
“Ya ampun! Setengah tujuh? Aku bakalan terlambat lagi!” dengan cepat segera kualihkan perhatianku dari rambutku yang indah gemulai dan langsung melabrak tasku yang beruntung telah ku isi dengan buku-buku sesuai jadwal dan leptop kesayanganku
“Ma uang dong.. udah telat nih” teriaku sambil melompati tiap anak tangga
“Ambil saja di meja, udah mama siapin tuh” sahut mamaku yang udah tahu sikap sinis aku yang gak bisa ditoleransi dalam hal menunggu.
Tanpa menemui mamaku yang sedang senam pagi dihalaman belakang, akupun lari sekencang kilat seraya meneriakan sesuatu
“Aku pergi dulu ya ma” teriaku dari halaman depan yang tentu saja bisa terdengar sampai kehalaman belakang, karena suaraku yang gak tahu asal-usulnya dari mana, dan bisa ngebangunin orang-orang sekomplek kalo nangis tengah malam. Cara yang jitu!
“Aaaaauuuuuuuuhhhhhh...” ringisku karena menyambar tong sampah dekat rumah, yang ternyata sampah-sampahnya sudah diangkat oleh truk sampah yang biasa lewat didepan rumahku.
Truk sampah umum selalu melewati rumahku pas pukul setengah tujuh pagi. Dan itu tandanya ...
“Aku teeelllaaaaaaaatt” teriaku , yang mengagetkan seekor kucing yang hampir saja kutendang.
Sambil menunggu mikrolet yang lama banget lewatnya, aku pun mengambil handphone yang ada disaku dan mengetik sebuah pesan singkat yang ku kirim ke sahabatku . Sahabat terbaiku
“Ndy, udah bel blom? Kalo udah dibales, kalo belom ga usah. Oke?! Thanks before”
“Tiiiiiiiiittttt... ” Bunyi mikrolet yang berhenti didepan halte tempat biasa aku menunggu.
“Bang, St.Lucas ya” Kataku sambil naik kedalam mikrolet tersebut. Dengan segera kupaksakan kakiku untuk menaiki angkot tersebut dengan mata yang masih sedikit berayang-ayang.
“Bruuuuukkk ...”
“Ahhh..” ringisan kecil keluar begitu saja dari bibirku,karena menyambar seseorang yang ternyata duduk disebelah pintu masuk mikrolet .
“Eh.. S..ss..oo..rrr..yy” sahut seseorang tersebut dengan gagap karna mungkin merasa bersalah atas kecerobohan yang bisa dibilang bukan kecerobohanya, TAPI AKU.
Yaah , setidaknya aku sangat bersyukur karena ada seseorang yang mengatakan kata maaf . Bisa dikatakan sedikit aneh, karena dalam kehidupanku kadang sekali ada orang yang minta maaf .
Dengan cepat ku berdiri sambil meremas-remas tanganku yang tergores akibat kejadian tadi dan segera duduk disalah satu bangku mikrolet yang berada disudut belakang mikrolet tersebut .
“Kamu gak apa-apa?” tanya seorang laki-laki yang sepertinya sedikit lebih tuadenganku, dengan senyuman tipis yang tampak tulus . Aku terpaku! Wajahnya yang begitu bersinar, mata yang agak sipit, bibirnya yang mungil yang mengeluarkan senyuman ajaib, dan rambutnya yang berstyle korea seperti style anak cowok zaman sekarang, membuatku terpaku dan dengan sekejap rasa perih ditanganku akibat kejadian tadi hilang begitu saja.
“Gak apa-apa kok” sahutku dengan memberikan sebuah senyuman kaku dan tingkah laku yang tidak beraturan untuk membalas senyumannya yang ajaib itu .
“Bagus deh” balasnya, sambil membalikan badannya menghadap kedepan .
“Lelaki gagah dengan senyumannya yang ajaib”batinku dalam hati .
“Ngomong-ngomong kamu dari sekolah ma....” tanyaku seraya langsung menghentikan kalimat tersebut, karena tak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan berani bertanya kepada laki-laki-dengan-senyuman-yang-ajaib itu dengan santai tanpa rasa gugup sedikitpun.
“Ya?” jawabnya dengan segera membalikan badanya dan menatap wajahku, yang kupikir agak aneh untuk dilihat apalagi ditatap saat itu.
“E..e..nggak. Aku pengen tanya aja, kamu sekolah dimana ya?” tanyaku untuk kedua kalinya dengan suara yang bisa dikatakan terbata-bata .
“Fransiscus . SMA St.Fransiscus” sahutnya dengan mengeluarkan senyuman ajaibnya. Lagi!
Dengan pikiran yang agak melayang, aku hanya menatapnya seperti sedang menatap sebuah pangeran yang datang dari khayangan untuk menjemput sebuah putri, dan sepertinya yang aku khayalkan untuk menjadi putri adalah diriku sendiri.
“Hey!” Sahutnya laki-laki tersebut
Refleks akupun langsung menatapnya yang kali ini adalah tatapan sadar.
“Hah? kenapa? Ehh...emm..sorry..em.. kenapa ya?” Jawabku seraya menghilangkan kekagetanku .
“Kamu SMP St.Lucas kan? SMP diseberang jalan sana kan?” tanyanya .
“Hah? seberang maksut ka...” Belum saja seutas kalimat kucetuskan, akhirnya aku sadar kalau ternyata sekolah ku sudah dekat dan...
“STOOOPPPP!!!!” teriaku seraya sedikit berlari dan lompat dari angkot tersebut dan melemparkan uang ongkos kepada abang tukang angkot yang sepertinya agak heran dengan tingkah laku ku.
***
Untung saja dewi fortuna masih berpihak padaku. Mungkin jika aku telat beberapa detik saja peristiwa yang sangat tidak diinginkan siswa dari sekolah manapun, akansegera menimpa hidupku pagi ini!
Dengan senyum yg melekat di wajah, akuberjalan sambil menatap muka seram Pak Gilbert yg kasar dan berkumis. Setelah lolos darinya,dengan segera kulangkahkan kaki lebar-lebar dan berlari melewati koridor kelas 8. Ketika hampir sampai di depan pintu kelas, tak sengaja siku tanganku menyambar tangan seorang siswa yg sedang membawa selembaran kertas yang aku-sendiri-tidak-tau-apa. Tak terelakan kertas-kertas tersebut jatuh dan berserakan di lantai...
“Maaf-maaf” dua buah kata itu langsung saja terucap dari mulutku, tanganku sembari mengumpulkan kertas-kertas yang jatuh berserakan tersebut.
“Gak usah, gak usah. Aku bisa sendiri kok” kata seorang laki-laki bertubuh jangkung, menggunakan kacamata, dan rambutnya yang agak tidak beraturan tersebut.
“Oh.. kalo gitu, aku pergi ya, soalnya udah telat nih. Sekali lagi sorry yah” kataku yang melemparkan sebuah senyuman tipis dan langsung berlari seperti orang kesurupan menuju ruang kelas yang ada disudut pandanganku.
Hampir. Hampir saja aku ditahan didepan kelas karena terlambat. Untung saja Pak Marchel mempunyai hati bagaikan bidadari yang akhirnya mengizinkanku untuk masuk kekelas, setelah beberapa menit aku mengeluh-eluh atas kejadian yang hampir membuatku pulang kerumah tadi.
Panas, bau, pengap, segalanya tercampur menjadi satu dikelas ini. Kalau saja ada kipas angin disekitar sini, pasti sudah ku curi dan kubawah ketempat yang membosankan sekaligus terkutuk ini.
“Triinggg .. triinggg ..” akhirnya bel istirahat pun berbunyi . Dengan semangat, kulangkahkan kaki ku dengan cepat kearah kantin seraya menarik tangan sahabatku, Mindy .Mindy adalah sahabat terbaik yang pernah kukenal. Dalam keadaan apapun dia selalu bersamaku dan selalu menolongku. Badannya yang kurus seperti batang lidi dan mempunyai tulang-tulang yang panjang yang membuatnya jangkung, menghalau setiap penglihatanku untuk berlari kemana saja aku pergi
“Mindy.. minggir ah” kataku dengan sedikit berteriak.
“Ngapain?” jawabnya dengan memonyong-monyongkan bibirnya yang sebenarnya tanpa harus memonyongkannya, bibir merahnya tersebut memang sudah maju 5 senti.
“Your body is too tall and covered me!” Cetusku sinis sambil menunjukan keanehan wajahku.
“Makanya, tinggian dikit dong! Liat badan gue, mantaap” dengan bangganya dia meninggi-ninggikan dirinya yang sebenarnya apapun yang dikatakannya itu tidak ada yang benar sedikitpun .
Tanpa membalas pengakuan yang tidak sesuai dari Mindy, akupun menerobos dengan segala cara untuk bisa masuk ke kantin dan memesan apapun yang ada dipikiranku saat itu.
***
Saat memesan ...
“Mbak aku pesan bakso satu sama frutie botol ukuran sedang ya” pesanku kepada seorang wanita berumur sekitar 40-an yang berdiri dengan senyuman manis didepanku. Dengan segera kubalikan badanku untuk menduduki meja disudut ruangan kantin dan...
“Bruuuuuuukkkkkkkkk....” Akupun jatuh tak berdaya ditempat dimana aku berdiri, karena seseorang yang menyenggolku entah sengaja maupun tak sengaja .
“Punya mata gak sih?” suara melengking terdengar sampai keujung gendang telinga menggelegar hebat ditelingaku. Eliza! Sudah ku duga! Eliza adalah seorang perempuan berbadan ideal, ketua perkumpulan anak-anak paling top disekolah, kedua orangtuanya juga adalah pengusaha terkenal di Jakarta dan ayahnya adalah ketua yayasan sekolah ini tapi sayangnya salah satu hal yang penting yaitu kecerdasan, tidak dimilikinya. Hanya sebuah otak udang atau bisa dibilang otak dibawah standart .
Dengan tidak menatap wajahnya, akupun berbicara dengan laga orang gagap “Maaf El.. aku gak.. aku gak...”
“Gak perlu! lain kali jalan pake mata dong!”Cetusnya dengan laga sok berkuasa untuk kesekian kalinya pada siapapun yang menghalang jalannya atau yang membuat dia terganggu atau merasa terhalau.
Dengan rasa sedikit takut aku pun segera beranjak dari tempat terkutuk tersebut dan langsung menduduki meja diujung ruangan yang telah kuincar sedari tadi. Hal yang sangat tidak diinginkan! Bukan karena wajahnya yang seram sambil menonjolkan matanya yang bulat seperti hewan liar, tapi karena suaranya yang melengking yang sepertinya melewati batas suara kepala sekolah saat berceramah atau memarahi siswa-siswinya ditengah lapangan.
Waktupun terus berjalan, detik demi detik, menit demi menit. Jarum panjang sudah mengarah di angka 1 dan itu menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar telah selesai. Akhirnya! Dengan cepat kubergegas pulang sembari mengatur buku-buku pelajaran yang berada diatas meja dan segera lari keluar ruangan kelas. Entah mengapa aku ingin cepat pulang hari ini. Instingku berkata bahwa akan terjadi sebuah kejadian yang bisa dikatakan ”Mukjizat” jika aku pulang cepat hari ini. Dan ternyata itu benar!
Saat keluar dari arena sekolah di depan gerbang, aku bertemu kembali dengan seorang laki-laki setahun lebih tua dariku yang kuberi julukan “lelaki-dengan-senyuma- ajaib”. Perasaan campur aduk pun membanjiri keadaan hatiku saat itu. Dengan tampang yang kuyakini tak ingin dilihat oleh lelaki manapun karena keanehannya, akhirnya aku menyapanya...
“Hei..” sapaku dengan nada yang agak bergetar
“Hai! kamu cewek yang tadi kan? yang dimikrolet?”
Serasa ada orang yang menampar wajahku, aku pun sadar dan mengingat kejadian dimikrolet tadi pagi. Yaa, membuat malu diriku sendiri dengan tersandung tanpa alasan didalam angkot tersebut.
“Oh.. eh.. iaa.. iaa.. itu aku” Pipi merona dan terlihat tolol itu sudah pasti dilihatnya dari wajah ku yang sedikit aneh ini. Kulanjutkan dengan senyuman pucat pasih yang mungkin agak membuatnya takut.
“Wajah kamu.. Eh maksudku, kamu gak apa-apa kan?” tanyanya dengan nada gugup yang agak ditutup-tutupi. Kelihatan dari wajahnya, sepertinya dia ingin cepat-cepat mengakhiri pertemuan yang kuanggap “Mukjizat” ini .
“Yah.. seperti yang kamu lihat saat ini, gak apa-apa kok. Kamu lagi buru-buru ya?” jawabku dengan melanjutkan sebuah pertanyaan yang mungkin bisa menambah kesempatan baginya untuk segera pergi jauh-jauh dariku.
“Iaa.. Latihan basket. Aku mau ke tempat latihan basket” senyuman ajaibnya pun kembali bertengger dibibir mungilnya. Dan dilanjutkan dengan melakukan suatu hal. Mencari-cari sesuatu didalam tasnya mungkin. Seketika, dikeluarkannya sebuah handphone berwana hitam mengkilat yang tiba-tiba membuatku terbelalak kaget karena melihat merek handphone tersebut.
“Blackberry? Mungkinkah? Astaga! Benar!” Batinku dalam hati sambil mengerutkan keningku yang kulakukan tanpa sadar.
“Aku boleh minta nomer handphone kamu gak?”
“Boleh-boleh...” Jawabku dengan perasaan sedikit gugup.
“Gak mungkin kan aku nunjukin hape sonny ericsson buntut ber-type W395 ku ini? Gak mungkin lah! Pasti dia bakalan nertawain aku!” Aksi tanya jawab dalam hati pun berlangsung.
“085256629291” Kataku. Dan kelihatannya dia sedang mengetik nomer yang sedang aku ulang-ulang agar tidak salah, dihape blackberry bold hitamnya dengan teliti.
“Oh.. ok.. thanks ya! Entar aku bakalan ngirim sms ke kamu. Anyway, kita blom kenalan ya? Namaku Kevin Behovier” Sebuah kalimat bertambahkan pengenalan keluar dari bibirnya yang mungil itu sambil mengeluarkan senyuman tipis yang bertengger di ujung bibirnya.
“Aku Keisha. Keisha Ethan” Seutas kata dan seulas senyum pun keluar dari bibirku yang bisa dikatakan beda jauh dengan bibir milik Mindy ini.
Tak ada sepatah katapun keluar lagi dari Kevin, lelaki yang kusebut lelaki dengan senyuman ajaib ini. Hanya sebuah kerlingan mata yang berisyarat bahwa dia sedang mengatakan “OK”.
***
Dirumah ...
Lagu dari Justin Bieber – Favorite Girl bersenandung dari ruang tamu. Handphone ku! Itu adalah nada dering sms handphone buntutku. Saat itu, aku sedang berada di dapur mengambil segelas air putih untuk diminum. Secepat kilat ku letakan gelas berisi setengah air putih itu dan segera berlari kearah ruang tamu untuk melihat pesan yang baru saja masuk di handphone ku itu .
Nomor yang tak ku kenali ...
Hai keisha! Apa kabar? Ini aku Kevin Behovier. Ini nomer handphone ku.
Jgn lupa disave ya! Anyway kamu lagi ngapain?
Kevin ? dari kevin ? Tanya ku dalam hati dengan setengah percaya. Tanpa menghiraukan sms tersebut, akhirnya aku membalas sms itu.
Hai juga kev! Aku baik.
Okey, udah aku save kok!
Ini baru sampe rumah, mau nonton nih. Kamunya?
Secepatnya aku menekan tombolok dan segera mengirim sms tersebut.
Dan mulai saat itu juga, aku dan Kevin mulai dekat. Bahkan aku menghabiskan pulsa sebanyak 100.000 setiap minggunya, hanya untuk membalas, mengirim, atau menelpon laki-laki tersebut.
***
Dua hari kemudian ...
Disekolah ...
“Mindy! Mindy! Mindy! Ada yang mau aku ceritain sama kamu . Sini dong!” teriaku dengan nada yang sedikit menggelegar yang langsung membuat sahabat terbaikku itu refleks berbalik menghadapku
“Apaan sih? Kelihatannya penting ya? Awas aja gak penting! Bakalan gua jitak kepala lu!” Cetusnya sinis seraya langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat duduk ku.
“Ada sesuatu yang mau aku kasih tau sama kamu. Tentang cowok yang aku temuin dua hari lalu” Jelasku dengan cepat, agar niatnya untuk menjitak kepalaku batal, karena kalau cara berbicaraku lambat, pasti kepalaku bisa jadi kayak kubah mesjid karena mengalami penjitakan-beralasan-aneh dari Mindy.
Aku pun menceritakan kejadian awal pertemuanku dengan Kevin sampai pengenalanku dengannya saat ini. Dan sepertinya, Mindy mendengarkan dengan baik dan begitu saksama. Aku sendiri pun sangat bersemangat untuk menceritakan segalanya kepada sahabatku itu, karena dia sangat mendengarkan. “Sungguh pendengar yang baik!” batinku dalam hati setelah menyelesaikan cerita yang agak panjang itu pada sahabat-ku-yang-agak-aneh itu.
Dengan hati bergelimang perasaan senang, aku memperlihatkan sms dari Kevin pada Mindy. Setiap kali Kevin mengirimiku sms, saat itu juga Mindy harus tau mengenai sms yang baru masuk kontak handphone ku itu. Dan bisa dikatakan, sepertinya aku mulai suka dengan laki-laki unik ini. Hal itupun tak lupa ku katakan pada sahabat terbaiku, Mindy.
***
Hampir dua minggu semenjak hari pertama aku kenal dengan laki-laki dengan senyuman ajaib yang sebenarnya mempunyai nama “Kevin” tersebut. Banyak perubahan yang terjadi. Semakin lama, aku semakin dekat dengannya.
Begitu juga dengan Mindy. Perubahan aneh terjadi dengannya. Sepertinya, semenjak aku mengenal Kevin, semenjak itu juga sikap Mindy agak berubah. Lebih aneh dan lebih pendiam. Mindy yang sangat terkenal dengan sikap ramah, cerewet dan periang menjadi Mindy yang lebih sering menyendiri dan pendiam. Sering kali aku bertanya-tanya dalam hati maupun secara langsung pada sahabat tersayangku itu, tapi tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Sepertinya, dia membungkam mulut 5 sentinya itu dengan sebuah rahasia yang begitu ingin kuketahui.
Sampai suatu hari, di sore hari yang teduh ...
Ku kenakan kaus putih bercorak kan tulisan-tulisan tak jelas, yang ku pasangkan dengan blue jins ketat pendek serta jaket kuning-hitam kesukaanku. Sore itu, aku bertujuan untuk mengembalikan buku-buku pelajaran pinjamanku yang kupinjam dari Mindy sehari sebelumnya. Dengan setengah berlari ku turuni anak-anak tangga dan segera menyambar tas miniku yang digantungkan di dinding dipinggir tangga tersebut, dan langsung meninggalkan rumah tanpa pamit karena dirumah memang sedang tidak ada orang kecuali abangku yang sedang menonton film kesukaannya di ruang nonton disebelah dapur.
Rumahku hanya berjarak sekitar 150m untuk sampai kerumah Mindy. Dan itu sebabnya, aku memilih untuk berjalan kaki kerumah sahabatku itu, sekalian menggunakan kesempatan ini untuk berjoging sore.
Kusenandungkan beberapa lagu berbahasa Inggris, Justin Bieber kesukaanku secara tak jelas karena beberapa lagu dari artis cowo ganteng ini tidak kuhafal. Yah, karena kupikir menghafal puisi dua bait saja sudah susah, apalagi menghafal lirik lagu yang mungkin lebih dari 10 bait.
***
Didepan rumah Mindy ...
Seperti tersambar petir dengan berjuta-juta volt atau tegangan, kepalaku terasa pusing, badan tak bergerak dan serasa lemas, seraya mengeluarkan beberapa tetesan air mata. Apa yang dilakukan mereka berdua sangat berada diluar pikiranku. Sejak kapan? Kenapa dia tidak memberitahuiku? Pantas sikapnya mulai berubah aneh!
Yap! Kevin sedang berada di depan pintu rumah Mindy saat itu. Terlihat aneh. Tangan sebelah kiri Kevin memegang salah satu tangan Mindy, dan tangan kanannya memegang sesuatu atau dengan tak sanggup kulafalkan, B-U-N-G-A M-A-W-A-R! Sedang apa mereka berdua? Apa yang terjadi? Hatiku bertanya-tanya dan perasaan bingung tak menentu melayang-layang dipikiranku saat itu.
Penampilan Mindy terlihat biasa-biasa saja. Hanya raut wajahnya saja yang agak berbeda. Terlihat pucat dan tidak terlihat sedang mengeluarkan ekspresi senang. Sedangkan Kevin, dengan kameja kotak-kotak berwarna merah hitam, kaus putih didalamnya, celana jins hitam, dan sepatu dork model baru menyelimuti penampilannya saat itu. Terlihat begitu beda! Lebih santai dan .... tampan. Kata tersebut tak dapat kupungkiri. Kevin memang terlihat sangat tampan walaupun sebenarnya aku tidak bisa melihat raut wajahnya karena dia sedang berdiri membelakangiku dan Mindy yang menghadap kedepan tanpa menyadari bahwa aku, sahabatnya yang memiliki perasaan khusus pada laki-laki didepannya itu sedang berdiri tak berdaya didepan gerbang rumahnya.
Sesaat, sesuatu membuyarkanku dan membuatku tersadar akan lamunanku. Sepertinya, Kevin sedang mengarah keluar halaman, keluar gerbang, ke tempatku berada sekarang. Dengan secepat kilat kuberlari mencari tempat sembunyi dan yang kudapatkan hanyalah sebuah pohon yang agak besar disamping rumah Mindy.
“Ngeeeekk...” bunyi melengking yang dikeluarkan oleh gerbang tersebut mengilukan telingaku. Dengan setengah pikiran yang melayang,dengan tatapan kilau, kulihat didepan mataku, seorang laki-laki yang sangat kusukai berjalan melalui jalan raya didepan rumah sahabatku. Terlihat wajahnya yang pucat pasih, raut wajahnya yang tak berkenan dilihat dan satu hal yang penting, tidak ada senyuman ajaib.
Tiba-tiba ...
“Bruuukkk!!! Ngeekkk!!! Buuumm!!!” Suara-suara aneh mengagetkan lamunanku dan refleks kumencari arah asal suara tersebut dan ternyata ...
“Keevviiiiiiiinnnnn!!!” terdengar suara seorang perempuan dengan nada bergetar kuat, yang pastinya bukan aku. Mindy! Itu Mindy!
Dengan kagetnya aku melihat dengan kepala-mataku sendiri, Mindy sedang mencoba untuk menyelamatkan Kevin yang baru saja tertabrak sebuah angkot yang melaju cepat yang membuatnya terlempar ditepi trotoar. Beberapa orang dewasa berkumpul disekitar mereka dan membantu Mindy mengangkat tubuh Kevin yang tergeletak tak berdaya kesebuah mobil didepan rumah Mindy. Sepertinya itu mobil seseorang yang tidak sengaja memarkirkan mobilnya, yang kebetulan berada dilokasi tersebut dan membantu mereka.
Dengan hati berlumuran rasa pedih yang mendalam, masih tersempatkan kudengar suara-suara orang dewasa tersebut yang berteriak sebuah nama rumah sakit. Sepertinya “Rumah Sakit Maria Magdalena”. Ya! Benar! Rumah sakit tersebut berjarak 800m dari lokasi tempat Kevin tertabrak, didepan rumah Mindy. Sepertinya Mindy juga ikut bersama orang-orang dewasa yang kelihatannya belum dikenalnya itu.
Dengan cepat kulangkahkan kaki ku lebar-lebar dan berlari kearah rumah. Begitu sampai dirumah segera ku berlari kearah kamar dan mengambil beberapa uang yang kusimpan dalam lemari bajuku, dan dengan nafas yang terengah-engah kupercepat langkahku dan menaiki angkot yang mengarah ke RS.Maria Magdalena.
Kepanikan menjalar ditubuhku. Rasa cemas, takut, sedih, dan marah karena melihat kejadian Mindy dan Kevin pun ikut menjalari tubuhku. Dengan setengah berangan-angan agar Kevin tidak apa-apa, tercucur air mata rasa kepedihan di pipiku.
***
Sesampainya dirumah sakit ...
“Mindy!” teriaku dengan nada yang menggelegar seraya berlari menuju tempat dimana sahabatku itu berdiri.
“Keisha? Nga.. nga.. ngapain kamu disini?” Sahutnya dengan nada setengah percaya bercampur nada takut karena telah membohongi sahabatnya sendiri, yaitu aku.
“Gak usah sok kaget, gak usah sok panik, karena aku udah tahu semuanya! Segalanya tentang kamu dan Kevin! Aku sudah bisa nebak, jadi kamu gak perlu ngasih tau aku!”
“Ta..ta..ttapii Kei, kamu salah paham! Aku sama Kevin gak ada hubungan apa-apa, biar aku jelasin sama kamu!” Tak bisa mengeluarkan nada-nada yang tepat. Itu suatu kesimpulanku mengenai Mindy yang sedang berbicara saat ini.
Dengan tatapan dingin yang kulirikkan padanya, dan hanya dengan dengusan tak berarti akupun mencoba untuk mendengarkan segala penjelasannya walaupun sebenarnya aku sama sekali tak ingin mendengar alasan-alasan yang tak penting dari sahabatku itu. Tapi bagaimanapun, dia adalah sahabatku. Sahabat terbaikku yang telah membohongiku saat ini.
“Gue gak punya hubungan apapun sama Kevin. Kevin itu adalah pacar kakak gue, Debrylia. Mereka berdua udah pacaran semenjak kelas dua SMP. Mereka itu se-SMP Kei!. Dan tadi, Kevin mau minta tolong sama aku buat bantuin dia baikan sama kakak gue. Mereka lagi marahan. Tapi, Debry bersih keras buat gak nemuin Kevin. Debry minta gue untuk ngusir mantan pacarnya itu. Mereka udah putus!”
Rasa bersalah yang begitu dahsyat membanjiri hatiku. Perih rasanya! Aku menuduh sahabatku sendiri demi alasan yang seharusnya tidak ku pertanyakan dari awal. Kini, rasa perih yang kualami bukan lagi karena Kevin ataupun mengenai Kevin dan Debrylia, kakaknya Mindy. Tapi, rasa perih yang begitu dalam karena telah menuduh seorang sahabat yang sangat kusayangi.
Perasaan tegang dan takut meliputiku dan sahabatku Mindy. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar sentakan kaki berlari. Segera ku balikan badanku untuk mencari-cari arah suara sentakan kaki tersebut. Dan ternyata itu adalah, Debrylia.
Pelukan hangat berlumuran perasaan sedih oleh Mindy dan kakaknya terlihat begitu jelas. Aku yang mengamati saja bisa merasakan perasaan tersebut. Tiba-tiba terdengar untuk kedua kalinya sebuah sentakan kaki berlari dari ujung pintu masuk.
“Eliza?” batinku.
“Kak Debry, Mindy, gimana keadaan kakak gue?” Pertanyaan Eliza terlontarkan begitu saja.
“Kakak? Kevin adalah kakaknya Eliza?” batinku untuk kedua kalinya.
Kemudian, terdengar suara berbicara pada kami berempat.
“Maaf, apakah diantara kalian ada yang berdarah B?” tanya seorang dokter dengan tampang yang gagah, dengan suaranya yang agak serak basah.
“Aku adiknya dok! Tapi, aku gak punya golongan darah yang sama dengan kakakku. Golongan darah Kevin sama seperti Ayahku. Sedangkan golongan darahku sama seperti ibuku, golongan darah A” Jelas Eliza dengan tatapan yang sepertinya sedang mencari harapan kepada yang lainnya
“Gue ma kakak gue golongannya A juga” Cetus Mindy dengan rasa bersalah dan dengan nada yang agak bergetar.
Tiba-tiba saja ada sesuatu hal yang melewati dan memburamkan pikiranku.
“AKU! AKU PUNYA GOLONGAN DARAH B!” Dengan nada yang sedikit tergesa-gesa, akhirnya aku bisa melontarkan kalimat tersebut.
Eliza, Mindy, maupun Debrylia terbelalak kaget. Rasa senang yang bergelimpahan mungkin sedang mereka rasakan. Senyuman tipis pun bertengger disetiap bibir mereka.
Dengan penuh kepercayaan dan pengharapan, Eliza menuturkan beberapa kalimat padaku.
“Kei, kali ini hidup gue bergantung ditangan elo! Gue butuh banget bantuan lo kali ini! Gue juga mau minta maaf buat semua kesalahan gue ke elo! Gue mohon bantu gue dan kakak gue kali ini!”
“Tenang aja El. Aku pasti bakalan bantuin kamu dan kakak kamu sebisa aku” tanpa mengeluarkan kalimat apapun lagi, kutulusuri jejak langkah dokter tersebut dan mengikutinya kearah ruang pengambilan darah.
Rasa panik dan perasaan yang aneh bercampur aduk dalam pikiranku saat itu.
Hampir setengah jam, akhirnya proses pendonoran darah tersebut berhasil dilakukan.
Dengan badan yang tergopoh-gopoh, kupaksakan kaki ku berjalan menuju ruangan tunggu, tempat dimana Mindy, Eliza dan Kakaknya Mindy berada.
***
Tiga jam kemudian ...
“Siapapun keluarganya, dipersilahkan untuk menengok keadaan saudara Kevin Behovier. Nak Kevin telah siuman” Kata dokter yang memeriksa Kevin sekaligus yang bertanya untuk pendonoran darah tadi.
Dengan perasaan bergelimang kesenangan dan rasa syukur, kami berempat akhirnya berlari keruangan dimana Kevin diperiksa. Disana, kami menghibur Kevin dan tentunya Kevin bertanya-tanya bagaimana aku mengenal Mindy, Kakaknya, dan Eliza. Dengan perasaan bahagia, aku pun bercerita panjang lebar tentang semua yang dipertanyakan Kevin kepadaku.
Satu yang membuatku bahagia saat itu, akhirnya Kevin dan Debrylia kembali menjadi sepasang kekasih yang berbahagia. Dan tanpa perasaan sedih apapun, dan malahan perasaan yang begitu bahagia, aku menatap sepasang kekasih tersebut dengan perasaan bangga.
Kami berlima sangat menikmati saat-saat tersebut. Yah, dan tentu saja aku dan Mindy akhirnya tidak memiliki perasaan salah-paham lagi untuk yang kedua kalinya.
***
Dua hari kemudian , disekolah ...
“Hai Kei, hai Ndy!” Sapa Eliza dari kejauhan, sambil melambai-lambaikan tangannya yang putih bersinar itu kearahku dan Mindy.
“Hai El” Sontakku dan Mindy bersamaan.
Kami bertiga pun melangkah bersama kekelas melewati koridor, dan menyapa setiap anak-anak yang ada di koridor saat itu.
Sebuah Mukjizat yang adalah anugerah terindah! Akhirnya, aku bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik semenjak kejadian itu.
Hal terbaiknya, Eliza sekarang berubah 100 persen menjadi siswa yang lebih baik. Lebih ramah kepada siapa saja, dan lebih sering rajin belajar. Bukan hanya Eliza, aku dan Mindy juga berubah menjadi anak yang lebih baik dari sebelumnya. Kevin dan Debrylia kembali bersatu dan menjadi pasangan yang romantis kembali. Semuanya menjadi jauh lebih baik, dan hal ini sangat berpengaruh dalam kehidupanku begitu juga dengan mereka. Tuhan memang baik, karena menjadikan segalanya indah pada waktunya !
Satu hal yang sangat penting yang kupelajari dalam kejadian ini,
PERSAHABATAN LEBIH PENTING DARI SEGALANYA
TAMAT
Putri, andaikan engkau jadi miliku, akan ku jaga dan lindungi dirimu sampai kuharus menutup usiaku. Kan kurelakan semuanya untukmu terutama cintaku padamu dan akan ku ...
“Kringg... kring... kring.. kringg ..” baru saja aku berada di angan-angan langit ketujuh , memimpikan seorang pangeran datang padaku dan menyatakan cinta , tiba-tiba saja jam alaram kuning kusamku membangunkanku dari mimpi indah yang telah lama kuharap-harapkan .
“Keisha... Keisha... !” terdengar suara melengking kuat yang berasal dari kamar sebelah, yang telah kuduga siapa orang tersebut .
“Ia ma.. aku udah bangun kok..” teriaku seraya membalas pertanyaan orang tersebut yang membuatku pusing kepala, yang selalu kudengar tiap harinya dirumah dan dimana saja.
Mama... Mama sebenarnya adalah mama yang dimimpi-mimpikan anak-anak lainnya.Cantik, baik, pandai memasak, dan tahu segalanya. Itu adalah karakternya. Tapi, yang membuatku sangat kesal padanya, yaitu teriakannya yang slalu dicetuskan padaku tiap pagi .
Bangun dari tempat tidur, segera kurapihkan tempat tidur dan tak lupa juga berdoa, kemudian berahli mempersiapkan diri kesekolah. Yah, itu sih udah menjadi kebiasaanku sehari-hari dan ...
“Aaahhh...!!” teriaku suram, karena melihat abangku yang masuk begitu saja dikamarku. Yaah, telah menjadi kebiasaannya juga yang selalu masuk kamarku tanpa mengetok pintu dahulu.
“Brian! Apa-apaan sih! Terus aja begini! Masuk pintu, gak ketok pintu dulu” cetusku sambil memperlihatkan kesinisanku
Kakakku.. Nama lengkapnya Briliant Ethan. Dia memang cocok diberi nama Briliant, karena otaknya sangat Briliant. Baru-baru ini, dia lolos tes masuk universitas kedokteran, dan karena keberhasilannya itu, dia selalu meremehkan aku yang katanya otaku itu sangat pas-pasan.
“Yaudahlah.. kalo udah biasa,ngapain pake marah-marah segala? kamu kan udah tahu kebiasaan aku.. hahaha” balas abangku dengan senyum sinis tanpa rasa bersalahnya itu.
“Auuuu...” ringisku, karena tiba-tiba saja abangku itu merebut sisir kesayanganku yang sementara kupakai untuk merapihkan rambutku.
“Gila luu yaa ! itu sisir kesayangan aku jangan diapakai dong! Rambut luu kan udah kayak pabrik salju! Ketombean tau!” jelasku dengan setengah berteriak , refleks langsung merampas sisir kesayanganku itu kembali ketanganku
“Pinjam bentar doang.. sisir gua patah semua Kei..” paksanya, dan langsung keluar dari kamarku dan membantingkan pintu tanpa rasa terima kasih sedikitpun.
“Ya ampun! Setengah tujuh? Aku bakalan terlambat lagi!” dengan cepat segera kualihkan perhatianku dari rambutku yang indah gemulai dan langsung melabrak tasku yang beruntung telah ku isi dengan buku-buku sesuai jadwal dan leptop kesayanganku
“Ma uang dong.. udah telat nih” teriaku sambil melompati tiap anak tangga
“Ambil saja di meja, udah mama siapin tuh” sahut mamaku yang udah tahu sikap sinis aku yang gak bisa ditoleransi dalam hal menunggu.
Tanpa menemui mamaku yang sedang senam pagi dihalaman belakang, akupun lari sekencang kilat seraya meneriakan sesuatu
“Aku pergi dulu ya ma” teriaku dari halaman depan yang tentu saja bisa terdengar sampai kehalaman belakang, karena suaraku yang gak tahu asal-usulnya dari mana, dan bisa ngebangunin orang-orang sekomplek kalo nangis tengah malam. Cara yang jitu!
“Aaaaauuuuuuuuhhhhhh...” ringisku karena menyambar tong sampah dekat rumah, yang ternyata sampah-sampahnya sudah diangkat oleh truk sampah yang biasa lewat didepan rumahku.
Truk sampah umum selalu melewati rumahku pas pukul setengah tujuh pagi. Dan itu tandanya ...
“Aku teeelllaaaaaaaatt” teriaku , yang mengagetkan seekor kucing yang hampir saja kutendang.
Sambil menunggu mikrolet yang lama banget lewatnya, aku pun mengambil handphone yang ada disaku dan mengetik sebuah pesan singkat yang ku kirim ke sahabatku . Sahabat terbaiku
“Ndy, udah bel blom? Kalo udah dibales, kalo belom ga usah. Oke?! Thanks before”
“Tiiiiiiiiittttt... ” Bunyi mikrolet yang berhenti didepan halte tempat biasa aku menunggu.
“Bang, St.Lucas ya” Kataku sambil naik kedalam mikrolet tersebut. Dengan segera kupaksakan kakiku untuk menaiki angkot tersebut dengan mata yang masih sedikit berayang-ayang.
“Bruuuuukkk ...”
“Ahhh..” ringisan kecil keluar begitu saja dari bibirku,karena menyambar seseorang yang ternyata duduk disebelah pintu masuk mikrolet .
“Eh.. S..ss..oo..rrr..yy” sahut seseorang tersebut dengan gagap karna mungkin merasa bersalah atas kecerobohan yang bisa dibilang bukan kecerobohanya, TAPI AKU.
Yaah , setidaknya aku sangat bersyukur karena ada seseorang yang mengatakan kata maaf . Bisa dikatakan sedikit aneh, karena dalam kehidupanku kadang sekali ada orang yang minta maaf .
Dengan cepat ku berdiri sambil meremas-remas tanganku yang tergores akibat kejadian tadi dan segera duduk disalah satu bangku mikrolet yang berada disudut belakang mikrolet tersebut .
“Kamu gak apa-apa?” tanya seorang laki-laki yang sepertinya sedikit lebih tuadenganku, dengan senyuman tipis yang tampak tulus . Aku terpaku! Wajahnya yang begitu bersinar, mata yang agak sipit, bibirnya yang mungil yang mengeluarkan senyuman ajaib, dan rambutnya yang berstyle korea seperti style anak cowok zaman sekarang, membuatku terpaku dan dengan sekejap rasa perih ditanganku akibat kejadian tadi hilang begitu saja.
“Gak apa-apa kok” sahutku dengan memberikan sebuah senyuman kaku dan tingkah laku yang tidak beraturan untuk membalas senyumannya yang ajaib itu .
“Bagus deh” balasnya, sambil membalikan badannya menghadap kedepan .
“Lelaki gagah dengan senyumannya yang ajaib”batinku dalam hati .
“Ngomong-ngomong kamu dari sekolah ma....” tanyaku seraya langsung menghentikan kalimat tersebut, karena tak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan berani bertanya kepada laki-laki-dengan-senyuman-yang-ajaib itu dengan santai tanpa rasa gugup sedikitpun.
“Ya?” jawabnya dengan segera membalikan badanya dan menatap wajahku, yang kupikir agak aneh untuk dilihat apalagi ditatap saat itu.
“E..e..nggak. Aku pengen tanya aja, kamu sekolah dimana ya?” tanyaku untuk kedua kalinya dengan suara yang bisa dikatakan terbata-bata .
“Fransiscus . SMA St.Fransiscus” sahutnya dengan mengeluarkan senyuman ajaibnya. Lagi!
Dengan pikiran yang agak melayang, aku hanya menatapnya seperti sedang menatap sebuah pangeran yang datang dari khayangan untuk menjemput sebuah putri, dan sepertinya yang aku khayalkan untuk menjadi putri adalah diriku sendiri.
“Hey!” Sahutnya laki-laki tersebut
Refleks akupun langsung menatapnya yang kali ini adalah tatapan sadar.
“Hah? kenapa? Ehh...emm..sorry..em.. kenapa ya?” Jawabku seraya menghilangkan kekagetanku .
“Kamu SMP St.Lucas kan? SMP diseberang jalan sana kan?” tanyanya .
“Hah? seberang maksut ka...” Belum saja seutas kalimat kucetuskan, akhirnya aku sadar kalau ternyata sekolah ku sudah dekat dan...
“STOOOPPPP!!!!” teriaku seraya sedikit berlari dan lompat dari angkot tersebut dan melemparkan uang ongkos kepada abang tukang angkot yang sepertinya agak heran dengan tingkah laku ku.
***
Untung saja dewi fortuna masih berpihak padaku. Mungkin jika aku telat beberapa detik saja peristiwa yang sangat tidak diinginkan siswa dari sekolah manapun, akansegera menimpa hidupku pagi ini!
Dengan senyum yg melekat di wajah, akuberjalan sambil menatap muka seram Pak Gilbert yg kasar dan berkumis. Setelah lolos darinya,dengan segera kulangkahkan kaki lebar-lebar dan berlari melewati koridor kelas 8. Ketika hampir sampai di depan pintu kelas, tak sengaja siku tanganku menyambar tangan seorang siswa yg sedang membawa selembaran kertas yang aku-sendiri-tidak-tau-apa. Tak terelakan kertas-kertas tersebut jatuh dan berserakan di lantai...
“Maaf-maaf” dua buah kata itu langsung saja terucap dari mulutku, tanganku sembari mengumpulkan kertas-kertas yang jatuh berserakan tersebut.
“Gak usah, gak usah. Aku bisa sendiri kok” kata seorang laki-laki bertubuh jangkung, menggunakan kacamata, dan rambutnya yang agak tidak beraturan tersebut.
“Oh.. kalo gitu, aku pergi ya, soalnya udah telat nih. Sekali lagi sorry yah” kataku yang melemparkan sebuah senyuman tipis dan langsung berlari seperti orang kesurupan menuju ruang kelas yang ada disudut pandanganku.
Hampir. Hampir saja aku ditahan didepan kelas karena terlambat. Untung saja Pak Marchel mempunyai hati bagaikan bidadari yang akhirnya mengizinkanku untuk masuk kekelas, setelah beberapa menit aku mengeluh-eluh atas kejadian yang hampir membuatku pulang kerumah tadi.
Panas, bau, pengap, segalanya tercampur menjadi satu dikelas ini. Kalau saja ada kipas angin disekitar sini, pasti sudah ku curi dan kubawah ketempat yang membosankan sekaligus terkutuk ini.
“Triinggg .. triinggg ..” akhirnya bel istirahat pun berbunyi . Dengan semangat, kulangkahkan kaki ku dengan cepat kearah kantin seraya menarik tangan sahabatku, Mindy .Mindy adalah sahabat terbaik yang pernah kukenal. Dalam keadaan apapun dia selalu bersamaku dan selalu menolongku. Badannya yang kurus seperti batang lidi dan mempunyai tulang-tulang yang panjang yang membuatnya jangkung, menghalau setiap penglihatanku untuk berlari kemana saja aku pergi
“Mindy.. minggir ah” kataku dengan sedikit berteriak.
“Ngapain?” jawabnya dengan memonyong-monyongkan bibirnya yang sebenarnya tanpa harus memonyongkannya, bibir merahnya tersebut memang sudah maju 5 senti.
“Your body is too tall and covered me!” Cetusku sinis sambil menunjukan keanehan wajahku.
“Makanya, tinggian dikit dong! Liat badan gue, mantaap” dengan bangganya dia meninggi-ninggikan dirinya yang sebenarnya apapun yang dikatakannya itu tidak ada yang benar sedikitpun .
Tanpa membalas pengakuan yang tidak sesuai dari Mindy, akupun menerobos dengan segala cara untuk bisa masuk ke kantin dan memesan apapun yang ada dipikiranku saat itu.
***
Saat memesan ...
“Mbak aku pesan bakso satu sama frutie botol ukuran sedang ya” pesanku kepada seorang wanita berumur sekitar 40-an yang berdiri dengan senyuman manis didepanku. Dengan segera kubalikan badanku untuk menduduki meja disudut ruangan kantin dan...
“Bruuuuuuukkkkkkkkk....” Akupun jatuh tak berdaya ditempat dimana aku berdiri, karena seseorang yang menyenggolku entah sengaja maupun tak sengaja .
“Punya mata gak sih?” suara melengking terdengar sampai keujung gendang telinga menggelegar hebat ditelingaku. Eliza! Sudah ku duga! Eliza adalah seorang perempuan berbadan ideal, ketua perkumpulan anak-anak paling top disekolah, kedua orangtuanya juga adalah pengusaha terkenal di Jakarta dan ayahnya adalah ketua yayasan sekolah ini tapi sayangnya salah satu hal yang penting yaitu kecerdasan, tidak dimilikinya. Hanya sebuah otak udang atau bisa dibilang otak dibawah standart .
Dengan tidak menatap wajahnya, akupun berbicara dengan laga orang gagap “Maaf El.. aku gak.. aku gak...”
“Gak perlu! lain kali jalan pake mata dong!”Cetusnya dengan laga sok berkuasa untuk kesekian kalinya pada siapapun yang menghalang jalannya atau yang membuat dia terganggu atau merasa terhalau.
Dengan rasa sedikit takut aku pun segera beranjak dari tempat terkutuk tersebut dan langsung menduduki meja diujung ruangan yang telah kuincar sedari tadi. Hal yang sangat tidak diinginkan! Bukan karena wajahnya yang seram sambil menonjolkan matanya yang bulat seperti hewan liar, tapi karena suaranya yang melengking yang sepertinya melewati batas suara kepala sekolah saat berceramah atau memarahi siswa-siswinya ditengah lapangan.
Waktupun terus berjalan, detik demi detik, menit demi menit. Jarum panjang sudah mengarah di angka 1 dan itu menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar telah selesai. Akhirnya! Dengan cepat kubergegas pulang sembari mengatur buku-buku pelajaran yang berada diatas meja dan segera lari keluar ruangan kelas. Entah mengapa aku ingin cepat pulang hari ini. Instingku berkata bahwa akan terjadi sebuah kejadian yang bisa dikatakan ”Mukjizat” jika aku pulang cepat hari ini. Dan ternyata itu benar!
Saat keluar dari arena sekolah di depan gerbang, aku bertemu kembali dengan seorang laki-laki setahun lebih tua dariku yang kuberi julukan “lelaki-dengan-senyuma- ajaib”. Perasaan campur aduk pun membanjiri keadaan hatiku saat itu. Dengan tampang yang kuyakini tak ingin dilihat oleh lelaki manapun karena keanehannya, akhirnya aku menyapanya...
“Hei..” sapaku dengan nada yang agak bergetar
“Hai! kamu cewek yang tadi kan? yang dimikrolet?”
Serasa ada orang yang menampar wajahku, aku pun sadar dan mengingat kejadian dimikrolet tadi pagi. Yaa, membuat malu diriku sendiri dengan tersandung tanpa alasan didalam angkot tersebut.
“Oh.. eh.. iaa.. iaa.. itu aku” Pipi merona dan terlihat tolol itu sudah pasti dilihatnya dari wajah ku yang sedikit aneh ini. Kulanjutkan dengan senyuman pucat pasih yang mungkin agak membuatnya takut.
“Wajah kamu.. Eh maksudku, kamu gak apa-apa kan?” tanyanya dengan nada gugup yang agak ditutup-tutupi. Kelihatan dari wajahnya, sepertinya dia ingin cepat-cepat mengakhiri pertemuan yang kuanggap “Mukjizat” ini .
“Yah.. seperti yang kamu lihat saat ini, gak apa-apa kok. Kamu lagi buru-buru ya?” jawabku dengan melanjutkan sebuah pertanyaan yang mungkin bisa menambah kesempatan baginya untuk segera pergi jauh-jauh dariku.
“Iaa.. Latihan basket. Aku mau ke tempat latihan basket” senyuman ajaibnya pun kembali bertengger dibibir mungilnya. Dan dilanjutkan dengan melakukan suatu hal. Mencari-cari sesuatu didalam tasnya mungkin. Seketika, dikeluarkannya sebuah handphone berwana hitam mengkilat yang tiba-tiba membuatku terbelalak kaget karena melihat merek handphone tersebut.
“Blackberry? Mungkinkah? Astaga! Benar!” Batinku dalam hati sambil mengerutkan keningku yang kulakukan tanpa sadar.
“Aku boleh minta nomer handphone kamu gak?”
“Boleh-boleh...” Jawabku dengan perasaan sedikit gugup.
“Gak mungkin kan aku nunjukin hape sonny ericsson buntut ber-type W395 ku ini? Gak mungkin lah! Pasti dia bakalan nertawain aku!” Aksi tanya jawab dalam hati pun berlangsung.
“085256629291” Kataku. Dan kelihatannya dia sedang mengetik nomer yang sedang aku ulang-ulang agar tidak salah, dihape blackberry bold hitamnya dengan teliti.
“Oh.. ok.. thanks ya! Entar aku bakalan ngirim sms ke kamu. Anyway, kita blom kenalan ya? Namaku Kevin Behovier” Sebuah kalimat bertambahkan pengenalan keluar dari bibirnya yang mungil itu sambil mengeluarkan senyuman tipis yang bertengger di ujung bibirnya.
“Aku Keisha. Keisha Ethan” Seutas kata dan seulas senyum pun keluar dari bibirku yang bisa dikatakan beda jauh dengan bibir milik Mindy ini.
Tak ada sepatah katapun keluar lagi dari Kevin, lelaki yang kusebut lelaki dengan senyuman ajaib ini. Hanya sebuah kerlingan mata yang berisyarat bahwa dia sedang mengatakan “OK”.
***
Dirumah ...
Lagu dari Justin Bieber – Favorite Girl bersenandung dari ruang tamu. Handphone ku! Itu adalah nada dering sms handphone buntutku. Saat itu, aku sedang berada di dapur mengambil segelas air putih untuk diminum. Secepat kilat ku letakan gelas berisi setengah air putih itu dan segera berlari kearah ruang tamu untuk melihat pesan yang baru saja masuk di handphone ku itu .
Nomor yang tak ku kenali ...
Hai keisha! Apa kabar? Ini aku Kevin Behovier. Ini nomer handphone ku.
Jgn lupa disave ya! Anyway kamu lagi ngapain?
Kevin ? dari kevin ? Tanya ku dalam hati dengan setengah percaya. Tanpa menghiraukan sms tersebut, akhirnya aku membalas sms itu.
Hai juga kev! Aku baik.
Okey, udah aku save kok!
Ini baru sampe rumah, mau nonton nih. Kamunya?
Secepatnya aku menekan tombolok dan segera mengirim sms tersebut.
Dan mulai saat itu juga, aku dan Kevin mulai dekat. Bahkan aku menghabiskan pulsa sebanyak 100.000 setiap minggunya, hanya untuk membalas, mengirim, atau menelpon laki-laki tersebut.
***
Dua hari kemudian ...
Disekolah ...
“Mindy! Mindy! Mindy! Ada yang mau aku ceritain sama kamu . Sini dong!” teriaku dengan nada yang sedikit menggelegar yang langsung membuat sahabat terbaikku itu refleks berbalik menghadapku
“Apaan sih? Kelihatannya penting ya? Awas aja gak penting! Bakalan gua jitak kepala lu!” Cetusnya sinis seraya langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat duduk ku.
“Ada sesuatu yang mau aku kasih tau sama kamu. Tentang cowok yang aku temuin dua hari lalu” Jelasku dengan cepat, agar niatnya untuk menjitak kepalaku batal, karena kalau cara berbicaraku lambat, pasti kepalaku bisa jadi kayak kubah mesjid karena mengalami penjitakan-beralasan-aneh dari Mindy.
Aku pun menceritakan kejadian awal pertemuanku dengan Kevin sampai pengenalanku dengannya saat ini. Dan sepertinya, Mindy mendengarkan dengan baik dan begitu saksama. Aku sendiri pun sangat bersemangat untuk menceritakan segalanya kepada sahabatku itu, karena dia sangat mendengarkan. “Sungguh pendengar yang baik!” batinku dalam hati setelah menyelesaikan cerita yang agak panjang itu pada sahabat-ku-yang-agak-aneh itu.
Dengan hati bergelimang perasaan senang, aku memperlihatkan sms dari Kevin pada Mindy. Setiap kali Kevin mengirimiku sms, saat itu juga Mindy harus tau mengenai sms yang baru masuk kontak handphone ku itu. Dan bisa dikatakan, sepertinya aku mulai suka dengan laki-laki unik ini. Hal itupun tak lupa ku katakan pada sahabat terbaiku, Mindy.
***
Hampir dua minggu semenjak hari pertama aku kenal dengan laki-laki dengan senyuman ajaib yang sebenarnya mempunyai nama “Kevin” tersebut. Banyak perubahan yang terjadi. Semakin lama, aku semakin dekat dengannya.
Begitu juga dengan Mindy. Perubahan aneh terjadi dengannya. Sepertinya, semenjak aku mengenal Kevin, semenjak itu juga sikap Mindy agak berubah. Lebih aneh dan lebih pendiam. Mindy yang sangat terkenal dengan sikap ramah, cerewet dan periang menjadi Mindy yang lebih sering menyendiri dan pendiam. Sering kali aku bertanya-tanya dalam hati maupun secara langsung pada sahabat tersayangku itu, tapi tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Sepertinya, dia membungkam mulut 5 sentinya itu dengan sebuah rahasia yang begitu ingin kuketahui.
Sampai suatu hari, di sore hari yang teduh ...
Ku kenakan kaus putih bercorak kan tulisan-tulisan tak jelas, yang ku pasangkan dengan blue jins ketat pendek serta jaket kuning-hitam kesukaanku. Sore itu, aku bertujuan untuk mengembalikan buku-buku pelajaran pinjamanku yang kupinjam dari Mindy sehari sebelumnya. Dengan setengah berlari ku turuni anak-anak tangga dan segera menyambar tas miniku yang digantungkan di dinding dipinggir tangga tersebut, dan langsung meninggalkan rumah tanpa pamit karena dirumah memang sedang tidak ada orang kecuali abangku yang sedang menonton film kesukaannya di ruang nonton disebelah dapur.
Rumahku hanya berjarak sekitar 150m untuk sampai kerumah Mindy. Dan itu sebabnya, aku memilih untuk berjalan kaki kerumah sahabatku itu, sekalian menggunakan kesempatan ini untuk berjoging sore.
Kusenandungkan beberapa lagu berbahasa Inggris, Justin Bieber kesukaanku secara tak jelas karena beberapa lagu dari artis cowo ganteng ini tidak kuhafal. Yah, karena kupikir menghafal puisi dua bait saja sudah susah, apalagi menghafal lirik lagu yang mungkin lebih dari 10 bait.
***
Didepan rumah Mindy ...
Seperti tersambar petir dengan berjuta-juta volt atau tegangan, kepalaku terasa pusing, badan tak bergerak dan serasa lemas, seraya mengeluarkan beberapa tetesan air mata. Apa yang dilakukan mereka berdua sangat berada diluar pikiranku. Sejak kapan? Kenapa dia tidak memberitahuiku? Pantas sikapnya mulai berubah aneh!
Yap! Kevin sedang berada di depan pintu rumah Mindy saat itu. Terlihat aneh. Tangan sebelah kiri Kevin memegang salah satu tangan Mindy, dan tangan kanannya memegang sesuatu atau dengan tak sanggup kulafalkan, B-U-N-G-A M-A-W-A-R! Sedang apa mereka berdua? Apa yang terjadi? Hatiku bertanya-tanya dan perasaan bingung tak menentu melayang-layang dipikiranku saat itu.
Penampilan Mindy terlihat biasa-biasa saja. Hanya raut wajahnya saja yang agak berbeda. Terlihat pucat dan tidak terlihat sedang mengeluarkan ekspresi senang. Sedangkan Kevin, dengan kameja kotak-kotak berwarna merah hitam, kaus putih didalamnya, celana jins hitam, dan sepatu dork model baru menyelimuti penampilannya saat itu. Terlihat begitu beda! Lebih santai dan .... tampan. Kata tersebut tak dapat kupungkiri. Kevin memang terlihat sangat tampan walaupun sebenarnya aku tidak bisa melihat raut wajahnya karena dia sedang berdiri membelakangiku dan Mindy yang menghadap kedepan tanpa menyadari bahwa aku, sahabatnya yang memiliki perasaan khusus pada laki-laki didepannya itu sedang berdiri tak berdaya didepan gerbang rumahnya.
Sesaat, sesuatu membuyarkanku dan membuatku tersadar akan lamunanku. Sepertinya, Kevin sedang mengarah keluar halaman, keluar gerbang, ke tempatku berada sekarang. Dengan secepat kilat kuberlari mencari tempat sembunyi dan yang kudapatkan hanyalah sebuah pohon yang agak besar disamping rumah Mindy.
“Ngeeeekk...” bunyi melengking yang dikeluarkan oleh gerbang tersebut mengilukan telingaku. Dengan setengah pikiran yang melayang,dengan tatapan kilau, kulihat didepan mataku, seorang laki-laki yang sangat kusukai berjalan melalui jalan raya didepan rumah sahabatku. Terlihat wajahnya yang pucat pasih, raut wajahnya yang tak berkenan dilihat dan satu hal yang penting, tidak ada senyuman ajaib.
Tiba-tiba ...
“Bruuukkk!!! Ngeekkk!!! Buuumm!!!” Suara-suara aneh mengagetkan lamunanku dan refleks kumencari arah asal suara tersebut dan ternyata ...
“Keevviiiiiiiinnnnn!!!” terdengar suara seorang perempuan dengan nada bergetar kuat, yang pastinya bukan aku. Mindy! Itu Mindy!
Dengan kagetnya aku melihat dengan kepala-mataku sendiri, Mindy sedang mencoba untuk menyelamatkan Kevin yang baru saja tertabrak sebuah angkot yang melaju cepat yang membuatnya terlempar ditepi trotoar. Beberapa orang dewasa berkumpul disekitar mereka dan membantu Mindy mengangkat tubuh Kevin yang tergeletak tak berdaya kesebuah mobil didepan rumah Mindy. Sepertinya itu mobil seseorang yang tidak sengaja memarkirkan mobilnya, yang kebetulan berada dilokasi tersebut dan membantu mereka.
Dengan hati berlumuran rasa pedih yang mendalam, masih tersempatkan kudengar suara-suara orang dewasa tersebut yang berteriak sebuah nama rumah sakit. Sepertinya “Rumah Sakit Maria Magdalena”. Ya! Benar! Rumah sakit tersebut berjarak 800m dari lokasi tempat Kevin tertabrak, didepan rumah Mindy. Sepertinya Mindy juga ikut bersama orang-orang dewasa yang kelihatannya belum dikenalnya itu.
Dengan cepat kulangkahkan kaki ku lebar-lebar dan berlari kearah rumah. Begitu sampai dirumah segera ku berlari kearah kamar dan mengambil beberapa uang yang kusimpan dalam lemari bajuku, dan dengan nafas yang terengah-engah kupercepat langkahku dan menaiki angkot yang mengarah ke RS.Maria Magdalena.
Kepanikan menjalar ditubuhku. Rasa cemas, takut, sedih, dan marah karena melihat kejadian Mindy dan Kevin pun ikut menjalari tubuhku. Dengan setengah berangan-angan agar Kevin tidak apa-apa, tercucur air mata rasa kepedihan di pipiku.
***
Sesampainya dirumah sakit ...
“Mindy!” teriaku dengan nada yang menggelegar seraya berlari menuju tempat dimana sahabatku itu berdiri.
“Keisha? Nga.. nga.. ngapain kamu disini?” Sahutnya dengan nada setengah percaya bercampur nada takut karena telah membohongi sahabatnya sendiri, yaitu aku.
“Gak usah sok kaget, gak usah sok panik, karena aku udah tahu semuanya! Segalanya tentang kamu dan Kevin! Aku sudah bisa nebak, jadi kamu gak perlu ngasih tau aku!”
“Ta..ta..ttapii Kei, kamu salah paham! Aku sama Kevin gak ada hubungan apa-apa, biar aku jelasin sama kamu!” Tak bisa mengeluarkan nada-nada yang tepat. Itu suatu kesimpulanku mengenai Mindy yang sedang berbicara saat ini.
Dengan tatapan dingin yang kulirikkan padanya, dan hanya dengan dengusan tak berarti akupun mencoba untuk mendengarkan segala penjelasannya walaupun sebenarnya aku sama sekali tak ingin mendengar alasan-alasan yang tak penting dari sahabatku itu. Tapi bagaimanapun, dia adalah sahabatku. Sahabat terbaikku yang telah membohongiku saat ini.
“Gue gak punya hubungan apapun sama Kevin. Kevin itu adalah pacar kakak gue, Debrylia. Mereka berdua udah pacaran semenjak kelas dua SMP. Mereka itu se-SMP Kei!. Dan tadi, Kevin mau minta tolong sama aku buat bantuin dia baikan sama kakak gue. Mereka lagi marahan. Tapi, Debry bersih keras buat gak nemuin Kevin. Debry minta gue untuk ngusir mantan pacarnya itu. Mereka udah putus!”
Rasa bersalah yang begitu dahsyat membanjiri hatiku. Perih rasanya! Aku menuduh sahabatku sendiri demi alasan yang seharusnya tidak ku pertanyakan dari awal. Kini, rasa perih yang kualami bukan lagi karena Kevin ataupun mengenai Kevin dan Debrylia, kakaknya Mindy. Tapi, rasa perih yang begitu dalam karena telah menuduh seorang sahabat yang sangat kusayangi.
Perasaan tegang dan takut meliputiku dan sahabatku Mindy. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar sentakan kaki berlari. Segera ku balikan badanku untuk mencari-cari arah suara sentakan kaki tersebut. Dan ternyata itu adalah, Debrylia.
Pelukan hangat berlumuran perasaan sedih oleh Mindy dan kakaknya terlihat begitu jelas. Aku yang mengamati saja bisa merasakan perasaan tersebut. Tiba-tiba terdengar untuk kedua kalinya sebuah sentakan kaki berlari dari ujung pintu masuk.
“Eliza?” batinku.
“Kak Debry, Mindy, gimana keadaan kakak gue?” Pertanyaan Eliza terlontarkan begitu saja.
“Kakak? Kevin adalah kakaknya Eliza?” batinku untuk kedua kalinya.
Kemudian, terdengar suara berbicara pada kami berempat.
“Maaf, apakah diantara kalian ada yang berdarah B?” tanya seorang dokter dengan tampang yang gagah, dengan suaranya yang agak serak basah.
“Aku adiknya dok! Tapi, aku gak punya golongan darah yang sama dengan kakakku. Golongan darah Kevin sama seperti Ayahku. Sedangkan golongan darahku sama seperti ibuku, golongan darah A” Jelas Eliza dengan tatapan yang sepertinya sedang mencari harapan kepada yang lainnya
“Gue ma kakak gue golongannya A juga” Cetus Mindy dengan rasa bersalah dan dengan nada yang agak bergetar.
Tiba-tiba saja ada sesuatu hal yang melewati dan memburamkan pikiranku.
“AKU! AKU PUNYA GOLONGAN DARAH B!” Dengan nada yang sedikit tergesa-gesa, akhirnya aku bisa melontarkan kalimat tersebut.
Eliza, Mindy, maupun Debrylia terbelalak kaget. Rasa senang yang bergelimpahan mungkin sedang mereka rasakan. Senyuman tipis pun bertengger disetiap bibir mereka.
Dengan penuh kepercayaan dan pengharapan, Eliza menuturkan beberapa kalimat padaku.
“Kei, kali ini hidup gue bergantung ditangan elo! Gue butuh banget bantuan lo kali ini! Gue juga mau minta maaf buat semua kesalahan gue ke elo! Gue mohon bantu gue dan kakak gue kali ini!”
“Tenang aja El. Aku pasti bakalan bantuin kamu dan kakak kamu sebisa aku” tanpa mengeluarkan kalimat apapun lagi, kutulusuri jejak langkah dokter tersebut dan mengikutinya kearah ruang pengambilan darah.
Rasa panik dan perasaan yang aneh bercampur aduk dalam pikiranku saat itu.
Hampir setengah jam, akhirnya proses pendonoran darah tersebut berhasil dilakukan.
Dengan badan yang tergopoh-gopoh, kupaksakan kaki ku berjalan menuju ruangan tunggu, tempat dimana Mindy, Eliza dan Kakaknya Mindy berada.
***
Tiga jam kemudian ...
“Siapapun keluarganya, dipersilahkan untuk menengok keadaan saudara Kevin Behovier. Nak Kevin telah siuman” Kata dokter yang memeriksa Kevin sekaligus yang bertanya untuk pendonoran darah tadi.
Dengan perasaan bergelimang kesenangan dan rasa syukur, kami berempat akhirnya berlari keruangan dimana Kevin diperiksa. Disana, kami menghibur Kevin dan tentunya Kevin bertanya-tanya bagaimana aku mengenal Mindy, Kakaknya, dan Eliza. Dengan perasaan bahagia, aku pun bercerita panjang lebar tentang semua yang dipertanyakan Kevin kepadaku.
Satu yang membuatku bahagia saat itu, akhirnya Kevin dan Debrylia kembali menjadi sepasang kekasih yang berbahagia. Dan tanpa perasaan sedih apapun, dan malahan perasaan yang begitu bahagia, aku menatap sepasang kekasih tersebut dengan perasaan bangga.
Kami berlima sangat menikmati saat-saat tersebut. Yah, dan tentu saja aku dan Mindy akhirnya tidak memiliki perasaan salah-paham lagi untuk yang kedua kalinya.
***
Dua hari kemudian , disekolah ...
“Hai Kei, hai Ndy!” Sapa Eliza dari kejauhan, sambil melambai-lambaikan tangannya yang putih bersinar itu kearahku dan Mindy.
“Hai El” Sontakku dan Mindy bersamaan.
Kami bertiga pun melangkah bersama kekelas melewati koridor, dan menyapa setiap anak-anak yang ada di koridor saat itu.
Sebuah Mukjizat yang adalah anugerah terindah! Akhirnya, aku bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik semenjak kejadian itu.
Hal terbaiknya, Eliza sekarang berubah 100 persen menjadi siswa yang lebih baik. Lebih ramah kepada siapa saja, dan lebih sering rajin belajar. Bukan hanya Eliza, aku dan Mindy juga berubah menjadi anak yang lebih baik dari sebelumnya. Kevin dan Debrylia kembali bersatu dan menjadi pasangan yang romantis kembali. Semuanya menjadi jauh lebih baik, dan hal ini sangat berpengaruh dalam kehidupanku begitu juga dengan mereka. Tuhan memang baik, karena menjadikan segalanya indah pada waktunya !
Satu hal yang sangat penting yang kupelajari dalam kejadian ini,
PERSAHABATAN LEBIH PENTING DARI SEGALANYA
TAMAT
I see your love in her eye (created by Yurike Kaunang)
I SEE YOUR LOVE IN HER EYE
Aku melihat kepedihan terpancar diwajahnya, terlebih dimatanya, dimata coklatnya.Mata itu.Mata yang aku cintai.Mata yang membuat aku tidak menginginkan untuk menyakitinya. Meski senyum terukir dibibirnya, aku merasakan rasa berat yang ia pendam. Aku tahu dia tidak menginginkan aku untuk pergi dan dia tahu aku tidak ingin meninggalkannya. Namun ini untuk masa depanku dan untuk kebahagian orang lain yang aku cintai. Apa yang harus aku lakukan? Memeluknya?Menciumnya?Mengatakan aku mencintainya? Tidak! Terlalu cepat untukku.Terlalu cepat untuk anak berumur 6 tahun.Tapi aku yakin dia tahu itu.Aku yakin dia cinta aku meski saat ini belum saatnya.Aku tahu itu.Bibirku memberikan senyuman pahit tanda tak mau berpisah. Aku tak kuasa menahan rasa ini, aku ingin memeluknya… Dan tanpa bisa ku cegah, kedua tanganku merangkulnya.Mendekapnya dalam pelukanku. Aku merasakan ia juga memelukku. Ia tidak ingin aku pergi.
“Kamu nggak usah takut, Putri Kecilku. Aku akan kembali. Aku akan kembalil buat kamu. Karena aku sayang sama kamu. Tapi kamu janji kan mau nunggu aku?” tanyaku dibalik telinganya.
“Tentu, Lan. Aku pasti akan selalu menunggu kamu. Jangan kecewakan aku ya, Lan.” Jawabnya.
Aku melepaskan pelukanku kemudian memegang tangannya.“Aku janji Putri Kecilku.”Kataku bersumpah padanya. Pada Putri Kecilku. Padanya, pada Erika.“Aku pergi dulu, ya.”Aku beranjak meninggalkannya.Ia diam seribu bahasa.
“Alan!” Erika menyebut namaku dalam keheningan itu.Aku berbalik dan menghadapkan wajahku untuk menatap mata coklatnya sekali lagi.
“Aku sedih kita harus berpisah dihari istimewa ini.Dihari ulang tahun kamu.Maaf, aku hanya punya ini untukmu. Aku harap kamu suka.” Ujar Erika. Ia memberikan sebuah kotak persegi yang dihias motif bunga cerah dan diikat sebuah pita merah jambu muda. Aku menerimanya dengan senang hati dan dengan rasa berat hati karena harus meninggalkannya.Kali ini aku yang terdiam.Speechless.Kemudian aku masuk kedalam mobil.
Tapi aku terpancing untuk berkata, “Jaga diri kamu baik-baik, Erika!” teriakku dari dalam mobil.Erika membisu.Kali ini Ia yang terdiam lagi. Tidak mengatakan sepatah katapun bahkan ketika mobil yang aku tumpangi mulai berjalan lebih jauh darinya.
“AKU SAYANG KAMU, ALAN!” Erika berteriak.Mustahil bagiku untuk mendengarnya dari kejauhan.Tapi hatiku tertinggal disana.Begitupun telingaku.Begitupun mataku.Aku masih merasakannya.Aku masih mendengarnya berteriak. Berkata ia menyayangiku. Aku masih melihatnya.Masih melihat tubuh mungilnya, rambut hitamnya, bibir kecilnya, dan… mata coklatnya.Aku belum sepenuhnya merelakan perpisahan ini.
***
15 tahun kemudian…
“Terima kasih, Alan.”
“Sama-sama.Itu tugasku.Kamu tidak perlu berterima kasih.Aku tulus padamu.”Kataku padanya.
Indri.Itulah namanya.Gadis yang selama 4 tahun ini menemani hari-hariku.Aku mencintainya.Tidak pernah terpikir olehku untuk mempermainkannya meskipun dengan keterbatasannya yang membuat banyak orang berpikir dia hidup hanya untuk dipermainkan.Ya.Indri buta.Pertama kali aku bertemu Indri adalah saat SMA.Ia tidak sekolah disekolah yang sama denganku. Melainkan dengan pekerjaan papanya yang adalah seorang direktur diperusahaan keluarganya, mamanya yang merupakan rektor disebuah universitas terkenal di Jakarta, dan kekayaan keluarganya yang tidak akan habis sampai keturunan ke 50, bukan perkara besar untuk menyekolahkan Indri dengan keterbatasannya itu. Indri bersekolah home-schooling khusus anak-anak tuna netra.Saat itu, Indri sering melewati sekolahku setiap siang hari.Aku melihatnya duduk santai didalam mobilnya, memakai kacamata hitam, dan dengan cueknya menghadap kedepan.Rasa penasaranku bertambah ketika dengan sengaja aku mengikutinya sampai kerumahnya.Dua hari setelah kejadian itu, aku dan Indri saling kenal. Setelah 2 bulan berkenalan dan berteman---tentu aku sudah mengetahui bahwa Ia mengenakan kacamata karena ia buta---akhirnya aku menyatakan cinta padanya. Aku menginginkannya untuk menjadi pacarku.Ia menerimaku dengan senang hati. Sempat satu kali Ia bertanya kepadaku apakah aku benar-benar menyayanginya atau aku hanya mempermainkannya. Namun dengan lancar aku menjawab, aku tidak pernah punya hubungan main-main dengan siapapun.Jadi, jika aku memintanya untuk menjadi pilihan hatiku, artinya dialah yang aku mau.Aku tulus mencintainya tanpa balasan atau karena iming-iming harta kekayaan keluarganya. Tapi aku menerimanya apa adanya.
Sejak lahir, mata Indri sudah tidak berguna. Setiap detik dalam hidupnya, Ia hanya berharap mendapatkan berita baik bahwa ada yang ingin mendonorkan matanya kepada dirinya. Namun penantiannya selama 20 tahun tidak kunjung datang. Hampir disetiap kesempatan jika kami bersama, Indri akan mengatakan agar aku tidak meninggalkannya.
“Aku terlalu takut untuk tinggal sendiri, Lan.Selama ini kamu yang selalu ada buat aku.Aku nggak pernah mau mengecewakan kamu.Dan, aku harap kamu juga nggak akan mengecewakan aku.”
Yang aku bisa katakan hanya, “Aku nggak tahu apakah kita ditakdirkan untuk bersama atau tidak.Tapi, satu hal yang aku tahu. Aku akan menyayangimu saat ini dan sampai selamanya. Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Saat itulah aku melihat senyum manis yang aku gemari menghiasi wajahnya yang mungil. Ia tersenyum pada udara, dan… padaku. Pada kesetiaanku.
“Kamu mau ajak aku kemana sih? Kamu tidak repot membantu aku untuk turun dari mobil, menuntun aku berjalan?Me…” aku memotong perkataan Indri.
“Berhenti berbicara seperti itu.Bukan baru satu kali aku mengatakan aku tulus padamu.Cobalah percaya padaku, Ndri.Kita bukan baru sebulan bersama.Melainkan 4 tahun!” tegasku lagi.Selalu dengan halus.
Dan lagi-lagi aku mendapatkan senyum yang aku gemari.Senyum yang selalu membuat hatiku tentram.Senyum yang selalu membuat aku beruntung mendapatkannya.
“So, kita ada dimana sekarang, Harlan Prasetya?”Tanya Indri lagi.
“Ayo kita masuk.”Ajakku.Aku berencana memberikan surprise padanya.Hari ini anniversary hubungan kami yang sudah menginjak tahun ke empat.
“Aaalllaaannn… Jangan buat aku penasaran gini bisa nggak, sih?” rengek Indri.
“Nggak.Hahaha.”Aku menahan tawaku melihat wajahnya yang merah padam karena kesal aku belum memberitahu kemana aku membawanya.Setelah sampai tepat ditempat yang aku inginkan, aku menuntunnya untuk duduk.“Sekarang, ayo duduk.”Kataku pada Indri.
Indri mengikuti instruksiku.Meski sebal, aku melihat kebahagiaan terpancar diwajahnya.Aku yakin Indri bahagia hari ini.Dan aku tidak mau bahagia itu luntur. Aku akan membuat bahagia itu menjadi berharga.
“Sekarang bilang ke aku, Lan.Kita ada dimana?Ayo dong.Jangan manfaatin kekurangan aku ini untuk bikin sesuatu yang aneh-aneh.Aku nggak suka.”Indri mengancamku.
“Aku nggak akan buat yang aneh-aneh kok.Malah taruhan.Kamu pasti akan suka dengan kejutanku.”Kata ku penuh percaya diri.
Saat ini, aku dan kekasihku, Indri berada ditaman mawar punya tanteku.Aku tidak tahu harus mencari tempat romantis dimana lagi. Akhirnya aku menulis status di twitter tempat apa yang tepat untuk memberikan kejutan pada kekasih pada hari ulang tahun masa pacaran kami. Banyak yang memberikan tanggapan dengan membawanya ke taman atau tempat yang dipenuhi bunga. Karena banyak gadis yang suka bunga. Tidak tahu harus kemana, akhirnya aku membujuk tanteku untuk meminjamkan taman mawarnya---sebagai gantinya aku harus memberikannya tas dengan brand terkenal yang ia inginkan. Dolce et Gabana atau yang diberi symbol D&G. Impossible! Tidak terbayang betapa dalamnya kocek yang harus aku gali untuk membeli tas itu---untuk aku dan Indri.
“Trus apa dong?”Tanya Indri halus.
Aku memetik satu bunga didepanku.Aku menggenggam tangan Indri dan membawanya memegang daun mawar itu---tidak mungkin rasanya aku menyuruhnya untuk memegang tangkainya yang penuh dengan duri.Tanpa aku konstruksikan, Indri menarik bunga itu dan menciumnya.
“Mawar?” tebak Indri dengan sangat tepat.
“Untukmu.”Jawabku.
“Alan! Ini… Sungguh romantis! Terima kasih.Terima kasih.”Ungkapnya.Aku merasa melayang.
“Tebak ini mawar apa?” Tanyaku.
“Hmm… Dari baunya sih… Itu… Mawar merah?” Tebak Indri.
“Benar, sayang.Kamu tahu apa arti mawar merah?”Tanyaku lagi.
“Kasih sayang!Cinta!”Tebak Indri lagi, dengan tepat lagi.
“Ya.Kasih sayang dari aku.Cinta dari aku, untuk kamu.”Ucapku sambil mengantar tangannya memegang bagian tangkai dari bunga itu yang tak berduri.Aku menggenggam tangannya.“Kamu tahu, saat ini bagian yang kamu pegang adalah tangkai yang tidak ada durinya.Mawar yang melambangkan cinta aku ini bukan melambangkan hubungan yang berjalan mulus.Ada duri dibagian-bagian tangkai ini.Dan kapan saja, kamu ataupun aku bisa menyentuhnya dan merasakan sakit itu. Artinya, hubungan kita tidak akan berjalan semulus apa yang kita bayangkan, apa yang kita inginkan. Dan ketika sakit itu dapat kita atasi, semua akan baik-baik saja. Jika kita bisa menyelesaikan semuanya dengan baik, hubungan kita akan baik-baik saja. Aku cinta kamu.”Jelasku.
Indri diam seribu bahasa.Aku menatap matanya.Mata yang tak berwarna yang membuatku jatuh hati dan ingin membuatnya bahagia.
“Kenapa kamu diam?Is there something wrong?” Tanyaku penasaran.Indri menggeleng. “Then why?” Tanyaku lagi.
“Aku… aku… speechless, Alan. Itu terlalu… Ahh… Aku terlalu beruntung memilikimu. Aku… Terima kasih, Alan.Terima kasih untuk membuatku merasa beruntung memilikimu.Terima kasih telah membuatku menyadari masih banyak hal yang bisa aku lakukan didunia ini.”Ucap Indri dengan terbata-bata.
“You don’t need to thanks to me. Seribu kali aku mengatakan, itu tugasku.I did it with my whole heart. I love you along my life.” Jawabku singkat.
“Kamu berjanji akan mencintaiku selama-lamanya?” Tanya Indri.
“Tidak.”Jawabku.Indri mengerutkan keningnya. Sebelum dia berbicara, aku berkata, “only vampires could love you forever. Aku manusia.Aku bisa mati.Tapi aku akan mencintaimu sampai ajal menjemputku.”Indri tersenyum.
“Kamu buat aku takut.Sekali lagi terima kasih, Alan.” Ucap Indri.
Aku mengecup halus keningnya kemudian memeluknya.Aku tersenyum bahagia.Tapi tetap ada sesuatu yang mengganjal dihatiku.Aku masih menantikan seseorang.Aku masih mencintainya.
***
Tentu, Lan. Aku pasti akan selalu menunggu kamu. Jangan kecewakan aku ya, Lan
Aku sedih kita harus berpisah dihari istimewa ini.Dihari ulang tahun kamu.
AKU SAYANG KAMU, ALAN!!
Suara itu! Aku tersentak dari tidurku.Aku memperhatikan sisi-sisi kamarku yang kelam. Pintu, televisi, komputer, lemari baju, pintu kamar mandi, play station, aku mencoba mengumpulkan isi-isi mimpiku itu dalam otakku. Nihil.Otak bawah sadarku tidak mengizinkan otak sadarku untuk mengobrak-abriknya.Tapi aku masih ingat suara itu.Suara yang selalu memecah konsentrasiku. Dia… Dia Putri Kecilku.
Tok… tok… tok… tok…
“Masuk!”Teriakku dari dalam kamar.
Pintu kamarku terbuka.Aku melihat mamaku masuk kedalam kamar.
“Pagi, Alan.” Sahut mama dengan lembut.
“Pagi, ma.”Jawabku.Aku heran kenapa pagi-pagi begini mama datang ke kamarku.
“Tebak mama bawa siapa.”Mata usil mama mulai muncul.
“Siapa?”Tanyaku heran.Tidak biasanya pagi-pagi begini mama memberikan surprise padaku.
“Masuk, Grace.” Mama memberi kode untuk masuk pada Grace, kakakku yang berumur 3 tahun lebih tua dariku.
Grace masuk dengan membawa seseorang kedalam kamarku. Indri! Tidak heran lagi.
“Selamat pagi, Alanku.”Ucap Indri dengan senyuman kepadaku. Aku tersenyum kepadanya---meskipun aku yakin sekali ia tidak dapat melihat senyumku yang mekar untuk kedatangannya.
“Selamat pagi, Indri sayang.What are you doing this morning here?” Tanyaku heran.Lebih heran lagi ketika melihat Indri yang tersenyum usil padaku.
Grace membawa Indri mendekat ke tempat tidurku. Mama mengikuti dari belakang. Grace menginstruksikan Indri untuk duduk didekat tempat tidurku. Akupun bangkit dan mendekat pada Indri.
“I do nothing. And this is not morning as you mean, honey.” Senyum usil Indri semakin menjadi-jadi dan aku semakin bingung.
“Maksud kamu apa?” Aku bertanya.Kepada Indri, Grace, dan Mama.Dan seperti telah diperintahkan, aku segera menatap jam dindingku yang tergantung di atas televisi kamarku. Jam 12 lewat 5 menit? Apa yang mereka lakukan dikamarku sepagi ini?
“Happy birthday to you.Happy birthday to you.Happy birthday, happy birthday.Happy birthday to you.”Senyum di bibir Indri mengembang.Ternyata aku belum pulih betul dari mimpiku barusan.Hari ini tanggal 19 Oktober.Ini hari ulang tahunku.Papa masuk kedalam kamarku dengan membawa kue ulang tahun kecil dengan angka 22 diatasnya.Aku meniupnya.Semua orang dikamarku tersenyum.Begitupun dengan Indri---aku tidak yakin apakah Indri benar-benar melihatku meniup lilinnya.
“Happy birthday, Alan.” Mama mengucapkan selamat padaku sambil kemudian memberikan kecupan di pipiku.
“Happy birthday, sayang.Wish you all the best.” Indri memberikan ucapan padaku dan kemudian mencium pipiku.Ia memeluku. Aku memeluknya dengan kasih.Aku membisikkan terima kasihku ditelinganya. Aku bisa merasakan ia tersenyum.
“Happy birthday, Lan.Wish you all the bestlah. Makin sayang sama Indri ya.” Grace memberikan salam padaku. Ketika Ia menyebut nama Indri, ia melirik Indri. Indri tersenyum sambil memamerkan gigi-giginya.
“Bisa aja lo ah.Thanks ya.” Jawabku. Grace mengangkat keningnya dan kemudian memamerkan cengirannya.
Papa yang sedari tadi berdiri didekat mama meletakkan kue didekat tempat tidurku dan kemudian memberikan ucapan selamat ulang tahun padaku.Aku memeluknya.Tidak biasa papa bertingkah seperti ini.Papa kemudian melepaskan pelukannya dengan mata berkaca-kaca.It’s kind a weird.
“Mama udah nyiapin makanan dibawah. Ayok dimakan.”Ajak Mama.
“Mama kayak nggak tahu aja deh. Liat nih jam berapa!” Godaku.
Semua orang dikamarku melihat kearah jam didinding---kecuali Indri tentunya. Mama terlihat menahan tawa.
“Alan… Apaan sih?Nggak ngehargain banget. Mama kan udah nyiapin susah-susah. Masa nggak dihargain sih?”Indri mengambek.
“Ya udah, ya udah. Yuk.” Ajakku.Spontan semua langsung bergerak.Indri tentu menunggu untuk dituntun.Aku menggandeng tangan Indri dengan tulus.Indri tersenyum bahagia.
Ruang makan terasa lengkap dengan dihadiri semua orang yang kusayang.
“Iih… Ma, lengkap banget ya rasanya.Semua anggota keluarga ada disini.Calon anggota keluarga aja udah ada.” Grace menggoda Indri yang sukses membuat senyuman Indri mengembang.
“Grace apaan sih! Stop flirting me!” Indri mengambek kepada Grace.
“Iih emang beneran kan? Indri emang calon anggota keluarga baru, kan? Siapa juga yang nggak tahu.” Goda Grace lagi.
“Iya, Indri. Kamu nih emang deh. Kamu nggak usah malu-malu lagi sama mama sama papa. Nggak lama lagi juga kamu akan segera sering duduk disini makan dengan kami.” Sambung mama---mama memang berkata Indri tidak usah panggil tante atau om lagi. Tapi panggil mama dan papa saja.
“Maksud mama?”Aku dan Indri bertanya bersamaan.
“Nggak usah kaget gitu dong, Lan.Calm down.” Sahut mama.
“Ya trus maksud mama tuh apa?” Tanyaku semakin penasaran.Aku juga mellihat raut penasaran diwajah Indri.
“Papa dan mama berniat melamar Indri.”Jawab papa dengan singkat, padat, dan jelas.Melamar? Itu tandanya aku akan segera menikah dengan Indri. Aku akan hidup bahagia dengan Indri. Selamanya!
“Papa, papa serius?” Tanya Indri.
“Iya, Indri. Tentu! Papa dan mama sudah memikirkannya dengan sangat matang.”Jawab papa yang menurutku merupakan jawaban yang terlalu teramat jelas.
“Alan!” Indri berseru padaku.Tanpa berkata-kata lagi, aku langsung menggenggam tangannya.Aku tahu dia bahagia atas berita ini.Aku tahu itu dari matanya. Aku turut merasakan kebahagiaan yang sama dengannya. Sebentar lagi aku bisa lebih membahagiakan Indri. “Alan?” Suara Indri kali ini terdengar sedikit ragu. Oh! Mungkin dia heran mengapa aku langsung menggenggam tangannya tanpa berkata-kata.Oh dear! Seandainya kekasihku ini bisa melihat bagaimana aku bahagia mengetahuinya. Kebahagiaanku tentu akan terasa lengkap.
“Iya, sayang.Aku tahu.Aku bahagia.”Bisikku ditelinganya. Aku membisikkannya karena yakin Grace akan segera menggodai kami.
“Ciye… Yang udah mo marriednih ye… Pake bisik-bisikkan segala lagi. Suit… Suit…” Dan dugaanku tidak salah. Belum semenit aku membisikkan kebahagiaanku pada Indri, Grace sudah mengeluakan godaannya yang membuat Indri langsung tersipu.
“Grace. Kamu juga dong bawa siapa itu laki-laki yang pernah kamu kenalkan ke mama dan papa?Revo?Rivo?”Balas papa.Itu sudah sedikit membalaskan dendamku.
“Revy, Pa.” Jawab Grace malu-malu. Kakakku satu-satunya ini memang belum pernah memperkenalkan pilihan hatinya kepada mama dan papa.Ya, baru sekali sih.Itu juga katanya cuma mau ngobrol saja dan belum resmi pacaran meskipun aku tidak yakin dengan alasannya yang tidak masuk akal itu karena mereka terlalu dekat.
“Iya. Revy! Ajak dia juga dong.Sekali-sekali dinner bareng kita. Supaya papa juga bisa kenal dia lebih dekat.” Ledek papa lagi.
“Papa! Udah ah… Grace lagi nggak mau digodain gini.” Grace mengambek dengan senyuman kecil menghiasi wajah kuning langsatnya itu.
“Makanya jangan ngeledek kalo nggak mau diledek!”Balas ku. Grace tersenyum kecut. Langsung kualihkan pandanganku pada kekasihku yang tangannya masih berada dalam genggamanku.Aku masih melihat raut wajah bahagia terpancar disana.Aku tak bisa memungkirinya.Indri sangat mencintaiku dan bahkan terlalu mencintaiku.Aku tidak pernah tega membiarkan senyum bahagia itu pudar.Terpikir dibenakku sedikitpun tidak pernah.Bahwa ternyata hatikupun terlalu mencintainya dan tak ingin melepasnya.Ganjalan kembali bertumbuh dihatiku.
***
Setelah mengantar Indri pulang kerumahnya pagi itu, aku kembali masuk kedalam tempat tidurku. Pikiranku sudah tersusun dengan baik setelah surprise yang diberikan Indri, mama, papa dan Grace tadi. Kebahagiaan menyelimuti otakku. Kebahagiaan yang akan terwujud, senyum indah diwajah Indri… Aku bisa membayangkan semua kebahagiaan yang akan terwujud antara aku dan Indri nanti, sebelum ingatan itu datang menyerang kebahagiaanku. Keresahan memanipulasi pikiranku.
Aku sadar. Suara itu! Suara yang menjerit berkata menyayangiku 15 tahun yang lalu. Suara Putri Kecilku. Erika. Tiba-tiba kerinduan menghampiriku. Apakah Erika tahu aku akan segera menikahi Indri, kekasihku? Tahukah dia? Kalimat terakhir yang diucapkan Erika padaku 15 tahun lalu adalah bahwa ia menyayangiku. Masihkah dia? Lalu… Sedang apa dia sekarang? Apakah dia juga seperti aku?Aku yang merindukannya?Dua kemungkinan menghantuiku. Kemungkinan ia telah mendapatkan belahan jiwa yang sesungguhnya yang membuatnya melupakanku dan tidak merindukanku sama sekali, dan kemungkinan bahwa sampai saat ini Ia masih merindukan aku dan terus berusaha menemuiku. Ah… Ingin rasanya aku menemuinya.Memeluknya.Melepas rinduku selama 15 tahun terakhir. Sisi lain hatiku menolak! Aku terlalu takut menemui Erika. Tidak mungkin aku menemuinya untuk memberitahu aku akan segera menikah. Mungkin saja Ia akan segera melemparku. Menendangku.Membunuhku. Dan mungkin menggerogoti otaknya agar tak akan pernah memikirkan aku lagi. Ah… Terlalu sulit untukku.Maafkan aku, Erika.
Kakiku terayun menuruni tempat tidur.Menyusuri sudut kamarku.Membuka lemari pakaianku.Aku bingung.Apa yang aku lakukan? Otakku bekerja dengan keras.Memacu segala otot-otot badanku untuk membongkar lemari pakaianku.Kulitku menyentuh sebuah permukaan.Halus dan dingin.Kali ini aku merasa otakku tidak memprogram seluruh bagian tubuhku lagi.Kali ini aku yang ambil alih.Aku menarik benda tersebut.Sebuah kotak berbentuk persegi dengan motif bunga cerah menghiasinya disertai dengan pita berwarna merah jambu muda. Pemberian sang Putri Kecilku, Erika. Terlalu jahat aku ini bila aku melupakan pemberian ini.
Aku sedih kita harus berpisah dihari istimewa ini.Dihari ulang tahun kamu.Maaf, aku hanya punya ini untukmu.Aku harap kamu suka.
Ya.Mungkin aku memang terlalu jahat jika melupakan pemberian ini.Tapi aku juga merasa terlalu sakit untuk mengenang hal itu.Aku mendapati diriku yang tersungkur dilantai bersandar dilemariku.Aku tak tahu kenapa.Tapi sebagai seorang laki-laki, aku merasa aku terlalu cengeng.Perlahan aku kembali mengintip bingkisan tersebut.Sebuah foto.Yang pertama aku lihat adalah sebuah foto.Foto aku dan Erika.Rasa rinduku berkurang sedikit ketika aku memperhatikan senyumnya dan mata coklatnya yang terlihat jelas difoto ini.Ya.Foto ini memang masih terlalu bagus untuk foto yang telah didiamkan selama 15 tahun.Aku melihat aku menggandeng tangan Erika. Aku melihat aku adalah seorang anak berusia 6 tahun yang sungguh bahagia. Namun tak sebahagia itu lagi ketika aku harus berpisah dan tersakiti setiap kali mengingat akan hal itu. Terselip sebuah kertas di dalam kotak itu sebelum aku mengambil tape recorder yang ada disitu. Sungguh aku lupa akan apa yang tertulis dalam kertas itu. Dan aku lupa tentang apa yang terekam dalam tape recorder itu. Teganya aku, batinku.
Alan, ini foto kita berdua waktu kamu datang kerumahku untuk mengadopsi salah satu kelinciku tapi mamaku tidak mengizinkanmu. Sebagai gantinya, mama mengambil foto kita berdua. Aku memberikan yang satu ini untukmu agar kamu tidak akan pernah lupa masa-masa kita ketika kita bersama meskipun kita terpisah jauh (Jakarta dan Manado sungguh jauh untukku, Alan). Aku punya beberapa lagi.Akan aku bagikan padamu lagi jika kita bertemu. Aku yakin kok kita akan bertemu lagi. Kamu kan udah janji akan kembali untuk aku. Kalau begitu, semoga hidupmu bahagia ya, Alan. Dan jangan pernah lupakan aku.Rindukan aku disetiap saat. Aku akan selalu merindukanmu. Putri Kecilmu, Erika.
ERIKA!!! Aku mungkin akan selalu merindukanmu disetiap helaan nafasku! Namun hatiku telah terbagi. Aku telah memiliki orang lain. Aku sangat mencintainya.Tapi, kau harus tahu.Aku juga… sangat mencintai… dirimu.Apa? Apa yang aku pikirkan? Apa yang aku rasakan? Tidak! Tidak!
Setelah itu aku tidak berniat untuk mendengarkan suara yang mungkin masih terekam dalam tape recorder itu.Namun rasa rinduku lebih besar dari itu.Aku mengambilnya.Mulai mengaktifkannya. Ajaib! Barang itu ternyata masih berguna.
Halo Alan! Kamu mau pergi ya?Kamu kok jahat banget sih mau ninggalin aku sendiri disini?Aku tuh pasti bakalan merindukan kamu.Aku ingin meminta mama dan papamu untuk tetap membiarkanmu tinggal disini. Tapi… Ya, aku nggak bisa. Aku tahu ini juga demi masa depan kamu. Ini aku persembahkan sebuah lagu buat kamu.Tapi maaf ya.Ini belum selesai.Aku dikejar waktu. Terlalu susah untuk mendapatkan kata-kata dan melodi untuk diberikan kepada kamu. Tapi aku harap kamu suka.
Aku ingat! Aku ingat Erika yang begitu terobsesi untuk menjadi seorang penyanyi.Sejak umur 3 tahun dia sudah belajar menyanyi dan bermaini piano dari Om-nya.Suaranya merdu.Tidak terbayang betapa merdunya suaranya saat ini.Pasti lebih merdu dari sebelum aku meinggalkannya.Aku kembali sakit hati.Sebaiknya aku melanjutkan rekaman Erika itu.
“Sakit. Itu yang aku rasakan, ketika kau harus meninggalkanku.
Aku takut kau akan melupakanku. Aku terlanjur sayang padamu.
Akankah kita bersama lagi?Aku berdoa pada Tuhan.
Semoga kita tak berakhir sampai disini.
Oh Tuhan bantu aku menahan perasaan ini.
Oh Tuhan buat dia selalu mengingatku.
Karena aku terlanjur sayang.Karena aku terlanjur cinta.”
Itu lagu aku, Lan. Semoga kamu suka.Jangan pernah lupakan aku, ya.Aku sayang kamu.
Nyanyiannya membuat aku melamun.Sungguh seperti sebuah suara seorang peri.Nyanyiannya membuat aku tidak percaya bahwa yang menyanyikan itu adalah seorang gadis kecil berumur 6 tahun.Aku sungguh merindukannya.
Dan mungkin rindu itulah yang membuat butiran-butiran air mata meluncur dari mataku.Aku membiarkan air mata rindu itu meluncur.Aku tidak peduli.Aku ingin aku menangis.Dan aku ingin Erika melihat aku menangis karena merindukannya. Terlalu merindukannya sampai aku terlalu terbawa akan sakit hatiku. Sakit hati apa yang kurasakan? Sakit hati karena terbawa rindu yang mendalam? Ataukah… Sakit hati karena… aku… menduakannya?Belakangan aku menyadari aku telah berkhianat.Berkhianat kepada Erika, cinta sejatiku. Dan Indri, belahan jiwaku.
***
Disinilah aku.Diruang keluarga bersama Indri dan Grace. Kami sedang membicarakan tanggal yang bagus untuk pelamaran. Sampai kemudian handphone Indri berbunyi.Indri memegang tanganku.Aku tahu.Ia memberikan instruksi untukku untuk mengangkatkan handphonenya.
“Handphonenya ditaruh dimana, Ndri?” Tanyaku.
“Di tas, Lan.” Aku segera membuka tas Indri dan menemukan handphonenya yang sedang mati menyala. Aku mengangkatkannya untuk Indri dan kemudian menyerahkan kepada Indri.
“Hallo?” Indri memulai pembicaraan via telepon. Aku dan Grace tentulah memperhatikan Indri yang sedang berbicara diteleponnya karena pembicaraan kami terpotong akibat dering telepon itu.
“Oh mama.Indri lagi dirumah Alan, Ma.Tadi sopir mama yang anterin Indri. Ada apa, Ma?” …… “Oh ya?Terus? Ada kabar?” …… “Hah? 90%? Beneran, Ma? Mama nggak lagi pengen bikin Indri seneng aja kan, Ma?” …… “Jadi mama beneran?Ya udah. Indri langsung pulang sekarang terus kita sama-sama kesana, ya?” …… “Iya, Ma. Iya.Makasih ya, Ma. Dadah…” Indri mengakhiri percakapannya dengan mamanya.Raut wajahnya ceria.Lebih ceria dari yang sering aku lihat.
“Ada apa, Ndri?” Tanya aku penasaran.
“Alan, Grace, tahu nggak mama tadi telpon aku trus bilang apa?” Tanya Indri balik padaku dan Grace.Sepertinya dia memang ingin memberikan semacam kejutan.
“Nggak tahu.” Jawab Grace.
“Trus emangnya ada apa, Ndri? Jawab aku!” Penasaranku bertambah.
“Tadi katanya dokter mata aku telpon mama dan mama bilang ada kemungkinan donor mata sekitar 90% buat aku. Artinya ada kemungkinan besar aku akan segera bisa melihat, Lan! Kemungkinan besar aku bisa melihat wajah kamu! Wajah mama aku! Wajah Grace! Wajah semua orang yang aku sayang!” Jelas Indri. Jelas sekali kebahagiaan yang tergambar diwajahnya.Indri menggenggam erat tanganku.Aku mengelus pipinya.
Ini masih terasa seperti mimpi. Kekasihku yang tidak bisa melihat sebentar lagi akan mendapatkan donor mata dari seseorang yang baik hati. Sekali lagi aku mendapati diriku speechless. Aku menyaksikan Grace dan Indri yang sedang berpelukan saking bahagianya.
“Kita harus segera kasih tahu hal ini ke mama sama papa aku, Ndri.” Sahut Grace yang juga bahagia mengetahui hal itu.
“Iya, Grace. Aku senang sekali.” Jawab Indri. Menyadari aku yang terdiam, Indri kemudian memanggil namaku seperti biasanya. “Alan?”
“I’m here, honey.” Jawabku.Masih seperti bermimpi.
“Kamu tidak senang, Alan?” Tanya Indri yang ragu.
“Mana mungkin aku tidak senang, sayang? Tentu aku bahagia! Karena sebentar lagi kamu akan bisa melihat wajah bahagia yang akan aku tunjukkan ke kamu ketika aku bahagia. Dan sebentar lagi kamu akan melihat kasih sayang aku yang tulus dan dalam ke kamu! Tentu aku bahagia setelah mendengar berita ini, sayang.” Jawabku saking bersemangatnya.
Indri tersenyum lebar.Aku memeluknya.Aku langsung bisa merasakan kebahagiaan dihati Indri.
Tak lama setelah itu, Grace segera menghubungi mama dan papa. Mereka juga senang akan hal ini.
***
Setelah bicara dengan orang tua Indri, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu dengan pihak calon pendonor mata untuk Indri.Kami berjanji untuk bertemu ditempat yang telah ditentukan.Kebahagiaan menyelimuti hati masing-masing kami. Aku, Indri, mama, papa, Grace, maupun orang tua Indri. Kami bersama-sama pergi ke tempat yang telah ditentukan untuk bertemu dengan pihak dari sang pendonor mata.
Sepanjang perjalanan, aku melihat kebahagiaan diwajah Indri.Sungguh kesempurnaan yang luar biasa.
Setibanya kami di tempat yang telah ditentukan itu, kami semua merasa deg-degan. Tidak ada diantara kami yang mengetahui apa yang akan terjadi sebentar.
Kami melihat pihak dari pendonor mata telah duduk menunggu didalam tempat itu.Rasa deg-degan semakin menjadi-jadi.Aku bahkan merasa tangan Indri mulai berkeringat saking gugupnya.
“Selamat siang.”Ucap mamanya Indri kepada kepada pihak pendonor mata itu.Ada 2 orang.Seorang bapak dan seorang ibu.
“Selamat siang.” Sang Ibu membalikkan badan untuk membalas salam dari mamanya Indri.
Aku segera terserang kegelisahan.Aku kenal ibu itu.Bukan kenal. Namun… Sangat mengenalnya.Potongan-potongan ingatan masa laluku sedang menyatukan diri sebelum…
“Bu Helen? Apa kabar, Bu? Lama tidak berjumpa.” Mama mendahului ingatanku.
Bu Helen? Itu… Itu nama mamanya Erika!
“Loh? Bu Anne kan? Baik-baik, Bu. Tidak nyangka ya kita bisa bertemu disini.”Jawab Bu Helen itu.Kegelisahan dalam hatiku semakin menjadi-jadi.
“Oh ya. Ibu pihak pendonornya ya?” Tanya mama.
Raut wajah Bu Helen dengan seketika berubah setelah mendengar pertanyaan mama.
“Kalau begitu, kita langsung ke intinya saja, ya?” Tanya papanya Indri dengan segera.
***
Hal ini terasa seperti mimpi! Bukan! Bukan mimpi! Bahkan lebih baik dari itu.Apa? Apa yang lebih baik dari mimpi untuk menghilangkan hal ini? Aku berteriak dalam hati.Tenggorokanku tercekat.Alam sungguh tidak adil.Bukan ini yang aku inginkan.Aku menginginkan kebahagiaan yang sempurna. Bukan duka cita! Aku tidak percaya akan hal ini! Kepalaku serasa ingin pecah.
Setelah selesai melakukan operasi, tentu saja Erika pergi meninggalkan kami semua. Tidak ada orang yang akan mendonorkan matanya bila mereka masih bisa hidup. Namun hidup Erika tinggal di ambang-ambang.Ketika dokter bertanya apakah operasi Erika dan Indri sudah boleh dijalankan, orang tua Erika menyetujui.Mereka berkata, tidak apa-apa.Mereka sudah merelakan Erika dan tidak menyalahkan siapapun.Tidak ada yang perlu disalahkan, katanya.Padahal bila kita tengok kebelakang, akulah yang harusnya disalahkan.
Sekarang, Indri sudah bisa melihat.Indri mengagumi wajahku.Indri begitu bahagia.Akupun bahagia. Namun apa yang harus aku rasakan? Berbahagia ditengah dukacita yang dirasakan keluarga Erika? Aku tak tahu harus merasakan apa. Semuanya terlalu berat untukku.
“Sudahlah, Lan. Relakan saja.”
“Bagaimana bisa, Grace? Erika sudah pergi! Erika sudah pergi untuk selama-lamanya. Dan itu semua karena aku! Aku terlalu tidak bernyali untuk menemuinya! Sementara dia?Dia mengorbankan nyawa demi bertemu denganku. Bodoh! Sungguh bodoh aku ini! Erika sang pendonor mata untuk calon istriku. Aku terlalu bodoh, Grace!”Aku menyesali ketakutanku selama ini yang akhirnya membawa Erika pada akhir hidupnya.Aku terlalu payah. Aku ini… Tidak lain adalah seorang pecundang!
***
Belum bisa menerima kenyataan ini, aku memutuskan untuk bertemu dengan orangtua Erika di Manado.Aku sudah berkata jujur kepada Indri.Dia tidak marah.Dia berkata terima kasih karena sudah mau jujur padanya.Dan aku sungguh merasa lega saat ini.Aku seperti orang bodoh yang mencari penjelasan saat ini.Akupun sudah meminta izin kepada Erika untuk pergi ke Manado selama beberapa hari.Indri mengizinkan.Malah Indri berkata semoga aku segera mendapatkan penjelasannya.Aku sungguh beruntung memiliki Indri.Tapi bisa-bisanya aku menduakannya dengan menyimpan perasaan yang mendalam kepada Erika.
Di Manado, memang tidak susah untuk bertemu dengan orang tua Erika. Aku meminta papanya Erika untuk menceritakan kronologis cerita sampai Erika bisa menghembuskan nafasnya yang terakhir.
“Semenjak kamu pergi meninggalkannya, tiada hari yang Erika habiskan tanpa menceritakan kenangannya bersama kamu.Bahkan sering sekali ceritanya diulang-ulang.Namun kami semua mengerti.Itu demi menghilangkan rasa rindunya yang mendalam itu.Erika bahkan sering menangis dikamarnya sebelum tidur jika mengingat kamu.Om tahu dia terlalu mencintai kamu.Lulus SMA, Erika mengumpulkan tekad untuk menemui kamu.Sambil kuliah, Erika menabung untuk pergi ke Jakarta.3 tahun sudah Erika menabung untuk pergi ke Jakarta, akhirnya semua yang dibutuhkannya untuk mencari kamu didapatkannya.Om dan tante disini hanya bisa mendoakannya agar bisa bertemu dengan kamu secepatnya. Setiap hari dia pasti menelepon om dan tante disini. Dia bercerita tentang apa yang terjadi padanya selama di Jakarta. 4 hari setelah berada di Jakarta, Erika akhirnya mendapatkan alamat kamu setelah datang ke kampus kamu di Jakarta. Erika bahkan menanyai orang-orang di kampus tersebut sampai ke pegawai-pegawai tata usahanya.Pengorbanan Erika tidak sia-sia.Erika berhasil mendapatkan alamat kamu.Erika memang tidak menghafal jalan-jalan di Jakarta sehingga Erika sering tersesat dengan salah naik bus, angkot, bahkan alamat yang dia berikan pada sopir taxi kadang sering salah.Satu kali Erika memutuskan untuk naik ojek.Om tidak tahu persis bagaimana ceritanya. Tapi setahu om motor yang ditumpangi Erika itu oleng. Tapi syukurlah tukang ojek yang mengendarai motor itu masih bisa mengatasinya. Setelah berhasil mengendalikan motornya, tukang ojek tersebut tidak menyadari ada mobil yang melaju cepat kearahnya.
“Tukang ojek yang baru selesai mengendalikan motornya yang oleng bingung harus melakukan apa karena mobil yang melaju didepan mereka juga sangat cepat. Tukang ojek itu membelokkan motor itu sehingga menabrak trotoar. Sialnya, mobil yang juga dalam kecepatan luar biasa itu juga membelokkan mobilnya kearah yang sama dengan yang dibelokkan ojek itu. Erika yang awalnya tidak terlalu parah, setelah disambung oleh tabrakan mobil langsung terlempar jauh.Syukurlah Erika masih bisa diselamatkan dan masih bisa bertahan selama beberapa hari walau hanya dalam keadaan koma.Om dan tante memang menyesali Erika yang begitu bersemangat untuk menemui kamu. Dan jujur om juga waktu itu sempat punya perasaan untuk menyalahkan kamu. Namun semenjak tahu kamu adalah salah satu pihak penerima donor mata Erika, apa boleh buat? Semua sudah terjadi.Tidak ada yang perlu disesali dan tidak ada yang perlu disalahkan.Om yakin Erika senang karena akhirnya bisa membahagiakan kamu lewat calon istri kamu.”
Aku menyimak cerita papanya Erika dengan setengah tidak percaya.Erika begitu berkorban untuk menemuiku.Sementara aku malah duduk diam dirumah.Bodohnya aku ini.Menyadari aku belum merespon apa-apa dari ceritanya, papanya Erika melanjutkan.
“Setahu om Erika sering menciptakan lagu dan bahkan menyanyikan lagu untuk kamu.Kalau tidak salah ada dikamarnya.Sebentar ya Om ambilkan.”
Aku menunggu dengan hati gemetar.Masih merasa ini semua mimpi.Papanya Erika kembali dengan sebuah tape recorder dan sebuah buku ditangannya.Tape recorder itu mengingatkan aku pada hadiah pemberian Erika waktu aku berulang tahun yang ke 6 dulu.Aku mengambil kedua barang itu.
“Boleh saya memiliki barang ini, Om?” Tanyaku.
“Tentu.Silahkan bawa saja. Karena mungkin itu satu-satunya kenang-kenangan dari Erika.” Jawab papanya Erika.
Mungkin papanya lupa atau apa namun Erika meninggalkan matanya untuk kebahagiaanku.
“Kalau begitu terima kasih banyak, om.Saya harus segera kembali ke Jakarta.Saya permisi dulu.Sekali lagi terima kasih banyak, om.”
“Ya.Silahkan. Hati-hati dijalan, Alan.” Jawab papanya Erika.
Aku berjalan dengan kehampaan.Masih dengan pengecapan untuk aku sebagai orang yang bodoh dan tak bernyali.
***
“Sungguh, Alan. Ini sungguh tidak apa-apa untuk aku.Aku sudah mengatakannya berulang kali padamu.Aku malah berterima kasih karena kamu sudah mau jujur padaku.Aku tidak menyalahkan kamu sedikitpun, Alan.Trust me!” Kata Indri untuk meyakinkan aku.
Aku hanya bisa tersenyum kecil.Hatiku belum terobati.Masih ada yang mengganjal.Saat ini, Indri sudah bisa melihat. Indri sudah bisa melihatku yang akan menjadi suaminya kelak. Aku bahagia akan itu. Indri sungguh beruntung memiliki mata itu.Namun dibalik itu semua aku masih sungguh-sungguh menyesal pernah menyembunyikan sesuatu dari dia. Namun hatinya begitu tulus setulus malaikat.Dia bahkan menerima aku yang telah menduakannya.Alasannya, aku menduakannya untuk cinta masa kecilnya. Dan katanya Ia yakin cinta sejatinya akan datang padanya dengan sendirinya. Jika memang bukan aku, seseorang yang lebih baik pasti akan menemaninya satu saat nanti. Aku bangga pada Indri.Dan tentunya semakin mencintainya. Ohh Indri…
***
DIARY ERIKA
“Alan memang sudah meninggalkan aku.Tapi aku tidak boleh menyerah.Aku akan tetap berusaha untuk menemuinya bagaimanapun itu.”
“Iya, Erika! Teruslah menabung untuk cintamu! Kamu harus temui Alan. Kamu tidak akan menemui cinta sejati kamu jika kamu tidak mau berusaha. Teruslah berusaha, Erika!”
“Tabunganku hampir cukup untuk ke Jakarta! Tekadku sudah bulat! Alan, I’m coming ”
“Aku sudah diJakarta saat ini. Aku akan terus mencari Alan. Aku tidak akan menyerah hanya karena hal sepele seperti ini.”
“Susah sekali mendapatkan alamat Alan. Tapi aku akan tetap berusaha. Yeah!”
“I got it! I got it! Akhirnya aku dapetin alamat Alan juga. Aku harus segera kesana! Sekarang juga!”
LAGU-LAGU ERIKA DALAM TAPE RECORDER
“When you’re gone, the pieces of my heart are missing you
When you’re gone, the face I came to know is missing to you
When you’re gone, the words I need to hear to always get me through the day
And make it okay, I miss you”
“You, me, we’re face to face but we don’t see I to eye
Like fire and rain… You can drive me insane…
But I can’t still mad at you for anything…
Like venus and mars… We’re like different stars…
You’re the harmony to every song I sing…
And I wouldn’t change a thing”
***
Aku menyadari cinta Erika dan Indri yang begitu besar untukku.Dan seharusnya mereka juga menyadari betapa besar cintaku pada mereka. Merasa tidak adil karena meduakan belahan jiwaku, Indri, dan sulit jika mengingat cinta sejatiku, Erika. Aku tidak dapat membagi hatiku.Sehingga harus ada yang terkorbankan. Aku tidak pernah menyangka Erika yang akan pergi. Kupikir, akulah yang akan meninggalkan dunia ini. Tapi aku akhirnya sadar dua hati akan patah bila aku yang pergi. Sekarang, dengan keadaan yang seperti ini aku hanya bisa mengenang Erika dan melanjutkan kehidupan bahagiaku yang sempurna dengan Indri.Indri bisa melihat sekarang.Melihat dengan mata Erika.Dengan matanya yang berwarna coklat.Aku merasa sempurna.Karena aku bisa memiliki Indri yang selalu ingin kubahagiakan, dengan mata Erika padanya.Aku sering bertanya apakah Indri cemburu.Namun Indrilah yang menyadarkan aku.Inilah satu-satunya kenangan berharga dari Erika untukku.Jadi, selama itu membuatku bahagia, mengapa Indri harus cemburu?Indri sungguh perhatian.Egois? Mungkin! Tapi aku tak merasakannya. Aku rasa aku bukan orang yang egois! Karena, orang yang seharusnya mengatakan aku egois tidak merasakan demikian.So, this is my paradise. Erika, I still see your love there. In “Indri”’s eyes. Thank you. I miss you.
--- SELESAI ---
Disusun oleh: Yurike Kaunang
Kelas: IX.I
Aku melihat kepedihan terpancar diwajahnya, terlebih dimatanya, dimata coklatnya.Mata itu.Mata yang aku cintai.Mata yang membuat aku tidak menginginkan untuk menyakitinya. Meski senyum terukir dibibirnya, aku merasakan rasa berat yang ia pendam. Aku tahu dia tidak menginginkan aku untuk pergi dan dia tahu aku tidak ingin meninggalkannya. Namun ini untuk masa depanku dan untuk kebahagian orang lain yang aku cintai. Apa yang harus aku lakukan? Memeluknya?Menciumnya?Mengatakan aku mencintainya? Tidak! Terlalu cepat untukku.Terlalu cepat untuk anak berumur 6 tahun.Tapi aku yakin dia tahu itu.Aku yakin dia cinta aku meski saat ini belum saatnya.Aku tahu itu.Bibirku memberikan senyuman pahit tanda tak mau berpisah. Aku tak kuasa menahan rasa ini, aku ingin memeluknya… Dan tanpa bisa ku cegah, kedua tanganku merangkulnya.Mendekapnya dalam pelukanku. Aku merasakan ia juga memelukku. Ia tidak ingin aku pergi.
“Kamu nggak usah takut, Putri Kecilku. Aku akan kembali. Aku akan kembalil buat kamu. Karena aku sayang sama kamu. Tapi kamu janji kan mau nunggu aku?” tanyaku dibalik telinganya.
“Tentu, Lan. Aku pasti akan selalu menunggu kamu. Jangan kecewakan aku ya, Lan.” Jawabnya.
Aku melepaskan pelukanku kemudian memegang tangannya.“Aku janji Putri Kecilku.”Kataku bersumpah padanya. Pada Putri Kecilku. Padanya, pada Erika.“Aku pergi dulu, ya.”Aku beranjak meninggalkannya.Ia diam seribu bahasa.
“Alan!” Erika menyebut namaku dalam keheningan itu.Aku berbalik dan menghadapkan wajahku untuk menatap mata coklatnya sekali lagi.
“Aku sedih kita harus berpisah dihari istimewa ini.Dihari ulang tahun kamu.Maaf, aku hanya punya ini untukmu. Aku harap kamu suka.” Ujar Erika. Ia memberikan sebuah kotak persegi yang dihias motif bunga cerah dan diikat sebuah pita merah jambu muda. Aku menerimanya dengan senang hati dan dengan rasa berat hati karena harus meninggalkannya.Kali ini aku yang terdiam.Speechless.Kemudian aku masuk kedalam mobil.
Tapi aku terpancing untuk berkata, “Jaga diri kamu baik-baik, Erika!” teriakku dari dalam mobil.Erika membisu.Kali ini Ia yang terdiam lagi. Tidak mengatakan sepatah katapun bahkan ketika mobil yang aku tumpangi mulai berjalan lebih jauh darinya.
“AKU SAYANG KAMU, ALAN!” Erika berteriak.Mustahil bagiku untuk mendengarnya dari kejauhan.Tapi hatiku tertinggal disana.Begitupun telingaku.Begitupun mataku.Aku masih merasakannya.Aku masih mendengarnya berteriak. Berkata ia menyayangiku. Aku masih melihatnya.Masih melihat tubuh mungilnya, rambut hitamnya, bibir kecilnya, dan… mata coklatnya.Aku belum sepenuhnya merelakan perpisahan ini.
***
15 tahun kemudian…
“Terima kasih, Alan.”
“Sama-sama.Itu tugasku.Kamu tidak perlu berterima kasih.Aku tulus padamu.”Kataku padanya.
Indri.Itulah namanya.Gadis yang selama 4 tahun ini menemani hari-hariku.Aku mencintainya.Tidak pernah terpikir olehku untuk mempermainkannya meskipun dengan keterbatasannya yang membuat banyak orang berpikir dia hidup hanya untuk dipermainkan.Ya.Indri buta.Pertama kali aku bertemu Indri adalah saat SMA.Ia tidak sekolah disekolah yang sama denganku. Melainkan dengan pekerjaan papanya yang adalah seorang direktur diperusahaan keluarganya, mamanya yang merupakan rektor disebuah universitas terkenal di Jakarta, dan kekayaan keluarganya yang tidak akan habis sampai keturunan ke 50, bukan perkara besar untuk menyekolahkan Indri dengan keterbatasannya itu. Indri bersekolah home-schooling khusus anak-anak tuna netra.Saat itu, Indri sering melewati sekolahku setiap siang hari.Aku melihatnya duduk santai didalam mobilnya, memakai kacamata hitam, dan dengan cueknya menghadap kedepan.Rasa penasaranku bertambah ketika dengan sengaja aku mengikutinya sampai kerumahnya.Dua hari setelah kejadian itu, aku dan Indri saling kenal. Setelah 2 bulan berkenalan dan berteman---tentu aku sudah mengetahui bahwa Ia mengenakan kacamata karena ia buta---akhirnya aku menyatakan cinta padanya. Aku menginginkannya untuk menjadi pacarku.Ia menerimaku dengan senang hati. Sempat satu kali Ia bertanya kepadaku apakah aku benar-benar menyayanginya atau aku hanya mempermainkannya. Namun dengan lancar aku menjawab, aku tidak pernah punya hubungan main-main dengan siapapun.Jadi, jika aku memintanya untuk menjadi pilihan hatiku, artinya dialah yang aku mau.Aku tulus mencintainya tanpa balasan atau karena iming-iming harta kekayaan keluarganya. Tapi aku menerimanya apa adanya.
Sejak lahir, mata Indri sudah tidak berguna. Setiap detik dalam hidupnya, Ia hanya berharap mendapatkan berita baik bahwa ada yang ingin mendonorkan matanya kepada dirinya. Namun penantiannya selama 20 tahun tidak kunjung datang. Hampir disetiap kesempatan jika kami bersama, Indri akan mengatakan agar aku tidak meninggalkannya.
“Aku terlalu takut untuk tinggal sendiri, Lan.Selama ini kamu yang selalu ada buat aku.Aku nggak pernah mau mengecewakan kamu.Dan, aku harap kamu juga nggak akan mengecewakan aku.”
Yang aku bisa katakan hanya, “Aku nggak tahu apakah kita ditakdirkan untuk bersama atau tidak.Tapi, satu hal yang aku tahu. Aku akan menyayangimu saat ini dan sampai selamanya. Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Saat itulah aku melihat senyum manis yang aku gemari menghiasi wajahnya yang mungil. Ia tersenyum pada udara, dan… padaku. Pada kesetiaanku.
“Kamu mau ajak aku kemana sih? Kamu tidak repot membantu aku untuk turun dari mobil, menuntun aku berjalan?Me…” aku memotong perkataan Indri.
“Berhenti berbicara seperti itu.Bukan baru satu kali aku mengatakan aku tulus padamu.Cobalah percaya padaku, Ndri.Kita bukan baru sebulan bersama.Melainkan 4 tahun!” tegasku lagi.Selalu dengan halus.
Dan lagi-lagi aku mendapatkan senyum yang aku gemari.Senyum yang selalu membuat hatiku tentram.Senyum yang selalu membuat aku beruntung mendapatkannya.
“So, kita ada dimana sekarang, Harlan Prasetya?”Tanya Indri lagi.
“Ayo kita masuk.”Ajakku.Aku berencana memberikan surprise padanya.Hari ini anniversary hubungan kami yang sudah menginjak tahun ke empat.
“Aaalllaaannn… Jangan buat aku penasaran gini bisa nggak, sih?” rengek Indri.
“Nggak.Hahaha.”Aku menahan tawaku melihat wajahnya yang merah padam karena kesal aku belum memberitahu kemana aku membawanya.Setelah sampai tepat ditempat yang aku inginkan, aku menuntunnya untuk duduk.“Sekarang, ayo duduk.”Kataku pada Indri.
Indri mengikuti instruksiku.Meski sebal, aku melihat kebahagiaan terpancar diwajahnya.Aku yakin Indri bahagia hari ini.Dan aku tidak mau bahagia itu luntur. Aku akan membuat bahagia itu menjadi berharga.
“Sekarang bilang ke aku, Lan.Kita ada dimana?Ayo dong.Jangan manfaatin kekurangan aku ini untuk bikin sesuatu yang aneh-aneh.Aku nggak suka.”Indri mengancamku.
“Aku nggak akan buat yang aneh-aneh kok.Malah taruhan.Kamu pasti akan suka dengan kejutanku.”Kata ku penuh percaya diri.
Saat ini, aku dan kekasihku, Indri berada ditaman mawar punya tanteku.Aku tidak tahu harus mencari tempat romantis dimana lagi. Akhirnya aku menulis status di twitter tempat apa yang tepat untuk memberikan kejutan pada kekasih pada hari ulang tahun masa pacaran kami. Banyak yang memberikan tanggapan dengan membawanya ke taman atau tempat yang dipenuhi bunga. Karena banyak gadis yang suka bunga. Tidak tahu harus kemana, akhirnya aku membujuk tanteku untuk meminjamkan taman mawarnya---sebagai gantinya aku harus memberikannya tas dengan brand terkenal yang ia inginkan. Dolce et Gabana atau yang diberi symbol D&G. Impossible! Tidak terbayang betapa dalamnya kocek yang harus aku gali untuk membeli tas itu---untuk aku dan Indri.
“Trus apa dong?”Tanya Indri halus.
Aku memetik satu bunga didepanku.Aku menggenggam tangan Indri dan membawanya memegang daun mawar itu---tidak mungkin rasanya aku menyuruhnya untuk memegang tangkainya yang penuh dengan duri.Tanpa aku konstruksikan, Indri menarik bunga itu dan menciumnya.
“Mawar?” tebak Indri dengan sangat tepat.
“Untukmu.”Jawabku.
“Alan! Ini… Sungguh romantis! Terima kasih.Terima kasih.”Ungkapnya.Aku merasa melayang.
“Tebak ini mawar apa?” Tanyaku.
“Hmm… Dari baunya sih… Itu… Mawar merah?” Tebak Indri.
“Benar, sayang.Kamu tahu apa arti mawar merah?”Tanyaku lagi.
“Kasih sayang!Cinta!”Tebak Indri lagi, dengan tepat lagi.
“Ya.Kasih sayang dari aku.Cinta dari aku, untuk kamu.”Ucapku sambil mengantar tangannya memegang bagian tangkai dari bunga itu yang tak berduri.Aku menggenggam tangannya.“Kamu tahu, saat ini bagian yang kamu pegang adalah tangkai yang tidak ada durinya.Mawar yang melambangkan cinta aku ini bukan melambangkan hubungan yang berjalan mulus.Ada duri dibagian-bagian tangkai ini.Dan kapan saja, kamu ataupun aku bisa menyentuhnya dan merasakan sakit itu. Artinya, hubungan kita tidak akan berjalan semulus apa yang kita bayangkan, apa yang kita inginkan. Dan ketika sakit itu dapat kita atasi, semua akan baik-baik saja. Jika kita bisa menyelesaikan semuanya dengan baik, hubungan kita akan baik-baik saja. Aku cinta kamu.”Jelasku.
Indri diam seribu bahasa.Aku menatap matanya.Mata yang tak berwarna yang membuatku jatuh hati dan ingin membuatnya bahagia.
“Kenapa kamu diam?Is there something wrong?” Tanyaku penasaran.Indri menggeleng. “Then why?” Tanyaku lagi.
“Aku… aku… speechless, Alan. Itu terlalu… Ahh… Aku terlalu beruntung memilikimu. Aku… Terima kasih, Alan.Terima kasih untuk membuatku merasa beruntung memilikimu.Terima kasih telah membuatku menyadari masih banyak hal yang bisa aku lakukan didunia ini.”Ucap Indri dengan terbata-bata.
“You don’t need to thanks to me. Seribu kali aku mengatakan, itu tugasku.I did it with my whole heart. I love you along my life.” Jawabku singkat.
“Kamu berjanji akan mencintaiku selama-lamanya?” Tanya Indri.
“Tidak.”Jawabku.Indri mengerutkan keningnya. Sebelum dia berbicara, aku berkata, “only vampires could love you forever. Aku manusia.Aku bisa mati.Tapi aku akan mencintaimu sampai ajal menjemputku.”Indri tersenyum.
“Kamu buat aku takut.Sekali lagi terima kasih, Alan.” Ucap Indri.
Aku mengecup halus keningnya kemudian memeluknya.Aku tersenyum bahagia.Tapi tetap ada sesuatu yang mengganjal dihatiku.Aku masih menantikan seseorang.Aku masih mencintainya.
***
Tentu, Lan. Aku pasti akan selalu menunggu kamu. Jangan kecewakan aku ya, Lan
Aku sedih kita harus berpisah dihari istimewa ini.Dihari ulang tahun kamu.
AKU SAYANG KAMU, ALAN!!
Suara itu! Aku tersentak dari tidurku.Aku memperhatikan sisi-sisi kamarku yang kelam. Pintu, televisi, komputer, lemari baju, pintu kamar mandi, play station, aku mencoba mengumpulkan isi-isi mimpiku itu dalam otakku. Nihil.Otak bawah sadarku tidak mengizinkan otak sadarku untuk mengobrak-abriknya.Tapi aku masih ingat suara itu.Suara yang selalu memecah konsentrasiku. Dia… Dia Putri Kecilku.
Tok… tok… tok… tok…
“Masuk!”Teriakku dari dalam kamar.
Pintu kamarku terbuka.Aku melihat mamaku masuk kedalam kamar.
“Pagi, Alan.” Sahut mama dengan lembut.
“Pagi, ma.”Jawabku.Aku heran kenapa pagi-pagi begini mama datang ke kamarku.
“Tebak mama bawa siapa.”Mata usil mama mulai muncul.
“Siapa?”Tanyaku heran.Tidak biasanya pagi-pagi begini mama memberikan surprise padaku.
“Masuk, Grace.” Mama memberi kode untuk masuk pada Grace, kakakku yang berumur 3 tahun lebih tua dariku.
Grace masuk dengan membawa seseorang kedalam kamarku. Indri! Tidak heran lagi.
“Selamat pagi, Alanku.”Ucap Indri dengan senyuman kepadaku. Aku tersenyum kepadanya---meskipun aku yakin sekali ia tidak dapat melihat senyumku yang mekar untuk kedatangannya.
“Selamat pagi, Indri sayang.What are you doing this morning here?” Tanyaku heran.Lebih heran lagi ketika melihat Indri yang tersenyum usil padaku.
Grace membawa Indri mendekat ke tempat tidurku. Mama mengikuti dari belakang. Grace menginstruksikan Indri untuk duduk didekat tempat tidurku. Akupun bangkit dan mendekat pada Indri.
“I do nothing. And this is not morning as you mean, honey.” Senyum usil Indri semakin menjadi-jadi dan aku semakin bingung.
“Maksud kamu apa?” Aku bertanya.Kepada Indri, Grace, dan Mama.Dan seperti telah diperintahkan, aku segera menatap jam dindingku yang tergantung di atas televisi kamarku. Jam 12 lewat 5 menit? Apa yang mereka lakukan dikamarku sepagi ini?
“Happy birthday to you.Happy birthday to you.Happy birthday, happy birthday.Happy birthday to you.”Senyum di bibir Indri mengembang.Ternyata aku belum pulih betul dari mimpiku barusan.Hari ini tanggal 19 Oktober.Ini hari ulang tahunku.Papa masuk kedalam kamarku dengan membawa kue ulang tahun kecil dengan angka 22 diatasnya.Aku meniupnya.Semua orang dikamarku tersenyum.Begitupun dengan Indri---aku tidak yakin apakah Indri benar-benar melihatku meniup lilinnya.
“Happy birthday, Alan.” Mama mengucapkan selamat padaku sambil kemudian memberikan kecupan di pipiku.
“Happy birthday, sayang.Wish you all the best.” Indri memberikan ucapan padaku dan kemudian mencium pipiku.Ia memeluku. Aku memeluknya dengan kasih.Aku membisikkan terima kasihku ditelinganya. Aku bisa merasakan ia tersenyum.
“Happy birthday, Lan.Wish you all the bestlah. Makin sayang sama Indri ya.” Grace memberikan salam padaku. Ketika Ia menyebut nama Indri, ia melirik Indri. Indri tersenyum sambil memamerkan gigi-giginya.
“Bisa aja lo ah.Thanks ya.” Jawabku. Grace mengangkat keningnya dan kemudian memamerkan cengirannya.
Papa yang sedari tadi berdiri didekat mama meletakkan kue didekat tempat tidurku dan kemudian memberikan ucapan selamat ulang tahun padaku.Aku memeluknya.Tidak biasa papa bertingkah seperti ini.Papa kemudian melepaskan pelukannya dengan mata berkaca-kaca.It’s kind a weird.
“Mama udah nyiapin makanan dibawah. Ayok dimakan.”Ajak Mama.
“Mama kayak nggak tahu aja deh. Liat nih jam berapa!” Godaku.
Semua orang dikamarku melihat kearah jam didinding---kecuali Indri tentunya. Mama terlihat menahan tawa.
“Alan… Apaan sih?Nggak ngehargain banget. Mama kan udah nyiapin susah-susah. Masa nggak dihargain sih?”Indri mengambek.
“Ya udah, ya udah. Yuk.” Ajakku.Spontan semua langsung bergerak.Indri tentu menunggu untuk dituntun.Aku menggandeng tangan Indri dengan tulus.Indri tersenyum bahagia.
Ruang makan terasa lengkap dengan dihadiri semua orang yang kusayang.
“Iih… Ma, lengkap banget ya rasanya.Semua anggota keluarga ada disini.Calon anggota keluarga aja udah ada.” Grace menggoda Indri yang sukses membuat senyuman Indri mengembang.
“Grace apaan sih! Stop flirting me!” Indri mengambek kepada Grace.
“Iih emang beneran kan? Indri emang calon anggota keluarga baru, kan? Siapa juga yang nggak tahu.” Goda Grace lagi.
“Iya, Indri. Kamu nih emang deh. Kamu nggak usah malu-malu lagi sama mama sama papa. Nggak lama lagi juga kamu akan segera sering duduk disini makan dengan kami.” Sambung mama---mama memang berkata Indri tidak usah panggil tante atau om lagi. Tapi panggil mama dan papa saja.
“Maksud mama?”Aku dan Indri bertanya bersamaan.
“Nggak usah kaget gitu dong, Lan.Calm down.” Sahut mama.
“Ya trus maksud mama tuh apa?” Tanyaku semakin penasaran.Aku juga mellihat raut penasaran diwajah Indri.
“Papa dan mama berniat melamar Indri.”Jawab papa dengan singkat, padat, dan jelas.Melamar? Itu tandanya aku akan segera menikah dengan Indri. Aku akan hidup bahagia dengan Indri. Selamanya!
“Papa, papa serius?” Tanya Indri.
“Iya, Indri. Tentu! Papa dan mama sudah memikirkannya dengan sangat matang.”Jawab papa yang menurutku merupakan jawaban yang terlalu teramat jelas.
“Alan!” Indri berseru padaku.Tanpa berkata-kata lagi, aku langsung menggenggam tangannya.Aku tahu dia bahagia atas berita ini.Aku tahu itu dari matanya. Aku turut merasakan kebahagiaan yang sama dengannya. Sebentar lagi aku bisa lebih membahagiakan Indri. “Alan?” Suara Indri kali ini terdengar sedikit ragu. Oh! Mungkin dia heran mengapa aku langsung menggenggam tangannya tanpa berkata-kata.Oh dear! Seandainya kekasihku ini bisa melihat bagaimana aku bahagia mengetahuinya. Kebahagiaanku tentu akan terasa lengkap.
“Iya, sayang.Aku tahu.Aku bahagia.”Bisikku ditelinganya. Aku membisikkannya karena yakin Grace akan segera menggodai kami.
“Ciye… Yang udah mo marriednih ye… Pake bisik-bisikkan segala lagi. Suit… Suit…” Dan dugaanku tidak salah. Belum semenit aku membisikkan kebahagiaanku pada Indri, Grace sudah mengeluakan godaannya yang membuat Indri langsung tersipu.
“Grace. Kamu juga dong bawa siapa itu laki-laki yang pernah kamu kenalkan ke mama dan papa?Revo?Rivo?”Balas papa.Itu sudah sedikit membalaskan dendamku.
“Revy, Pa.” Jawab Grace malu-malu. Kakakku satu-satunya ini memang belum pernah memperkenalkan pilihan hatinya kepada mama dan papa.Ya, baru sekali sih.Itu juga katanya cuma mau ngobrol saja dan belum resmi pacaran meskipun aku tidak yakin dengan alasannya yang tidak masuk akal itu karena mereka terlalu dekat.
“Iya. Revy! Ajak dia juga dong.Sekali-sekali dinner bareng kita. Supaya papa juga bisa kenal dia lebih dekat.” Ledek papa lagi.
“Papa! Udah ah… Grace lagi nggak mau digodain gini.” Grace mengambek dengan senyuman kecil menghiasi wajah kuning langsatnya itu.
“Makanya jangan ngeledek kalo nggak mau diledek!”Balas ku. Grace tersenyum kecut. Langsung kualihkan pandanganku pada kekasihku yang tangannya masih berada dalam genggamanku.Aku masih melihat raut wajah bahagia terpancar disana.Aku tak bisa memungkirinya.Indri sangat mencintaiku dan bahkan terlalu mencintaiku.Aku tidak pernah tega membiarkan senyum bahagia itu pudar.Terpikir dibenakku sedikitpun tidak pernah.Bahwa ternyata hatikupun terlalu mencintainya dan tak ingin melepasnya.Ganjalan kembali bertumbuh dihatiku.
***
Setelah mengantar Indri pulang kerumahnya pagi itu, aku kembali masuk kedalam tempat tidurku. Pikiranku sudah tersusun dengan baik setelah surprise yang diberikan Indri, mama, papa dan Grace tadi. Kebahagiaan menyelimuti otakku. Kebahagiaan yang akan terwujud, senyum indah diwajah Indri… Aku bisa membayangkan semua kebahagiaan yang akan terwujud antara aku dan Indri nanti, sebelum ingatan itu datang menyerang kebahagiaanku. Keresahan memanipulasi pikiranku.
Aku sadar. Suara itu! Suara yang menjerit berkata menyayangiku 15 tahun yang lalu. Suara Putri Kecilku. Erika. Tiba-tiba kerinduan menghampiriku. Apakah Erika tahu aku akan segera menikahi Indri, kekasihku? Tahukah dia? Kalimat terakhir yang diucapkan Erika padaku 15 tahun lalu adalah bahwa ia menyayangiku. Masihkah dia? Lalu… Sedang apa dia sekarang? Apakah dia juga seperti aku?Aku yang merindukannya?Dua kemungkinan menghantuiku. Kemungkinan ia telah mendapatkan belahan jiwa yang sesungguhnya yang membuatnya melupakanku dan tidak merindukanku sama sekali, dan kemungkinan bahwa sampai saat ini Ia masih merindukan aku dan terus berusaha menemuiku. Ah… Ingin rasanya aku menemuinya.Memeluknya.Melepas rinduku selama 15 tahun terakhir. Sisi lain hatiku menolak! Aku terlalu takut menemui Erika. Tidak mungkin aku menemuinya untuk memberitahu aku akan segera menikah. Mungkin saja Ia akan segera melemparku. Menendangku.Membunuhku. Dan mungkin menggerogoti otaknya agar tak akan pernah memikirkan aku lagi. Ah… Terlalu sulit untukku.Maafkan aku, Erika.
Kakiku terayun menuruni tempat tidur.Menyusuri sudut kamarku.Membuka lemari pakaianku.Aku bingung.Apa yang aku lakukan? Otakku bekerja dengan keras.Memacu segala otot-otot badanku untuk membongkar lemari pakaianku.Kulitku menyentuh sebuah permukaan.Halus dan dingin.Kali ini aku merasa otakku tidak memprogram seluruh bagian tubuhku lagi.Kali ini aku yang ambil alih.Aku menarik benda tersebut.Sebuah kotak berbentuk persegi dengan motif bunga cerah menghiasinya disertai dengan pita berwarna merah jambu muda. Pemberian sang Putri Kecilku, Erika. Terlalu jahat aku ini bila aku melupakan pemberian ini.
Aku sedih kita harus berpisah dihari istimewa ini.Dihari ulang tahun kamu.Maaf, aku hanya punya ini untukmu.Aku harap kamu suka.
Ya.Mungkin aku memang terlalu jahat jika melupakan pemberian ini.Tapi aku juga merasa terlalu sakit untuk mengenang hal itu.Aku mendapati diriku yang tersungkur dilantai bersandar dilemariku.Aku tak tahu kenapa.Tapi sebagai seorang laki-laki, aku merasa aku terlalu cengeng.Perlahan aku kembali mengintip bingkisan tersebut.Sebuah foto.Yang pertama aku lihat adalah sebuah foto.Foto aku dan Erika.Rasa rinduku berkurang sedikit ketika aku memperhatikan senyumnya dan mata coklatnya yang terlihat jelas difoto ini.Ya.Foto ini memang masih terlalu bagus untuk foto yang telah didiamkan selama 15 tahun.Aku melihat aku menggandeng tangan Erika. Aku melihat aku adalah seorang anak berusia 6 tahun yang sungguh bahagia. Namun tak sebahagia itu lagi ketika aku harus berpisah dan tersakiti setiap kali mengingat akan hal itu. Terselip sebuah kertas di dalam kotak itu sebelum aku mengambil tape recorder yang ada disitu. Sungguh aku lupa akan apa yang tertulis dalam kertas itu. Dan aku lupa tentang apa yang terekam dalam tape recorder itu. Teganya aku, batinku.
Alan, ini foto kita berdua waktu kamu datang kerumahku untuk mengadopsi salah satu kelinciku tapi mamaku tidak mengizinkanmu. Sebagai gantinya, mama mengambil foto kita berdua. Aku memberikan yang satu ini untukmu agar kamu tidak akan pernah lupa masa-masa kita ketika kita bersama meskipun kita terpisah jauh (Jakarta dan Manado sungguh jauh untukku, Alan). Aku punya beberapa lagi.Akan aku bagikan padamu lagi jika kita bertemu. Aku yakin kok kita akan bertemu lagi. Kamu kan udah janji akan kembali untuk aku. Kalau begitu, semoga hidupmu bahagia ya, Alan. Dan jangan pernah lupakan aku.Rindukan aku disetiap saat. Aku akan selalu merindukanmu. Putri Kecilmu, Erika.
ERIKA!!! Aku mungkin akan selalu merindukanmu disetiap helaan nafasku! Namun hatiku telah terbagi. Aku telah memiliki orang lain. Aku sangat mencintainya.Tapi, kau harus tahu.Aku juga… sangat mencintai… dirimu.Apa? Apa yang aku pikirkan? Apa yang aku rasakan? Tidak! Tidak!
Setelah itu aku tidak berniat untuk mendengarkan suara yang mungkin masih terekam dalam tape recorder itu.Namun rasa rinduku lebih besar dari itu.Aku mengambilnya.Mulai mengaktifkannya. Ajaib! Barang itu ternyata masih berguna.
Halo Alan! Kamu mau pergi ya?Kamu kok jahat banget sih mau ninggalin aku sendiri disini?Aku tuh pasti bakalan merindukan kamu.Aku ingin meminta mama dan papamu untuk tetap membiarkanmu tinggal disini. Tapi… Ya, aku nggak bisa. Aku tahu ini juga demi masa depan kamu. Ini aku persembahkan sebuah lagu buat kamu.Tapi maaf ya.Ini belum selesai.Aku dikejar waktu. Terlalu susah untuk mendapatkan kata-kata dan melodi untuk diberikan kepada kamu. Tapi aku harap kamu suka.
Aku ingat! Aku ingat Erika yang begitu terobsesi untuk menjadi seorang penyanyi.Sejak umur 3 tahun dia sudah belajar menyanyi dan bermaini piano dari Om-nya.Suaranya merdu.Tidak terbayang betapa merdunya suaranya saat ini.Pasti lebih merdu dari sebelum aku meinggalkannya.Aku kembali sakit hati.Sebaiknya aku melanjutkan rekaman Erika itu.
“Sakit. Itu yang aku rasakan, ketika kau harus meninggalkanku.
Aku takut kau akan melupakanku. Aku terlanjur sayang padamu.
Akankah kita bersama lagi?Aku berdoa pada Tuhan.
Semoga kita tak berakhir sampai disini.
Oh Tuhan bantu aku menahan perasaan ini.
Oh Tuhan buat dia selalu mengingatku.
Karena aku terlanjur sayang.Karena aku terlanjur cinta.”
Itu lagu aku, Lan. Semoga kamu suka.Jangan pernah lupakan aku, ya.Aku sayang kamu.
Nyanyiannya membuat aku melamun.Sungguh seperti sebuah suara seorang peri.Nyanyiannya membuat aku tidak percaya bahwa yang menyanyikan itu adalah seorang gadis kecil berumur 6 tahun.Aku sungguh merindukannya.
Dan mungkin rindu itulah yang membuat butiran-butiran air mata meluncur dari mataku.Aku membiarkan air mata rindu itu meluncur.Aku tidak peduli.Aku ingin aku menangis.Dan aku ingin Erika melihat aku menangis karena merindukannya. Terlalu merindukannya sampai aku terlalu terbawa akan sakit hatiku. Sakit hati apa yang kurasakan? Sakit hati karena terbawa rindu yang mendalam? Ataukah… Sakit hati karena… aku… menduakannya?Belakangan aku menyadari aku telah berkhianat.Berkhianat kepada Erika, cinta sejatiku. Dan Indri, belahan jiwaku.
***
Disinilah aku.Diruang keluarga bersama Indri dan Grace. Kami sedang membicarakan tanggal yang bagus untuk pelamaran. Sampai kemudian handphone Indri berbunyi.Indri memegang tanganku.Aku tahu.Ia memberikan instruksi untukku untuk mengangkatkan handphonenya.
“Handphonenya ditaruh dimana, Ndri?” Tanyaku.
“Di tas, Lan.” Aku segera membuka tas Indri dan menemukan handphonenya yang sedang mati menyala. Aku mengangkatkannya untuk Indri dan kemudian menyerahkan kepada Indri.
“Hallo?” Indri memulai pembicaraan via telepon. Aku dan Grace tentulah memperhatikan Indri yang sedang berbicara diteleponnya karena pembicaraan kami terpotong akibat dering telepon itu.
“Oh mama.Indri lagi dirumah Alan, Ma.Tadi sopir mama yang anterin Indri. Ada apa, Ma?” …… “Oh ya?Terus? Ada kabar?” …… “Hah? 90%? Beneran, Ma? Mama nggak lagi pengen bikin Indri seneng aja kan, Ma?” …… “Jadi mama beneran?Ya udah. Indri langsung pulang sekarang terus kita sama-sama kesana, ya?” …… “Iya, Ma. Iya.Makasih ya, Ma. Dadah…” Indri mengakhiri percakapannya dengan mamanya.Raut wajahnya ceria.Lebih ceria dari yang sering aku lihat.
“Ada apa, Ndri?” Tanya aku penasaran.
“Alan, Grace, tahu nggak mama tadi telpon aku trus bilang apa?” Tanya Indri balik padaku dan Grace.Sepertinya dia memang ingin memberikan semacam kejutan.
“Nggak tahu.” Jawab Grace.
“Trus emangnya ada apa, Ndri? Jawab aku!” Penasaranku bertambah.
“Tadi katanya dokter mata aku telpon mama dan mama bilang ada kemungkinan donor mata sekitar 90% buat aku. Artinya ada kemungkinan besar aku akan segera bisa melihat, Lan! Kemungkinan besar aku bisa melihat wajah kamu! Wajah mama aku! Wajah Grace! Wajah semua orang yang aku sayang!” Jelas Indri. Jelas sekali kebahagiaan yang tergambar diwajahnya.Indri menggenggam erat tanganku.Aku mengelus pipinya.
Ini masih terasa seperti mimpi. Kekasihku yang tidak bisa melihat sebentar lagi akan mendapatkan donor mata dari seseorang yang baik hati. Sekali lagi aku mendapati diriku speechless. Aku menyaksikan Grace dan Indri yang sedang berpelukan saking bahagianya.
“Kita harus segera kasih tahu hal ini ke mama sama papa aku, Ndri.” Sahut Grace yang juga bahagia mengetahui hal itu.
“Iya, Grace. Aku senang sekali.” Jawab Indri. Menyadari aku yang terdiam, Indri kemudian memanggil namaku seperti biasanya. “Alan?”
“I’m here, honey.” Jawabku.Masih seperti bermimpi.
“Kamu tidak senang, Alan?” Tanya Indri yang ragu.
“Mana mungkin aku tidak senang, sayang? Tentu aku bahagia! Karena sebentar lagi kamu akan bisa melihat wajah bahagia yang akan aku tunjukkan ke kamu ketika aku bahagia. Dan sebentar lagi kamu akan melihat kasih sayang aku yang tulus dan dalam ke kamu! Tentu aku bahagia setelah mendengar berita ini, sayang.” Jawabku saking bersemangatnya.
Indri tersenyum lebar.Aku memeluknya.Aku langsung bisa merasakan kebahagiaan dihati Indri.
Tak lama setelah itu, Grace segera menghubungi mama dan papa. Mereka juga senang akan hal ini.
***
Setelah bicara dengan orang tua Indri, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu dengan pihak calon pendonor mata untuk Indri.Kami berjanji untuk bertemu ditempat yang telah ditentukan.Kebahagiaan menyelimuti hati masing-masing kami. Aku, Indri, mama, papa, Grace, maupun orang tua Indri. Kami bersama-sama pergi ke tempat yang telah ditentukan untuk bertemu dengan pihak dari sang pendonor mata.
Sepanjang perjalanan, aku melihat kebahagiaan diwajah Indri.Sungguh kesempurnaan yang luar biasa.
Setibanya kami di tempat yang telah ditentukan itu, kami semua merasa deg-degan. Tidak ada diantara kami yang mengetahui apa yang akan terjadi sebentar.
Kami melihat pihak dari pendonor mata telah duduk menunggu didalam tempat itu.Rasa deg-degan semakin menjadi-jadi.Aku bahkan merasa tangan Indri mulai berkeringat saking gugupnya.
“Selamat siang.”Ucap mamanya Indri kepada kepada pihak pendonor mata itu.Ada 2 orang.Seorang bapak dan seorang ibu.
“Selamat siang.” Sang Ibu membalikkan badan untuk membalas salam dari mamanya Indri.
Aku segera terserang kegelisahan.Aku kenal ibu itu.Bukan kenal. Namun… Sangat mengenalnya.Potongan-potongan ingatan masa laluku sedang menyatukan diri sebelum…
“Bu Helen? Apa kabar, Bu? Lama tidak berjumpa.” Mama mendahului ingatanku.
Bu Helen? Itu… Itu nama mamanya Erika!
“Loh? Bu Anne kan? Baik-baik, Bu. Tidak nyangka ya kita bisa bertemu disini.”Jawab Bu Helen itu.Kegelisahan dalam hatiku semakin menjadi-jadi.
“Oh ya. Ibu pihak pendonornya ya?” Tanya mama.
Raut wajah Bu Helen dengan seketika berubah setelah mendengar pertanyaan mama.
“Kalau begitu, kita langsung ke intinya saja, ya?” Tanya papanya Indri dengan segera.
***
Hal ini terasa seperti mimpi! Bukan! Bukan mimpi! Bahkan lebih baik dari itu.Apa? Apa yang lebih baik dari mimpi untuk menghilangkan hal ini? Aku berteriak dalam hati.Tenggorokanku tercekat.Alam sungguh tidak adil.Bukan ini yang aku inginkan.Aku menginginkan kebahagiaan yang sempurna. Bukan duka cita! Aku tidak percaya akan hal ini! Kepalaku serasa ingin pecah.
Setelah selesai melakukan operasi, tentu saja Erika pergi meninggalkan kami semua. Tidak ada orang yang akan mendonorkan matanya bila mereka masih bisa hidup. Namun hidup Erika tinggal di ambang-ambang.Ketika dokter bertanya apakah operasi Erika dan Indri sudah boleh dijalankan, orang tua Erika menyetujui.Mereka berkata, tidak apa-apa.Mereka sudah merelakan Erika dan tidak menyalahkan siapapun.Tidak ada yang perlu disalahkan, katanya.Padahal bila kita tengok kebelakang, akulah yang harusnya disalahkan.
Sekarang, Indri sudah bisa melihat.Indri mengagumi wajahku.Indri begitu bahagia.Akupun bahagia. Namun apa yang harus aku rasakan? Berbahagia ditengah dukacita yang dirasakan keluarga Erika? Aku tak tahu harus merasakan apa. Semuanya terlalu berat untukku.
“Sudahlah, Lan. Relakan saja.”
“Bagaimana bisa, Grace? Erika sudah pergi! Erika sudah pergi untuk selama-lamanya. Dan itu semua karena aku! Aku terlalu tidak bernyali untuk menemuinya! Sementara dia?Dia mengorbankan nyawa demi bertemu denganku. Bodoh! Sungguh bodoh aku ini! Erika sang pendonor mata untuk calon istriku. Aku terlalu bodoh, Grace!”Aku menyesali ketakutanku selama ini yang akhirnya membawa Erika pada akhir hidupnya.Aku terlalu payah. Aku ini… Tidak lain adalah seorang pecundang!
***
Belum bisa menerima kenyataan ini, aku memutuskan untuk bertemu dengan orangtua Erika di Manado.Aku sudah berkata jujur kepada Indri.Dia tidak marah.Dia berkata terima kasih karena sudah mau jujur padanya.Dan aku sungguh merasa lega saat ini.Aku seperti orang bodoh yang mencari penjelasan saat ini.Akupun sudah meminta izin kepada Erika untuk pergi ke Manado selama beberapa hari.Indri mengizinkan.Malah Indri berkata semoga aku segera mendapatkan penjelasannya.Aku sungguh beruntung memiliki Indri.Tapi bisa-bisanya aku menduakannya dengan menyimpan perasaan yang mendalam kepada Erika.
Di Manado, memang tidak susah untuk bertemu dengan orang tua Erika. Aku meminta papanya Erika untuk menceritakan kronologis cerita sampai Erika bisa menghembuskan nafasnya yang terakhir.
“Semenjak kamu pergi meninggalkannya, tiada hari yang Erika habiskan tanpa menceritakan kenangannya bersama kamu.Bahkan sering sekali ceritanya diulang-ulang.Namun kami semua mengerti.Itu demi menghilangkan rasa rindunya yang mendalam itu.Erika bahkan sering menangis dikamarnya sebelum tidur jika mengingat kamu.Om tahu dia terlalu mencintai kamu.Lulus SMA, Erika mengumpulkan tekad untuk menemui kamu.Sambil kuliah, Erika menabung untuk pergi ke Jakarta.3 tahun sudah Erika menabung untuk pergi ke Jakarta, akhirnya semua yang dibutuhkannya untuk mencari kamu didapatkannya.Om dan tante disini hanya bisa mendoakannya agar bisa bertemu dengan kamu secepatnya. Setiap hari dia pasti menelepon om dan tante disini. Dia bercerita tentang apa yang terjadi padanya selama di Jakarta. 4 hari setelah berada di Jakarta, Erika akhirnya mendapatkan alamat kamu setelah datang ke kampus kamu di Jakarta. Erika bahkan menanyai orang-orang di kampus tersebut sampai ke pegawai-pegawai tata usahanya.Pengorbanan Erika tidak sia-sia.Erika berhasil mendapatkan alamat kamu.Erika memang tidak menghafal jalan-jalan di Jakarta sehingga Erika sering tersesat dengan salah naik bus, angkot, bahkan alamat yang dia berikan pada sopir taxi kadang sering salah.Satu kali Erika memutuskan untuk naik ojek.Om tidak tahu persis bagaimana ceritanya. Tapi setahu om motor yang ditumpangi Erika itu oleng. Tapi syukurlah tukang ojek yang mengendarai motor itu masih bisa mengatasinya. Setelah berhasil mengendalikan motornya, tukang ojek tersebut tidak menyadari ada mobil yang melaju cepat kearahnya.
“Tukang ojek yang baru selesai mengendalikan motornya yang oleng bingung harus melakukan apa karena mobil yang melaju didepan mereka juga sangat cepat. Tukang ojek itu membelokkan motor itu sehingga menabrak trotoar. Sialnya, mobil yang juga dalam kecepatan luar biasa itu juga membelokkan mobilnya kearah yang sama dengan yang dibelokkan ojek itu. Erika yang awalnya tidak terlalu parah, setelah disambung oleh tabrakan mobil langsung terlempar jauh.Syukurlah Erika masih bisa diselamatkan dan masih bisa bertahan selama beberapa hari walau hanya dalam keadaan koma.Om dan tante memang menyesali Erika yang begitu bersemangat untuk menemui kamu. Dan jujur om juga waktu itu sempat punya perasaan untuk menyalahkan kamu. Namun semenjak tahu kamu adalah salah satu pihak penerima donor mata Erika, apa boleh buat? Semua sudah terjadi.Tidak ada yang perlu disesali dan tidak ada yang perlu disalahkan.Om yakin Erika senang karena akhirnya bisa membahagiakan kamu lewat calon istri kamu.”
Aku menyimak cerita papanya Erika dengan setengah tidak percaya.Erika begitu berkorban untuk menemuiku.Sementara aku malah duduk diam dirumah.Bodohnya aku ini.Menyadari aku belum merespon apa-apa dari ceritanya, papanya Erika melanjutkan.
“Setahu om Erika sering menciptakan lagu dan bahkan menyanyikan lagu untuk kamu.Kalau tidak salah ada dikamarnya.Sebentar ya Om ambilkan.”
Aku menunggu dengan hati gemetar.Masih merasa ini semua mimpi.Papanya Erika kembali dengan sebuah tape recorder dan sebuah buku ditangannya.Tape recorder itu mengingatkan aku pada hadiah pemberian Erika waktu aku berulang tahun yang ke 6 dulu.Aku mengambil kedua barang itu.
“Boleh saya memiliki barang ini, Om?” Tanyaku.
“Tentu.Silahkan bawa saja. Karena mungkin itu satu-satunya kenang-kenangan dari Erika.” Jawab papanya Erika.
Mungkin papanya lupa atau apa namun Erika meninggalkan matanya untuk kebahagiaanku.
“Kalau begitu terima kasih banyak, om.Saya harus segera kembali ke Jakarta.Saya permisi dulu.Sekali lagi terima kasih banyak, om.”
“Ya.Silahkan. Hati-hati dijalan, Alan.” Jawab papanya Erika.
Aku berjalan dengan kehampaan.Masih dengan pengecapan untuk aku sebagai orang yang bodoh dan tak bernyali.
***
“Sungguh, Alan. Ini sungguh tidak apa-apa untuk aku.Aku sudah mengatakannya berulang kali padamu.Aku malah berterima kasih karena kamu sudah mau jujur padaku.Aku tidak menyalahkan kamu sedikitpun, Alan.Trust me!” Kata Indri untuk meyakinkan aku.
Aku hanya bisa tersenyum kecil.Hatiku belum terobati.Masih ada yang mengganjal.Saat ini, Indri sudah bisa melihat. Indri sudah bisa melihatku yang akan menjadi suaminya kelak. Aku bahagia akan itu. Indri sungguh beruntung memiliki mata itu.Namun dibalik itu semua aku masih sungguh-sungguh menyesal pernah menyembunyikan sesuatu dari dia. Namun hatinya begitu tulus setulus malaikat.Dia bahkan menerima aku yang telah menduakannya.Alasannya, aku menduakannya untuk cinta masa kecilnya. Dan katanya Ia yakin cinta sejatinya akan datang padanya dengan sendirinya. Jika memang bukan aku, seseorang yang lebih baik pasti akan menemaninya satu saat nanti. Aku bangga pada Indri.Dan tentunya semakin mencintainya. Ohh Indri…
***
DIARY ERIKA
“Alan memang sudah meninggalkan aku.Tapi aku tidak boleh menyerah.Aku akan tetap berusaha untuk menemuinya bagaimanapun itu.”
“Iya, Erika! Teruslah menabung untuk cintamu! Kamu harus temui Alan. Kamu tidak akan menemui cinta sejati kamu jika kamu tidak mau berusaha. Teruslah berusaha, Erika!”
“Tabunganku hampir cukup untuk ke Jakarta! Tekadku sudah bulat! Alan, I’m coming ”
“Aku sudah diJakarta saat ini. Aku akan terus mencari Alan. Aku tidak akan menyerah hanya karena hal sepele seperti ini.”
“Susah sekali mendapatkan alamat Alan. Tapi aku akan tetap berusaha. Yeah!”
“I got it! I got it! Akhirnya aku dapetin alamat Alan juga. Aku harus segera kesana! Sekarang juga!”
LAGU-LAGU ERIKA DALAM TAPE RECORDER
“When you’re gone, the pieces of my heart are missing you
When you’re gone, the face I came to know is missing to you
When you’re gone, the words I need to hear to always get me through the day
And make it okay, I miss you”
“You, me, we’re face to face but we don’t see I to eye
Like fire and rain… You can drive me insane…
But I can’t still mad at you for anything…
Like venus and mars… We’re like different stars…
You’re the harmony to every song I sing…
And I wouldn’t change a thing”
***
Aku menyadari cinta Erika dan Indri yang begitu besar untukku.Dan seharusnya mereka juga menyadari betapa besar cintaku pada mereka. Merasa tidak adil karena meduakan belahan jiwaku, Indri, dan sulit jika mengingat cinta sejatiku, Erika. Aku tidak dapat membagi hatiku.Sehingga harus ada yang terkorbankan. Aku tidak pernah menyangka Erika yang akan pergi. Kupikir, akulah yang akan meninggalkan dunia ini. Tapi aku akhirnya sadar dua hati akan patah bila aku yang pergi. Sekarang, dengan keadaan yang seperti ini aku hanya bisa mengenang Erika dan melanjutkan kehidupan bahagiaku yang sempurna dengan Indri.Indri bisa melihat sekarang.Melihat dengan mata Erika.Dengan matanya yang berwarna coklat.Aku merasa sempurna.Karena aku bisa memiliki Indri yang selalu ingin kubahagiakan, dengan mata Erika padanya.Aku sering bertanya apakah Indri cemburu.Namun Indrilah yang menyadarkan aku.Inilah satu-satunya kenangan berharga dari Erika untukku.Jadi, selama itu membuatku bahagia, mengapa Indri harus cemburu?Indri sungguh perhatian.Egois? Mungkin! Tapi aku tak merasakannya. Aku rasa aku bukan orang yang egois! Karena, orang yang seharusnya mengatakan aku egois tidak merasakan demikian.So, this is my paradise. Erika, I still see your love there. In “Indri”’s eyes. Thank you. I miss you.
--- SELESAI ---
Disusun oleh: Yurike Kaunang
Kelas: IX.I
Langganan:
Postingan (Atom)
